Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 115


__ADS_3

Hening dan sepi. Nataniel dan Hanum sama-sama berdiam diri. Pasti sangat hebat pengaruh berita yang mereka dengar, hingga kini pasangan kekasih ini sama-sama tak ada yang memulai pembicaraan. Sementara berita itu telah berlalu hampir sepuluh menit silam.


“Ternyata Rafardhan adalah cucu Tuan William.” Setelah beberapa saat, barulah terdengar Hanum yang berucap. “Pantas saja,” lanjutnya lagi dan segera kalimatnya berhenti, karena ingatan yang dibawa kembali pada peristiwa lalu saat ia bersama Rafardhan di sebuah Mal, tiba-tiba datang dua orang pengawal Damaresh William yang meminta bertemu dengan Rafardhan.


“Keluarga Rafardhan pasti akan mengusut kasus ini tuntas. Karena siapa yang tak tau pada keluarga William. Kasus Rafardhan ini pasti sangat kecil bagi mereka.” Dan lagi-lagi Hanum masih bermonolog ria. Karena sang kekasih tak menunjukkan atensinya sama sekali.


Hingga Hanum merasa aneh sendiri dengan hal itu. Kepalanya pun menoleh menatap lelaki di sampingnya yang tiba-tiba saja mengaktifkan mode membisu. “Niel, kenapa?”


“Gak papa.” Niel menggeleng singkat. Tangannya lalu terulur mengasak rambut Hanum. “Tidurlah dulu, aku mau keluar sebentar!” ucapnya dan segera bangkit.


“Mau kemana, Niel?” tanya Hanum dengan tatapan heran tingkat dewi.


“Aku mau menemui temanku sebentar.” Niel terlihat buru-buru meraih pakaiannya.


“Lalu kita?” lanjut tanya Hanum dengan raut kecewa.


Niel meraup napasnya pelan. “kita lanjutkan lain kali,” ujarnya. Pria itu kini sudah tak punya semangat lagi. Bahkan hidupnya sudah terancam, mana bisa ia masih akan bergumul nyaman di atas ranjang.


Niel segera berlalu keluar dari kamar, meninggalkan Hanum yang terdiam dalam kekecewaan. Wanita itu sungguh tak mengerti dengan sikap Niel yang mendadak ingin pergi. Padahal ia tau sendiri bagaimana tabiat pacarnya itu bila sudah perihal pergulatan. Niel tidak akan berhenti dan tak akan pernah berhenti sebelum H2sr2tnya terpuaskan.


Tapi kini, lelaki itu malah pergi meninggalkan permainan yang baru setengah jalan. Dan bagian yang ditinggalkan dari permainan itu, justru adalah bagian yang paling menyenangkan. ******* dari sebuah permainan.


Ada apa dengan Niel?


Demikian batin Hanum terus bertanya dalam diam.

__ADS_1


Malam sudah lewat dari titik tengah. Hanum pun sudah pergi menjelajah. Berkelana dalam dunia mimpi yang indah. Dalam tidur lena yang telah membebaskannya dari penat dan resah.


Terasa ada seseorang yang duduk di belakangnya dan menyibak rambutnya, Hanum gegas membuka mata. “Niel.” Hanum bersuara serak sekaligus lega mendapatkan sang kekasih hati telah kembali.


“Dari mana aja?” Hanum segera duduk sambil mengucek matanya.


“Kita pergi besok ya,” ajak Niel. “Kamu ikut aku,” imbuhnya.


“Kemana?”


“New Zealand.”


“Hah.” Sepasang mata Hanum langsung mengerjap. Rasa kantuk yang masih tersisa segera lenyap.


“Liburan. Gak mau?”


“Mau. Tapi aku kan masih ada proyek film, Niel.”


“Film ini? Kamu pikir setelah bintang utamanya terbelit kasus seperti ini, filmnya masih akan dilanjut?” tukas Niel seraya bangkit dan membuka laci nakas.


“Kata sutradaranya, peran tokoh utama akan digantikan olehmu, Niel.”


“Dan apa kamu pikir aku mau?” Niel menatap kekasihnya itu tajam.


“Loh memang kenapa, Niel?”

__ADS_1


“Mau ditaruh kemana harga diriku,” dengus Niel sambil terus membongkar-bongkar sesuatu dari laci itu. “Segera kemasi barangmu, jam 3 dini hari kita sudah akan meninggalkan negara ini!”


Hanum terhenyak. “Ada apa, niel? Kok sepertinya tergesa sekali.” Pandangan mata wanita itu menatap penuh selidik pada kekasihnya.


“Ikut saja, gak usah banyak tanya!” titah Niel, lelaki itu segera mengambil koper dari atas lemari dan mulai menata beberapa bajunya di sana.


“Niel, cerita padaku ini sebenarnya ada apa.” Hanum mendekat dan menyentuh lembut pundak kekasihnya. “Ini bukan kebiasaanmu Niel. Kamu gak akan pergi terburu-buru kalau gak ada sesuatu,” lanjut Hanum dengan suara lembut.


“Kamu mau ikut atau tidak?” Niel menatap Hanum lekat. Membuat wanita itu tak segera mampu menjawab.


Hanum berbalik mengambil sesuatu di atas meja dan diberikannya pada Niel. “Apa ini?” lelaki itu menatap bungkus kado cukup besar yang diberikan Hanum padanya.


“Tadi ada petugas layanan kamar yang datang. Katanya itu kiriman untukmu,” terang Hanum.


“Kiriman untukku?” mata Niel memicing curiga. Dan dalam hitungan detik, tangannya dengan lincah segera membuka bingkisan itu.


Ternyata bingkisan tersebut hanya menipu, karena yang didapat oleh Niel dari dalamnya hanya gumpalan kertas lusuh. Lelaki itu berdecak kesal merasa dipermainkan. Tangannya segera melempar bingkisan tersebut ke atas ranjang. Dan saat itulah terlihat sebuah benda kecil terburai keluar.


Hanum yang mengambilnya. Sebuah USB Flas Drive. Setelah mengamati dengan seksama, wanita itu segera menunjukkannya pada Niel. “Niel, ini!”


Niel merampas benda kecil itu dengan cepat, terlihat berpikir sejenak dan gegas meraih laptop lalu menghubungkan benda tersebut pada port USB di laptopnya, maka dalam sekejap saja, data yang tersimpan dapat terbaca.


Tapi yang ada di hadapan Niel kini, yang terliat di layar laptopnya bukan barisan data dan sebagainya, akan tetapi sebuah rekaman video yang kendati tak disertai pencahayaan yang cukup, tapi terlihat sangat jelas dan bisa dipaham maksudnya.


Niel tersentak. Wajahnya berubah pias. Mendadak pucat, dan tenaganya jadi terkulai lemas.

__ADS_1


__ADS_2