
"Ceritakanlah padaku tentang Kanaya, Mas! selagi aku masih menjadi istrimu, wajib bagiku, untuk ikut menanggung resahmu," tandas Sherin diiringi dengan senyuman lembut.
Niat Alarick yang semula sempat sirna untuk bercerita, kini hadir lagi tersebab mendengar ucapan istrinya.
Flasback On
Alarick William.
Kehampaan dalam keluarga yang minus kasih sayang
Terasa mencekik jiwa putra bungsu Willyam itu, terlebih ketika sang ibunda—Laura Dewi—meninggal
Dunia, tak ada lagi sandaran jiwa yang bisa di dapatkannya, tak ada lagi pangkuan kasih yang rela menopang kegelisahannya.
Alarick menjadi pribadi yang tak betah berdiam di Mansion mewah keluarganya. Ia sering keluar, berpindah dari tempat teman yang satu menuju tempat teman yang satunya. Sebagai putra orang kaya raya, Alarick cukup banyak memiliki teman yang tak menolak ketika dia berkenan singgah bahkan bermalam. Karena pemuda tuju belas tahun itu tak pernah merugikan, apalagi dari segi materi. Siapa di antara temannya yang kebagian pemuda itu bermalam, bisa dipastikan kalau keluarga tersebut, akan sangat merasa senang, karena Alarick selalu meninggalkan jejak sebelum pulang. Berupa hadiah dan segepok uang.
Rutinitas itu terus dilakoninya sebagai sedikit penawar kehampaan jiwa, hingga lalu kehampaan itu menemukan muaranya. Kanaya, adik kelasnya yang berperawakan cantik nan jelita, hadir dalam hidup Alarick yang sudah tuna makna. Mengubah segala kesuraman menjadi cahaya, dan mengubah kemurungan menjadi ceria.
Tak hanya itu, bersama keluarga Kanaya pula, Alarick
Menemukan kehangatan yang selama ini didambakannya. Walhasil, Alarick dan Kanaya menjadi dua pribadi yang sulit dipisahkan, hingga euforia cinta anak muda itu menggiring mereka pada kenikmatan yang memabukkan, tapi berakhir dengan cerita memilukan.
Kanaya hamil. Dan dengah gagah beraninya, Alarick yang masih tuju belas tahun itu bersedia bertanggung jawab, dengan artian dia siap menjadi seorang ayah dalam usia yang sangat muda.
__ADS_1
Tangis Kanaya kian luruh kala Alarick mendekapnya dalam diam. Melihat kesedihan tak terkira pada wajah gadis yang teramat bermakna dalam hidupnya itu, dalam diri Alarick kian tumbuh keberanian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. “kita akan menikah,” putusnya. Yang membuat Kanaya mendongakkan wajah menatap rupa kekasih hatinya seakan tak percaya.
“Kamu bersungguh-sungguh, Rick?” tanya Kanaya ragu.
“Tentu saja,” tegas Alarick.
“Ta-tapi bagaimana jika ayahmu tidak menyetujuinya?” kekawatiran sangat tercetak jelas di wajah cantik Kanaya.
Wajar, jika Kanaya merasa demikian. Alarick adalah putra seorang kaya raya yang perusahaannya di mana-mana, sangat berbeda jauh dengan Kanaya.
‘Bukankah harta, selalu menjadi penghalang cinta?’ Batin Kanaya.
“Aku akan berusaha, agar ayah merestui kita,” tekad Alarick. “Besok, ikutlah bersamaku untuk bertemu dengan ayah,” ajaknya kemudian. Pemuda belia itu seperti tak ingin menunda lebih lama.
“percayalah padaku!” Alarick menggenggam erat tangan Kanaya untuk menyalurkan keyakinan kepadanya. Akhirnya, Walau dengan berat hati, Kanaya menganggukkan kepalanya juga.
Keesokan harinya, seperti yang sudah direncanakan, Alarick membawa Kanaya menemui sang ayah, guna memohon restu untuk menikah.
Willyam bergeming mendengar permohonan sang putra bungsu yang masih duduk di bangku kelas sebelas itu untuk membina rumah tangga. Pandangannya menelisik pada sosok Kanaya yang duduk di samping Alarick dengan muka pucat dan tertunduk dalam.
“Sudah berapa lama kalian memiliki hubungan?”
Ia bertanya dengan suara serak, namun terdengar santai, sepertinya drama percintaan putra bungsunya yang berakhir dengan sang pacar hamil, bukan sesuatu yang menggelisahkan bagi William.
__ADS_1
“Sekitar empat bulan, Ayah,” jawab Alarick dengan jujur.
“Berapa umur kalian, sekarang?”
Alarick dan Kanaya saling pandang sebelum sama-sama menyebutkan umurnya yang memang masih sangat muda untuk melaju ke jenjang pernikahan.
Willyam terdiam untuk waktu sekian lama, dalam hati ia merasa salut dengan keberanian putranya, yang menyatakan untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukannya. Tapi keputusan untuk menikah?
Willyam berdecak dalam hati.
“Namamu, Kanaya?” Willyam mengarahkan pertanyaan
Hanya pada Kanaya.
“I-Iya Om,” gadis itu menjawab dengan gugup dan tak berani mendongak.
“Beritau aku di mana alamatmu, dan siapa nama kedua orang tuamu!” titah William.
Kanaya terlebih dulu menatap Alarick, setelah mendapat anggukan dari kekasihnya itu, gadis cantik tersebut segera menyebutkan alamat rumahnya dan berikut nama kedua orang tuanya. Yang didapati oleh Willyam
Kalau nama kedua orang tua Kanaya, ternyata tidak terdapat dalam jajaran nama orang-orang berpengaruh yang ia kenal. Itu artinya Kanaya bukan berasal dari keluarga yang pantas masuk dalam circle keluarga Willyam.
Ayah Kanaya adalah seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di kantor pemerintahan, sedangkan ibunya mengelola rumah makan sederhana yang berlokasi tak jauh dari tempat sekolah Alarick, dan menjadi rumah makan favorit bagi siswa-siswi sekolah yang tak memiliki uang saku setebal putra bungsu William itu.
__ADS_1