
“Membantu apa?” Alarick menatap Sherin tak mengerti.
“Jika benar ini adalah hari spesialnya, aku ijinkan kau temui dia, ucapkan selamat padanya! Atau lewati waktu bersamanya!” Sherin menjeda kalimatnya dengan meraup napas. Sesak, itu yang sangat ia rasakan ketika berucap. Wanita mana yang rela membiarkan suaminya bersama wanita lain—dan yang sangat dicintai pula— walau hanya sekejap.
“Dari pada kau hanya diam, merayakannya seorang diri, itu menyakiti dirimu sendiri. Dan tanpa sadar kau juga menyakitiku, Mas” lanjut Sherin dengan suara yang mulai bergetar. Tak hanya itu, di pelupuk matanya, ada gumpalan air yang mengambang.
“Jika saja itu bisa, sudah dari dulu kulakukan,” sahut Alarick dan langkahnya tak dapat lagi ditahan. Ia berlalu meninggalkan Sherin yang mendengar itu dengan perasaan terempaskan. Ia baru tahu kalau Alarick akan melakukan apapun untuk wanita yang dicintainya, tanpa perlu mendapatkan ijin dari istrinya. Itu, fakta yang didapat Sherin sekarang. Fakta yang menyakitinya cukup dalam.
Wanita berhijab cantik itu masih terpaku dalam diam. Tubuhnya merapat ke dinding, bersandar. Sekadar mencari penopang dari jiwanya yang seakan tumbang. Ingatannya berkelana pada beberapa tahun silam. Pada saat malam pertama pernikahan.
Flasback On.
“pernikahan kita mungkin tak akan berjalan sebagaimana mestinya. Karena aku sudah menutup pintu hatiku untuk semua orang,” ucap Alarick pada waktu itu. “Di sini!” lelaki itu menunjuk dadanya sendiri dengan telunjuk jari. “sudah ada nama seseorang, yang mungkin tak akan tergantikan” ujarnya.
Sherin tak terlihat sangat terkejut mendengarnya. Ia hanya menatap Alarick sekejap sebelum kembali menundukkan pandangan. Sherin tak begitu heran, karena kemungkinan itu sudah dapat ia rasakan. Tak mungkin seorang pengusaha kaya dan tampan, pemilik puluhan hektar perkebunan, masih hidup menyendiri hingga sekarang. Kalau bukan karena rentetan masa lalu yang belum ter tuntaskan. Atau terbelit cinta yang tak mampu diselesaikan.
“Tapi aku akan berusaha menjadi suami yang memenuhi semua kewajibanku kepadamu, Sebagai istriku,” lanjut Alarick kemudian.
Sherin mengangguk mengiyakan, Menyatakan persetujuan tanpa ucapan. Demikian mungkin Alarick menilai sikap Sherin yang sepertinya tak mempermasalahkan.
__ADS_1
Tangan Alarick mengusap pelan kepala Sherin yang masih tertutup hijab lebar. “Tidurlah dulu! Aku mau keluar sebentar.” Dan lagi-lagi Sherin mengangguk mengiyakan. Tapi ketika Alarick kemudian mendaratkan ciuman singkat di keningnya, gadis itu merasakan tubuhnya seakan bergetar.
Setelah itu Alarick membawa tubuhnya keluar kamar, meninggalkan pengantinnya tidur sendirian di atas tilam yang bertabur kembang. Dan Sherin tertidur tanpa membawa beban. Ia menganggap Alarick sama dengannya, yang saat ini juga masih kepikiran Ridwan—calon suaminya yang meninggal karena kecelakaan, tiga hari sebelum pernikahan. Tak akan mudah pula bagi Sherin untuk melupakan Ridwan, seperti Alarick yang dengan jujur mengakui kalau masih menyimpan nama seseorang.
Dan waktu pun berlalu.
Flascback Of.
Kini, atau tepatnya malam ini, Sherin seakan baru tersadar, kalau perbedaannya dengan Alarick sangatlah tajam. Seiring berjalannya waktu, Sherin sudah dapat mengikhlaskan Ridwan dan mulai menjalani hari-harinya sebagai istri yang berbakti untuk Alarick, sang suami tampan. Serta mempersembahkan cinta dari hatinya yang paling dalam.
Tapi Alarick tidaklah demikian. Tak ada jarak ataupun waktu yang membuat perasaannya berubah haluan. Sebuah nama dalam hati, tetap ia lafadzkan. Meski sudah ada istri cantik yang senantiasa mengabdi dengan penuh ketulusan.
Selama dua tahun ini, Sherin menanti dengan penuh kesabaran. Ia selalu yakin akan dapat merubah keadaan. Tapi sekarang, keraguan mulai melanda perasaan. Kekuatan untuk bertahan sudah semakin berkurang. Karena Cinta Yang Tak Bertuan, telah merejam luka yang teramat dalam.
Pagi itu.
“Maaf, sudah membuatmu terluka,” ucap Alarick yang menyerupai sebuah bisikan. Karena posisinya yang berada tepat di belakang tubuh Sherin. Alarick Lalu mendaratkan kecupan di pucuk kepala istrinya yang masih terdiam.
Gerakan tangan Sherin yang sedang mengaduk minuman untuk suaminya itupun berhenti, karena tindakan Alarick ini. “Maaf, aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu,” sesal Alarick dengan suara pelan.
__ADS_1
“Aku sudah memaafkanmu, Mas. Bahkan sebelum kamu minta maaf,” sahut Sherin cepat.
“Tidak. Jangan membuatku semakin merasa bersalah! Karena aku tau, ini tidak mudah.”
“Lalu?” Sherin segera berbalik badan dan menatap Alarick yang posisinya ada di belakang.
“Aku tau kamu pasti merasa tertekan.”
“Bohong, jika aku bilang tidak, Mas,” sambut Sherin dengan cepat, secepat rasa tak nyaman yang seketika memenuhi perasaan.
“Beritau aku, jika kau memang sudah tak sanggup,” pinta Alarick dengan tatap dalam.
“Apa memang ini yang kau harapkan, Mas?”
“Tidak,” tegas Alarick bahkan disertai menggeleng cepat. “Aku hanya tidak ingin melihatmu terus menerus tak nyaman berada di sisiku,” lanjutnya kemudian.
“kau ingin melepaskan aku, Mas?” tanya Sherin dengan suara bergetar.
“Jika dengan itu, kau akan terlepas dari ketidaknyaman ... “ putus Alarick meski tak disertai keyakinan yang cukup dalam.
__ADS_1
Sherin melemparkan pandangannya ke luar jendela. Sakit, terasakan dalam dada. Dan itu terlihat dari kubangan air yang mengambang di pelupuk mata.
“Aku sebenarnya tidak ingin seperti ini, Rin. Aku ingin kau tetap berada bersamaku. Tapi aku sadar diri, bahwa ada sesuatu yang tak bisa aku beri padamu,” ungkap Alarick yang tak segera mendapat tanggapan dari Sherin.