
Assalamualaikum, Tante Sherin..
Assalamualaikum, adik Quinsha, istrinya sepupu suamiku...
Aku mau memberitahukan kalian berdua, kalau kakek, Tuan William Pramudya, sudah sadar dari koma, dua hari yang lalu. Dan alhamdulillah, ingatan beliau juga sudah kembali, meski belum semuanya. Hanya saja, harus tetap pakai kursi roda. Doakan, agar beliau bisa pulih seperti sedia kala ya...
Itu adalah ketikan Aura di grup WA mereka bertiga. Segera Quinsha dan Sherin berlomba mengirim chat balasan yang melantunkan puji Syukur ke hadirat Yang Maha Kuasa. Atas Karunia-Nya telah memberikan kesadaran kembali kepada William, yang telah lewat sebulan terbaring koma.
Aura: Terima kasih doanya, ya. Kutunggu kehadiran kalian di Jakarta.
Sherin: Amin, semoga ya...
Aura: kamu lagi di mana?
Sherin: Aku lagi di bawah ketiak suamiku ... ups, ketikan ini pasti dibaca pula oleh menantuku ya, jadi malu.
Aura: Tenang saja, menantumu pasti paham, kalau mertuanya lagi kasmaran ... ntar dia juga bakal tau, gimana rasanya kasmaran.
Quinsha, sengaja tak ikut andil dalam pembicaraan keduanya. Ia hanya menyimak saja sambil sesekali tersenyum menatap layar ponselnya.
“Kenapa senyum-senyum, Quin?” tegur Rafardhan. Quinsha terkejut dan sontak terdongak. Suaminya itu berdiri di depannya dengan rambut basah, setelah barusan ia pamit mau mandi.
Rafardhan melempar senyum sambil menggosok-menggosok rambutnya dengan handuk. Titik air yang tersisa di wajahnya, membuat ketampanannya kian memikat. Quinsha baru tahu sekarang, kalau suaminya itu memang tampan alami, bukan hanya tampan di depan kamera saja—yang sudah pasti ada peran make-up di sana, membuat gadis cantik itu tak segera mengalihkan tatapan dari wajah tampan suaminya.
“Aku tampan ya, Quin?”
“Ee ..” Quinsha jadi gugup dan segera melempar tatapan ke sembarang arah. Rafardhan tersenyum dengan sikap gugup Quinsha yang tak bisa disembunyikan itu.
“Ee itu, barusan-, barusan manager kamu telepon.” Untunglah Quinsha segera menemukan topik pembicaraan yang bisa mengalihkannya dari kegugupan. Memang sesaat setelah Rafardhan masuk ke kamar mandi, ponselnya yang tergeletak di atas nakas itu berbunyi.
“Kamu angkat?”
“gak.” Quinsha menggeleng cepat.
“Kenapa?”
“Itu kan privasi kamu. Dan lagi ponselnya pasti dikunci.”
“Memang aku kunci. Dan kata sandinya itu, nama kamu,” kata Rafardhan.
“Mana ada “ Quinsha mengibaskan tangannya, menganggap kalau semua itu hanya bercanda.
Rafardhan hanya tersenyum lalu melangkah hendak keluar kamar. Setiba di pintu ia berkata, “Kalau mas Adam telepon lagi, angkat saja, gak papa.”
__ADS_1
Belum juga Quinsha menjawab, tubuh tampan itu sudah menghilang di balik pintu kamar. Quinsha menghela napas sebentar dan melanjutkan untuk menyimak obrolan Aura dan Sherin di grup, sesekali ia pun ikut bergabung dalam canda tawa kedua sahabatnya, yang kini sudah naik status menjadi keluarganya itu.
Tapi tak lama kemudian, ponsel Rafardhan kembali berdering, dan lagi-lagi itu adalah panggilan dari Adam. Awalnya Quinsha berniat untuk mengabaikan, tapi karena panggilan itu terus berulang, maka Quinsha memutuskan untuk mengangkatnya, apalagi Rafardhan juga sudah mengizinkan.
Benar saja, kalau ponsel itu dikunci. Teringat dengan ucapan Rafardhan baru saja tentang kata sandinya--meski tak yakin—tapi Quinsha segera mengetikkan namanya untuk membuka kunci. Dan hasilnya benar, Kunci terbuka. Quinsha jadi heran hampir ternganga, hingga panggilan dari Adam itu terlewat tak sempat diangkatnya.
“Apa kata mas Adam?” seperti tadi, tiba-tiba Rafardhan sudah berdiri di dekatnya, dan lagi-lagi Quinsha dibuat terkejut karenanya.
“Eh ini, aku-aku belum sempat angkat teleponnya, panggilan sudah berakhir,” tutur Quinsha jadi sedikit terbata.
“Tapi bisa buka kuncinya ‘kan?”
Quinsha mengangguk dan jadi gak berani menatap Rafardhan.
“Apa aku bohong?” tanya pemuda tampan itu sambil tersenyum.
Quinsha hanya menggeleng. Entah kemana perginya kosakata yang Quinsha punya, kenapa kali ini ia hanya bisa mengangguk dan menggeleng saja.
