Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 75


__ADS_3

Lelah mondar mandir, akhirnya Sherin duduk juga di kursi ruang tamu itu. Ia tarik napasnya pelan-pelan, untuk melonggarkan sesak yang terasa menghimpit dada. Harus dicari kemana lagi? Harus bertanya pada siapa lagi? Sherin benar-benar tidak tahu kini.


“Ibu, minum dulu.” Mbok sum mendekati lagi, mencoba untuk membujuk lagi. Wanita paruh baya itu menyorongkan gelas teh hangat yang sudah dipanaskan dua kali. Pasalnya, Sherin membiarkan minumannya menjadi dingin dan enggan menyicipi.


Sherin hanya menatap ART yang sudah lama bekerja di rumahnya itu dengan tatapan penuh tanya. “Tuan pergi ke mana ya, Mbok?”


Mbok Sum menggelengbdengan raut sedih. Ia sungguh tak tega dengan Sherin yang semalaman tak bisa tidur, karena Alarik yang tak pulang sama sekali.


Sejak kemarin lelaki itu pergi. Sherin masih ingat ketika dia tampak begitu bersemangat sekali. Saat ditanya, Alarik hanya menjawab ada sebuah urusan. Tapi tak memberitahukan itu urusan apa dan bersama siapa.


Sherin menanti suaminya pulang sampai larut malam. Dan kini sudah pukul 9 pagi, Alarik tak kelihatan batang hidungnya sama sekali. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Sherin sudah menelepon Aura, barangkali Alarik pergi bersama suaminya. Ternyata kata Aura, Damaresh pergi ke New Zealand untuk menjemput Airlangga.


Sherin juga telah menghubungi dua orang asisten Alarik di pabrik, tapi keduanya juga tak tahu di mana keberadaan pemilik pabrik teh terbesar itu.


Kini wanita itu tak tahu lagi harus bertanya pada siapa. Karena setahunya, Alarik tak cukup punya banyak teman apalagi saudara. Dugaan demi dugaan pun silih berganti datang menyapa. Dan wanita itu jadi berderai air mata saat memikirkan kemungkinan kalau Alarik telah pergi meninggalkan dirinya.


“Kenapa gak bilang aja sih, Mas. Kalau memang kamu ingin aku pergi. Kenapa kamu harus menghilang dengan cara seperti ini,” isaknya dengan suara lirih.


“Ibu, jangan berpikir yang aneh-aneh dulu! Siapa tahu Tuan sedang ada urusan penting, dan lupa untuk mengabari, Ibu.” Sekali lagi mbok Sum mencoba menghibur Sherin. Walau ia tahu kesedihan hati majikannya tak akan hilang hanya dengan kalimat menghibur seperti itu.


Sherin terdiam, diam lama, hingga akhirnya ia bangkit dengan bergegas, mungkin hendak menuju ke kamarnya di lantai dua. Tapi baru dua langkah, gerakannya berhenti. “Mbok, kepalaku tiba-tiba pusing ya,” rintihnya sambil memegangi kepala.


Mbok sum gegas menghampiri dan memegang tangannya. “Ibu pasti kelelahan, Ibu 'kan gak tidur dari semalam.”


“Aduh, Mbok.” Sherin makin merintih dan selanjutnya tubuhnya pun limbung.


“Ibu!” pekik Mbok Sum sambil menopang tubuh sang majikan yang ambruk begitu saja. “Tolongg!” teriak mbok Sum meminta bantuan.


\*\*\*\*\*\*\*\*


Quinsha menghempaskan buku yang dipegangnya begitu saja. Sekali lagi, dan lagi-lagi, ia tak mampu untuk konsentrasi. Ibu guru cantik itu telah meninggalkan anak didiknya di dalam kelas, dengan memberikan tugas. Karena konsentrasi mengajarnya yang telah terampas.


Tapi, di kantor pun ia tak bisa menemukan konsentrasi yang telah pergi. Apa hal yang menjadi sebabnya? Apalagi kalau bukan perkataan Rafardhan tadi. Sesaat sebelum ia turun dari mobil yang sudah terparkir di halaman yayasan Nada Hikam.


“Hanya satu hal yang bisa kamu lakukan, jika ingin membantu saya,” ucap Rafardhan.

__ADS_1


“Apa?” tanya Quinsha.


“Jadi pacar saya Quin!”


QUinsha terdiam. Cukup lama diam, tatapannya hanya memindai wajah tampan Rafardhan, tapi tak ada satu pun kata yang ia ucapkan.


“kamu tidak sedang salah dengar, apa yang saya katakan itu memang benar. Mungkin saja kamu ingin bertanya begitu, saya sudah menjawabnya duluan," kata Rafardhan.


