Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 46


__ADS_3

“Baru pulang, Mas?”


“Sherin, kapan kamu datang?”


Alarick, ditanya malah balik nanya, persis seperti Damaresh. Maklum, mereka satu aliran.


“Tadi sore?” Sahut Sherin seraya mengusap wajah dan lalu menatap jam dinding, sudah lewat jam 12 malam. Ternyata sudah cukup lama ia tertidur di sofa—tempat biasa, ketika menunggu kedatangan suaminya.


“Kenapa sampai pulang selarut ini, Mas?” tanya Sherin penuh selidik. Ia merasa, mungkin Alarick sudah bertemu dengan putranya, hingga terlambat pulang ke rumah.


“Ya, ada sedikit masalah di pabrik,” sahut lelaki itu seraya membuka beberapa kancing kemejanya bagian atas. Badannya terasa lengket setelah seharian berkutat dengan permasalahan yang ada di pabrik.


“Ada hal apa, Mas?”


“Beberapa produk kita, yang sudah didistribusikan ke beberapa daerah, dikembalikan lagi.”


“Kenapa?” tanya Sherin cepat. Seketika kelelahan di wajahnya hilang berganti ketegangan.


“Alasannya kurang begitu jelas.” Alarick menggeleng pelan seraya menarik napas. “Aku tadi bersama para pekerja sibuk memeriksa kembali semua barang, kalau saja ada hal yang tak semestinya. Dan hasilnya, tak ada apa-apa. Karena kami memang memproduksi semuanya, berdasarkan prosedur seperti biasa. Gak ada yang di rubah atau diganti.”


“Lalu kenapa ya, Mas?”


Alarick hanya menggeleng, sementara keningnya berkerut dalam, tanda sedang berpikir keras.


“Apa ada yang menyabotase?” duga Sherin dengan suara bergumam.

__ADS_1


Alarick tak memberi tanggapan. Sebelum dugaan itu dicetuskan oleh istrinya, ia sudah lebih dulu merasakannya. Hanya saja tak ada bukti apa-apa untuk menguatkan dugaan itu.


“Aku akan istirahat, besok pagi-pagi aku akan kembali memeriksa barang-barang di pabrik,” putus Alarik dan segera menuju ke kamar untuk mandi dan beristirahat.


Sherin segera mengekorinya dari belakang sambil berkata, “besok, aku ikut, Mas!”


********


“Quinsha, boleh melanjutkan pembicaraan di sini?”


“Arfan?”


“Ya, saya.”


Quinsha mengangguk patah-patah. Ia bukan tak tahu siapa pemuda di depannya, tapi cara Arfan menyapa, bahkan tak diawali salam sebelumnya, itu sungguh bukan kebiasaan dia. Hal itulah yang membuat heran, hingga masih menanyakan, kawatir kalau yang berdiri di hadapannya, bukan benar-benar Arfan.


“Pembicaraan yang mana, Akhi?”


“Yang sempat tertunda di Darul-Falah.”


Quinsha mengangguk kecil. Masih ada waktu setengah jam, dari jadwal pulang Nada Hikam.


“Ee—begini, kamu—kamu ada waktu atau tidak?” Arfan terlihat gugup dengan pertanyaannya. Bahkan terlihat kalau ia seperti menyesali yang telah terucap. atau lebih tepatnya, ia merasa kalimat itu kurang tepat


Quinsha menatap heran. ‘Ada apa dengan Arfan’ batinnya. Apa sekarang bukan hanya gadis itu yang merasa gugup ketika bertemu dengan Arfan? Tapi pemuda itu juga merasakan demikian.

__ADS_1


Di ujung pemikirannya, Quinsha menggeleng pelan. ‘jangan memikirkan kemungkinan yang tak mungkin, tau diri ya, dia sudah memilih orang lain’ Quinsha sibuk memperingati dirinya sendiri.


“Jadi, gak ada waktu ya?”


Astaga. Ternyata Arfan salah paham, setelah melihat Quinsha menggeleng pelan.


“Bu-bukan. Bukan begitu, Akhi,” ralat Quinsha cepat. “jadi sebenarnya ada keperluan apa?” tanyanya kemudian.


“Saya mau ajak kamu ke rumah saya sekarang,” sahut Arfan.


“Mau ajak saya ke rumah? Sekarang?” Tak percaya dengan apa yang didengar, Quinsha jadi mengulang ucapan Arfan, yang diakhiri dengan tanda tanya besar.


“Ya,” tegas Arfan.


“Untuk keperluan apa?” tanya Quinsha setelah menemukan kesungguhan di wajah Arfan.


“Menemui orang tua saya dan keluarga saya yang lain ... jadi saya mau kenalkan kamu pada keluarga saya ... kita bisa pergi bersama ke sana. Kamu ikut saya, saya pakai mobil.” Arfan bicara terburu-buru sambil sesekali melihat jam tangannya, seakan ia tengah dikejar waktu.


Terlalaikan oleh Arfan ekspresi kaget Quinsha atas semua penuturannya. Gadis itu masih mencermati setiap kalimat Arfan dengan seksama, berikut mencari tau maksudnya. Dan lelaki tampan itu tak memberikan waktu untuk bertanya.


“Saya mohon, kamu bisa ikut ya, ini sangat penting,” pinta Arfan bahkan sampai menyatukan kedua tangan di depan dada, membentuk sebuah permohonan yang sangat. Dan semua itu membuat kepala Quinsha membuat anggukan sebagai bentuk persetujuan, padahal dalam hatinya, masih menuntut penjelasan atas semua maksud dan tujuan Arfan.


“Terima kasih, terima kasih ya,” haru Arfan bahkan sampai membungkukkan setengah badannya sambil tersenyum senang.


“Mobil saya ada di sana! Tunggu sebentar ya.” Dan tanpa tunggu jawaban dari Quinsha, Arfan bergegas menuju mobil jenis sedan keluaran tahun 90-an.

__ADS_1


Quinsha memilih duduk di belakang, sedang Arfan di posisi pengemudi. Lelaki itu tampak tak mempermasalahkan posisinya kini yang seolah sebagai sopir Quinsha. Perjalanan dilewati dengan kebungkaman. Arfan fokus dengan jalanan yang akan dilalui mobil dengan kecepatan cukup tinggi itu. Dan di belakang, Quinsha sibuk mempertanyakan sikapnya sendiri yang setuju saja diajak oleh lelaki idaman hatinya itu untuk datang ke rumah, tanpa tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya.


__ADS_2