“Quin!”
“Ya ...”
“Sudah jatuh cinta padaku, belum?”
“Ok. Nanti aku tanya lagi, siapa tau, jawabanmu sudah berubah.” Rafardhan segera berbalik hendak keluar kamar, tapi Quinsha menahan dengan ucapannya.
“Kalau kamu mau tidur, tidur saja di sini.”
“Kita akan tidur bersama, maksudnya?” Rafardhan sedikit mengangkat sebelah alisnya.
“Gak. Aku akan tidur di sofa.” Quinsha menunjuk ke arah sofa yang telah tersedia bantal dan selimut di atasnya.
Rafardhan duduk di tepi pembaringan, tak jauh di samping Quinsha. “Tidurlah di sini, Quin. Aku janji tak akan mengusikmu.”
“Tapi ...” Quinsha terlihat sangat ragu dan sekaligus takut.
“Aku hanya mencium orang yang mau aku cium. Apalagi untuk hal yang lebih dari itu,” tegas Rafasya.
“Lebih dari itu, maksudnya?” tanya Quinsha, segera pemikiran buruk bercokol di kepalanya tentang gaya hidup Rafardhan selama ini.
“Jangan Negatif dulu. Duniaku mungkin bisa dikata dunia yang bebas, tapi aku tau batas. Untuk hal yang belum pantas, selama ini aku bisa menghindarinya. Bukan karena aku takut dosa atau haram, mungkin aku belum cukup beriman untuk sampai pada pemahaman takut pada hukum Tuhan. Tapi karena aku ingin menerapkan hidup sehat.” Rafrdhan sesaat menatap Quinsha yang terlihat memerhatikan semua ucapannya dengan seksama.
“Pemahamanku soal agama sangat minim, hanya aku dapat dari ajaran keluargaku sejak kecil. Aku baru banyak mempelajarinya setelah bermain dalam Web series ‘Bertaruh Cinta Di Atas Takdir’ dari sana aku mulai banyak tau, walau pengetahuan itu tetap gak seberapa bila dibandingkan denganmu.”
__ADS_1
Quinsha masih terdiam, jadi tidak tahu harus bagaimana sekarang.
“Tidurlah di sini juga Quin. kalau aku gak bisa memberikan rasa aman padamu saat bersamaku, itu artinya, aku sangat tidak pantas menjadi suamimu.” Rafardhan meraih guling dan diletakkannya di tengah-tengah mereka.
“Rafa!” panggil lirih Quinsha.
“Ya, istriku.” Jawaban Rafardhan itu membuat wajah Quinsha memanas, hingga ia masih tercekat dan tak segera menyampaikan apa yang ingin dikatakan. Hingga Rafardhan menanyakan.
“Kamu mau bicara apa?”
“Jangan curi hatiku sekarang! Aku belum siap,” kata Quinsha sambil menghindari tatapan mata suaminya.
“Kenapa?”
“Karena kita akan berjauhan”
“Berjauhan?” tanya Rafardhan tak mengerti.
“Besok kamu mau pergi ke Bali, untuk lanjut proses Syuting,” kata Quinsha. Meski belum sempat angkat telepon dari Adam, tapi gadis itu sempat membaca pesan dari manajer Rafardhan itu barusan. “Kalau kita jauh, Aku gak akan kuat menahan rindu. Itu terlalu berat,” lanjut Quinsha.
“Memang tau kalau rindu itu berat?” tanya Rafardhan sambil mengulas senyum.
“Ya, aku tau,” sahut Quinsha.
“Pernah merasakan?”
Quinsha hanya mengangguk.
“kapan?” tanya Rafardhan lebih lanjut.
“Kemarin, apalagi saat aku tau kalau yang aku rindukan sedang dekat dengan rekan aktrisnya di sana,” ujar Quinsha sambil menatap Rafardhan.
“Artinya kemarin, bukan Cuma aku yang rindu, tapi kamu juga,” tebak Rafardhan langsung. Quinsha sontak terdiam, dan segera menyesali apa yang telah dikatakan. Karena dengan hal itu rahasianya jadi terbongkar.
“Baiklah. Aku gak akan mencuri hatimu sekarang. Tapi aku akan berdoa pada Tuhan, agar hati istriku ini hanya akan tercurah kepadaku saja.” Rafardhan mengusap pucuk kepala Quinsha dan mengasaknya sejenak.
“Apa aku juga boleh berdoa yang sama?” Quinsha bertanya lirih.
“Harus,” jawab Rafardhan dengan tanpa melepas tatap dari wajah cantik istrinya. “Kita lagi taaruf atau lagi pacaran sekarang?” tanyanya mengingat ajakannya sendiri pada Quinsha tadi siang.
“Pacaran yang halal,” sahut Quinsha.
“Berarti boleh ya ci-um kening?” Dan tanpa menunggu jawaban Quinsha, Rafardhan segera menunduk mencium kening istrinya itu cukup lama. Dan kemudian ia berkata, “Tidurlah, kita lanjutkan obrolan dalam mimpi saja.
__ADS_1
QUinsha mengangguk. “Terima kasih suamiku,” ujarnya.