QUinsha merubah posisi duduknya dan menatap ke depan. “Bercandanya kamu keterlaluan,” ucapnya pelan.


“Saya serius, Quin.”


Quinsha menggeleng. “Saya tidak bisa.”


“Kamu menolak saya?”


“Saya tidak pacaran,” tegas Quinsha.


“Jadi langsung nikah? Baik. Kalau kamu mau menikah sama saya, tinggalkan orang yang ada di dekat kamu sekarang, Quin!”


QUinsha terdiam, meski ia tak paham apa yang dimaksud Rafardhan dengan kalimat “orang yang ada di dekat kamu, sekarang” tapi Quinsha tak memperpanjang pertanyaan.


Dan apa akibatnya sekarang? Pembicaraan itu sudah berlalu hampir tiga jam. Selama itu pula, Quinsha terkapar dalam tanda tanya besar akan semua ucapan Rafardhan. Setiap ucapan pemuda tampan itu ia kaji dalam diam. Ditelaah dalam-dalam. Tapi seberapa pun banyaknya ia menimbang dan memikirkan. Tetap tak ada sebuah kepastian yang ia dapatkan.


RAfardhan memang tampak serius dengan ucapannya. Tapi ada satu sisi dalam hati Quinsha yang menolak semua itu sebagai kesungguhan. Ia tak percaya begitu saja, kalau artis muda terkenal seperti Rafardhan menginginkan dirinya yang dalam tanda kutip sudah lebih tua dari Rafardhan serta tidak berada dalam satu lingkup pergaulan yang sama.


Tapi teringat pada kisah Damaresh dan Aura Aneshka. Mereka berasal dari latar belakang yang jauh berbeda, namun, takdir dan cinta telah menyatukan mereka dalam satu ikatan yang tak terpisahkan. Seberapa pun seringnya, mereka hendak dipisahkan.


Qhuinsha meraup wajahnya berkali-kali. ‘Anak itu sudah membuatku tenggelam dalam lautan kegalauan yang tak bertepi’ keluh Quinsha dalam hati.


“Ada masalah ya, Mbak?” tanya Risma.


QUinsha terhenyak, hampir saja ia terlupa, kalau tak sedang sendiri saja di kantor ini. Ada Risma yang sedang sibuk mencatat di mejanya.


“Gak ada, Mbak,” sahut Quinsha.

__ADS_1


“Suntuk banget kelihatannya,” ungkap Risma berdasar penilaian yang ia dapat dari sejak awal melihat Quinsha.


“Saya hanya lagi kurang istirahat, Mbak,” kilah Quinsha yang sepintas lalu terlihat Risma percaya begitu saja.


Detik berikutnya, Quinsha memilih untuk kembali fokus membaca. Abaikan Rafardhan dengan segala ucapannya. Anggap saja pemuda itu sedang berlatih dialog saja. Tekad Quinsha dalam dada.


Waktu berlalu, Quinsha sedikit berhasil dengan usahanya. Hingga sebuah panggilan telepon kembali merampas konsentrasinya.


“Assalamualaikum, Aura,” sapa Quinsha di telepon. Karena memang Aura yang sedang melakukan panggilan padanya.


“Waalaikumsalam. Sha, lagi di yayasan ya?”


“Iya, Ra, kenapa?”


“Aku hanya ingin mengabarkan, kalau Sherin dibawa ke rumah sakit.”


“Sherin? Kenapa? Dia sakit apa?”


“Gak tahu, kata si mbok, dia tiba-tiba aja pingsan.”


“Rumah sakit mana? Saipul Anwar?”


“Iya.”


“Aku akan kesana, Aura. Kamu di mana sekarang?”


“Aku dalam perjalanan ke sana.”


Setelah percakapan telepon ditutup dengan salam, Quinsha segera berkemas. “Ada apa, Mbak?” tanya Risma.


“Sahabat saya mendadak sakit. Dia dibawa ke rumah sakit sekarang. Saya akan menjenguknya ... di mana mbak Lila, saya mau minta ijin dulu,”


“Masih di kelas.”


Quinsha segera bergegas keluar dari kantor menuju ruang kelas di mana Lila—seniornya—sedang mengajar sekarang.

__ADS_1


Setelah mengantongi ijin dari Lila, Quinsha gegas menuju mobil dan membuka pintu samping bagian depan, yang ternyata tak terkunci dari dalam. Dan pemandangan yang ia temukan dalam mobilnya sekarang, sungguh membuat Quinsha terkejut nian.


“Rafardhan?!”


__ADS_2