Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Bab 13


__ADS_3

“Mas Rafka! Rafardhan Malik!” Mereka kembali memanggil dengan lebih keras, meminta perhatian lebih.


“Mas Rafka,” gumam Quinsha. “kenapa mereka memanggil kamu, mas Rafka?” tanya Quinsha pada lelaki di depannya. Di balik maskernya, Rafardhan tersenyum kecil, terasa aneh rasanya bertemu dengan seseorang yang tak cukup mengenalnya. Padahal, siapa sih sekarang yang tidak tahu siapa Rafardhan. Artis papan atas yang banyak membintangi berbagai judul film, sinetron dan juga bintang iklan. Bahkan  tiap perannya dalam dunia akting, semua orang tahu. Tapi ternyata Quinsha tidak tahu.


Dalam web serial yang dibintanginya sekarang, Rafardhan berperan sebagai Mas Rafka, putera Kyai pengasuh pesantren . Pantas jika kedua siswi Ma itu memanggilnya ‘Mas Rafka’ mereka pasti salah satu penggemar Rafardhan dan mengikuti web serial yang tayangannya selalu dinantikan.


“Sepertinya kamu tidak bisa menjawab pertanyaan saya sekarang. Mungkin saya akan kembali untuk menanyakannya lain waktu,” ucap Rafardhan pada Quinsha. Ia merasa harus segera pergi dari sana, karena keberadaannya sudah dikenali.


“Saya kembalikan dompet kamu.” Quinsha kembali teringat pada dompet lelaki tersebut dan hendak mengambilnya dalam tas.


“Tidak perlu!” tolak Rafardhan. “ Mungkin itu bisa mengganti rugi waktu kamu,” lanjutnya dengan santai.


Quinsha terhenyak, dan ia segera menjawab, “ waktu yang telah terbuang, tak akan bisa diganti dengan uang.”


“Demikian juga dengan waktu yang saya pergunakan untuk menemui kamu di sini. Juga tak terhitung dengan uang 'kan?” timpal Rafardhan. Ia membalik ucapan dalam sebentuk pertanyaan.


“Maksudnya?” tanya Quinsha yang gagal memahami maksud ucapan Rafardhan tersebut.

__ADS_1


“kamu pasti paham maksud saya, Bu guru Quinsha Daneen.” Rafardhan menitipkan senyuman terindah di akhir kalimat. Sayangnya Quinsha tak dapat menangkapnya secara utuh, karena wajah tampan itu telah bersembunyi di balik masker lagi.


RAfardhan segera berlalu, setelah berhasil menitipkan tanda tanya dalam diri Quinsha dengan ucapannya itu. Dari kejauhan terlihat mas Adam  turun dari mobil untuk menjemput pemuda tampan itu. Karena ia melihat, ada beberapa siswi yang mulai bergegas ingin menghampiri idola mereka. Adam segera menarik tangan Rafardhan untuk cepat masuk ke mobil. Sebelum terjadi huru-hara, seperti jerit histeris para fans karena melihat tokoh idolanya.


Quinsha berdiri mematung, menyaksikan semuanya. Mungkinkah pesona Rafardhan sudah cukup menghipnotis gadis tersebut? Hingga dia jadi terlupa beberapa hal.  Dari yang melupakan niatnya untuk menanyakan perihal berita di Tabloid, sampai masalah dompet yang malah gagal dikembalikan karena Rafardhan menolak dan buru-buru pergi.


Quinsha menarik napasnya pelan. Ia sama sekali tak menduga kalau Rafardhan akan menemuinya di yayasan, Hanya untuk menayakan ucapan Quinsha di mobil saat itu, tentang masalah ganti rugi waktu.


'Apa ucapanku itu begitu melukai harga dirinya, sampai ia meluangkan waktu untuk menemuiku di sini' itu pertanyaan yang tertanam dalam benak Quinsha sekarang.


Tapi dari raut wajah Rafardhan barusan, ia tak tampak sedang memendam kemarahan. Pemuda itu justru sesekali menebar senyuman. Senyum yang pesonanya tak terbantahkan. Tapi, sememesona apapun seorang Rafardhan, dan kehadirannya yang mengejutkan, Quinsha justru lebih kawatir pada Bayhaki Arfan. Ia takut lelaki itu salah paham, melihat kehadiran Rafrdhan.


“Maaf, Bu. Ibu kenal dengan Rafardhan Malik ya?” tanya salah seorang siswi pada Quinsha. Dan belum juga Quinsha menjawab, siswi yang satunya ikut bertanya. “Apa ibu pacarnya Rafardhan?”


“Astagfirullah!” desis Quinsha dengan raut wajah tak senang.


Melihat itu, siswi yang bertanya tersebut segera minta maaf. “Maaf, Ibu. Tapi saya lihat foto, Ibu bersama Rafardhan di sebuah Tabloid.”

__ADS_1


Quinsha mendengkus samar. Rupanya foto itu telah diketahui oleh beberapa orang, atau mungkin banyak orang. Karena itu memang media pemberitaan yang disebar. Kini gadis itu tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan pemberitaan itu kemudian. Dan yang sangat ia sesalkan kenapa barusan tak sempat menanyakan hal itu pada Rafardhan.


Beberapa siswi itu masih berdiri di depan Quinsha, menatapnya meminta jawaban. Bu guru cantik Nada Hikam itu segera mengalihkan atensinya pada mereka semua setelah beberapa saat terdiam. “Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Rafardhan Malik,” jawabnya.


“Tapi kenapa Rafardhan menemui, Ibu barusan?” pertanyaan itu datang dari siswi yang satunya lagi.


“Untuk sebuah kepentingan.”


“Kepentingan apa, Bu?” tanya yang lainnya lagi. Mereka seakan berbagi tugas untuk menanyakan hal ini pada Quinsha secara bergiliran.


“wah! Saya sedang diinterogasi rupanya,” kelakar Quinsha. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman, tapi tatap matanya menyiratkan ketidaksukaan. Beberapa siswi itu jadi saling pandang. Sepertinya mereka paham dengan bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh ibu guru cantik itu.


“Maaf, Ibu.” Salah satu dari mereka tampil sebagai perwakilan mengutarakan kata maaf. “kami fans berat Rafardhan Malik, Bu,” imbuhnya, memberitahukan.


“Sudah terlihat,” sambut Quinsha.


Mereka sama-sama senyum tersipu. “kalau Ibu punya nomor telepon Rafardhan, beritau kami, Bu!” pinta salah satunya yang menjadi perwakilan dari semuanya. Karena yang lain segera mengangguk, tanda menyetujui ucapan temannya.

__ADS_1


“Saya tidak punya,” sahut Quinsha. Dan ia jadi tersenyum melihat raut kecewa di wajah mereka. “Saya duluan ya,” pamit Quinsha dan tanpa menunggu jawaban, ia segera berlalu dari hadapan mereka semua.


__ADS_2