
Dari sebelum menerima tawaran untuk berperan dalam web series religi ini, mas Adam memang sudah berkali-kali menanyakan kepada Rafardhan, dia siap atau tidak berperan sebagai Rafka di sana. Bukan masalah akting yang menjadi kekawatiran mas Adam, karena ia tau, kalau Rafardhan itu aktor yang serba bisa, ia bisa berperan sebagai apa saja. Tapi dalam web series yang diambil dari cerita novel berjudul “Bertaruh Cinta di atas Takdir” itu konteksnya beda.
Di sana menceritakan tentang orang yang jatuh cinta, dan segala rasa cintanya disandarkan pada keikhlasan dan Ridho Allah semata. Atau mencintai sesuai dengan konsep yang diatur oleh agama. dan hal tersebut belum pernah diketahui oleh Rafardhan apalagi dialami dalam dunia nyata. Karena itu, mas Adam sering menekankan pada pemuda itu, untuk mempelajarinya lebih dulu sebelum menerima.
Tapi Rafardhan justru menganggap ini sebagai sebuah tantangan. Ia segera tanda tangan kontrak tanpa perlu berpikir panjang. Di awal perannya sebagai seorang “Rafka” ia justru sangat menikmati dan menjiwai. Tapi kesulitan mulai ia rasakan ketika sosok Rafka mulai jatuh cinta dan disandarkan pada konsep Tuhan. Di dalam dialognya banyak sekali kalimat yang menunjukkan kebesaran jiwa seorang hamba yang menyandarkan semuanya pada Kehendak Sang Khalik.
“kalau lu Cuma ngafalin dialog, mungkin lu akan ngucapin itu dengan benar, tapi maksud yang sebenarnya dari yang lu ucapin itu, belum sepenuhnya bisa, lu paham. Dari mana ceritanya lu bisa menjiwai peran lu di sini, kalau lu nya aja kagak ngerti.” Begitu ucapan mas Adam yang kali ini, harus disetujui oleh Rafardhan tanpa sanggahan.
“Ini maksud gue nyuruh lu baca. Itu buku-buku tentang kisah jatuh cintanya para orang shalih yang langsung disandarkan pada kehendak Tuhan. Kira-kira kayak gitu ‘kan kisah jatuh cintanya, Rafka itu,” lanjut mas Adam membeberkan.
Rafardhan masih diam menyimak, dia menjadi anak yang sangat manis dan patuh sekarang.
“Dari awal gue selalu bilang ke lu, buat pelajari cerita ini dulu secara mendalam, sebelum lu terima. Karena peran Rafka itu bukan basic lu. Lu main terima aja tanpa mempelajarinya.”
“Gue bisa belajar dari sekarang, Mas,” sahut Rafardhan segera.
“Nah, lu nyadar juga ‘kan. Tunggu apalagi, baca!” tunjuk Adam pada tumpukan buku-buku yang ia beli tadi, di mana ia sampai minta bantuan temannya yang berprofesi sebagai ustadz untuk ikut memilihkan.
“Maksud gue belajar bukan dengan cara baca kayak gini,” jawab Rafardhan.
“Lalu?”
“Mengalami secara langsung,” seloroh Rafardhan sambil cengengesan.
__ADS_1
“Jangan aneh-aneh lu! Syutingnya itu besok. Lu mau jatuh cinta sekarang? Jatuh cinta Sama siapa? Sama gue?”
Tawa Rafardhan pun meledak tanpa bisa diredam, hingga sebuah panggilan telepon dari ponsel mas Adam menghentikan semuanya. Sementara mas Adam menerima telepon itu di dekat jendela, Rafardhan membuka beberapa buku di depannya dan sesekali membaca, hingga luput dari perhatiannya apa saja yang dibicarakan oleh mas Adam dengan si penelponnya.
“Raf, gadis itu minta bertemu sama lu,” terang mas Adam kemudian setelah ia selesai bicara di telepon.
“Gadis yang mana?”
“Yang sekarang sedang diberitakan sebagai pacar, lu.”
“Oh, Quinsha Daneen. Trus lu bilang apa, Mas?”
“Ya, gue bilang akan sampein dulu ke lu, nanti nya lu ada waktu ato kagak, gue bakal hubungin dia.”
Adam langsung memicingkan sebelah mata mendengar ucapan Rafardhan. Tapi ia belum mengatakan apapun karena membiarkan pemuda itu, menuntaskan ucapannya lebih dulu.
“Gue rasa dia gak jauh beda dari tokoh ‘Meidina Shafa’ dia cantik, berhijab, lebih tua dari gue, sebagaimana tokoh meidina Shafa dan Rafka. Gimana menurut lu, Mas?”
“Ide lu tu, sama sekali gak pantas dieksekusi,” tolak mas Adam sambil mencibir.
“Itu ide yang sangat Bagus, Mas,” sanggah Rafardhan. “lu bisa ‘kan atur jadwal gue ketemu Quinsha malam ini?” pintanya kemudian.
“Gak bisa. Malam ini kita udah ada jadwal yang gak bisa dicancel,” tegas Adam. Rafardhan tertawa renyah dengan penolakan sang manajer. Adam awalnya sempat menganggap serius ide dari pemuda tampan itu, tapi tawanya sekarang cukup memberitahukan kalau itu hanya sekadar gurauan.
__ADS_1
Selanjutnya, Rafardhan meminta nomer penulis novel “bertaruh Cinta Di Atas Takdir” itu pada mas Adam. Rafardhan merasa perlu menghubunginya dan meminta bantuannya terkait kesulitan yang sedang ia alami sekarang. Di awal Web series ini dibuat, penulisnya sempat mengatakan bahwa ia siap membantu para pemain nantinya jika dalam menjalani perannya—sebagai tokoh dalam novel yang ditulisnya--mengalami kesulitan.
Menurut mas Adam ini adalah ide yang paling masuk akal, dan dia sangat mendukung tindakan Rafardhan tersebut, bahkan siap mengatur jadwal bertemu sang penulis malam ini, sekalipun sudah ada jadwal yang katanya barusan tidak bisa dicancel.
DI akhir pembicaraan keduanya, mas Adam sempat mengatakan, “Gue pikir udahin saja berita lu sama gadis itu, Raf. Sekarang semua media sudah ngepost hubungan lu ama gadis itu, dan kedekatan lu sama Ayunda udah gak disorot lagi. Jadi tujuan kita udah tercapai ‘kan? Jadi gue rasa, besok gue mau klarifikasi berita ini aja.”
Rafardhan diam tak segera menanggapi, sepertinya ia masih memikirkan apa yang diucapkan oleh manajernya tersebut.
“Quinsha itu pasti sudah merasa keganggu juga, kalau gak, ngapain dia keukeuh minta ketemu ama lu.”
“Jangan dulu klarifikasi, Mas!” cegah Rafardhan. “Gue belum selesai ama dia,” imbuhnya.
“Maksud lu?”
“Hal pribadi. Sorri gue belum bisa cerita.”
“Jangan bilang lu beneran suka sama dia,” tuding mas Adam.
“Kagak.” Rafardhan Menggelengkan kepalanya tegas. “Lu atur aja jadwal ketemu gue sama dia. Kalau bisa secepatnya!” titah Rafardhan.
“Ok. Kalau ini mau lu. Tapi, Apapun alasan lu, gue ingetin, hati-hati! Jangan bertindak gegabah. Sekali lu salah langkah, nama besar lu yang dipertaruhin,” nasihat mas Adam.
“Gue paham, Mas. Thanks.”
__ADS_1
**********