
“Raf-Rafasya!” Panggil Alarik dengan suara tercekat. Dan tatkala langkah pemuda yang dipanggilnya itu berhenti, seketika Alarik juga ikut berhenti. Degup di dada, seakan bak pacuan kuda, manakala tubuh jangkung tinggi tegap itu memutar tubuhnya dan menoleh.
Wajah tampan itu, tatap mata itu, Alarik seperti melihat bias pelangi di kaki langit senja. Bibir lelaki itu tertarik membentuk lengkungan, sebuah senyuman indah yang sudah lama terkubur, kini ia kembangkan lagi. Dengan sempurna sekali.
“Rafasya,” lirih Alarik dengan suara bergetar. Bersama dengan degup jantung yang kian bertalu, langkahnya kembali terayun untuk mendekati.
Sedangkan Rafardhan sendiri, masih berdiri terpaku bak patung batu. Tak ada ekspresi yang dapat terbaca dari wajahnya, sama seperti pertama kali ia melihat Alarik beberapa hari yang lalu di rumah Risa. Hanya bedanya kini, tatap mata bening Rafardhan tak beralih sedikit pun dari wajah tampan Alarik. Bahkan kendati ayah kandungnya itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Rafasya.” Hanya bisa menyebut nama, tak ada kata apapun selain itu yang dapat meluncur dari bibir Alarik. Tatapannya juga merangkum wajah tampan sang putra tanpa jeda, seakan ia ingin memuaskan pandangannya, selayaknya orang yang baru pertama kali bersua.
Akan tetapi pada detik berikutnya, Alarik tak mampu menahan diri. Ia rentangkan kedua tangan memeluk tubuh tampan berbadan tegap itu dalam dekap yang erat. Sekian detik kemudian, tubuh Alarik berguncang dalam isak.
Rasa hati dan jiwanya sekarang tak bisa didefinisikan, dan tak mampu pula dideskripsikan. Seperti tak ada ungkapan yang tepat untuk mengutarakan apa yang dirasakan oleh Alarik sekarang. Tak ada tatanan bahasa yang tepat untuk menggambarkan. Ia hanya mencurahkan segenap rasa yang campur aduk dalam tangisan.
“Mau minum apa, Nak?” tanya Alarik.
“Terserah,” jawab Rafardhan singkat.
Mereka kini berada di sebuah kedai kopi, tempat Alarik dulu bertemu dengan Rendi. Setelah pertemuan yang mengharu biru itu, Alarik mengajak Rafardhan keluar dari rumah sakit untuk bisa bicara lebih leluasa.
Pemuda yang masih berpuasa kata-kata itu mengikuti saja. Ia juga hanya menganggukkan kepala, ketika Alarik memilih menuju sebuah kedai kopi yang memiliki Design interior asri, sebagai tempat mereka sekadar berbicara. Nyatanya tak ada kalimat apa pun yang meluncur dari Rafardhan—Dari sebentuk kata sapa, tanya dan sebagainya—pemuda itu memilih opsi diam, di antara sekian banyak pilihan.
Mungkin karena merasa masih canggung, tak biasa atau segala alasan lain yang hanya diketahui oleh Rafardhan saja. Tapi Alarik terkesan tak mempermasalahkan. Lelaki itu tetap menyunggingkan senyuman kebahagiaan. Bahagia tak terkira akhirnya dapat berdua seperti ini dengan putranya.
__ADS_1
Dua jenis minuman kopi disuguhkan, satu untuk Rafardhan dengan jenis minuman kopi kekinian, Sedangkan untuk Alarik jenis minuman kopi original, yang sudah diberi sentuhan inovasi baru, khas dari kedai kopi itu.
“Aku tidak tahu, ini jenis minuman kopi kesukaan mama kamu atau tidak. Tapi dulu, tiap kali aku datang ke rumahnya, dia selalu menyuguhkan minuman seperti ini untukku, membuatku jadi candu hingga sekarang ini,” beber Alarik, menceritakan ihwal mula kesukaannya minum kopi.
“Ceritakan tentang, Mama!” Pinta Rafardhan, meski masih diucapkan tanpa intonasi nada pengucapan. Datar saja seperti papan pengumuman.
Tapi dari hal itu, cukup membuat Alarik paham, kalau pemuda itu mulai tertarik dengan topik obrolan yang dilontarkan.
Bercerita tentang almarhumah Kanaya, adalah hal yang sangat menyenangkan sekarang bagi Alarik. Beda dengan dulu, yang tiap menyebut namanya saja, yang terasa hanyalah luka yang menganga.
Meski masih setia dengan diamnya, tapi terlihat kalau Rafardhan mendengarkan setiap cerita Alarik dengan seksama. Dari awal bertemu dengan Kanaya, ketika masih menggunakan seragam putih abu-abu, saat-saat mereka mulai jatuh cinta, hingga saat awal tragedi itu menimpa, semua dikisahkan oleh Alarik pada putranya.
“Maafkan, papa, Nak,” ucap Alarik di akhir cerita. Terlihat Rafardhan hanya menarik napas samar lalu mengangguk pelan.
Dan tak hanya itu, Alarik juga bercerita mengenai kehidupannya yang memilih sendiri hingga sekian tahun terlewati. Sampai suatu ketika, Ridwan, orang kepercayaannya yang sekaligus calon suami Sherin meninggal dalam sebuah kecelakaan. Di sanalah kemudian ia memutuskan untuk menikah, demi tanggung jawabnya pada Sherin yang sedianya akan menikah dengan Ridwan tiga hari kemudian.
DI bagian ini, Rafardhan terlihat sangat memerhatikan dengan seksama, bahkan kemudian satu kata tanya terlisan darinya, “ Boleh, aku ketemu dengan istri, Papa?”
“Eh.” Alarik tak segera menjawab, suaranya seperti menghilang begitu saja, dan pergi entah kemana. Pasalnya panggilan ‘papa’ yang diucapkan Rafardhan, terasa sangat meneduhkan jiwanya.
Sementara Alarik tetap diam, Rafardhan terus menatapnya menunggu jawaban. Hingga dengan itu, Alarik pun tersadarkan. “Tentu saja boleh, Nak. Dia sedang opname di rumah sakit sekarang.”
“Dia sakit?” Rafardhan terlihat menunjukkan perhatiannya.
__ADS_1
“Iya, kecapean mungkin. Apa kita akan menemuinya sekarang?”
“Jika, Papa tak keberatan.”
Alarik tersenyum, segera ia menuju ke kasir untuk membayar apa yang sudah diminum. Sementara Rafardhan merogoh sakunya mengeluarkan ponsel yang dari awal dibuat mode diam, Di sana terlihat berkali-kali panggilan tak terjawab dari Adam, juga ada beberapa pesan yang ke semuanya diabaikan begitu saja oleh Rafardhan.
Baginya saat ini, ada hal penting yang harus di kedepankan. Perkara semua urusannya dengan Adam bisa diselesaikan belakangan. Kini Rafardhan dapat menyimpulkan dengan pasti, kalau dari semua tragedi yang telah terjadi, Alarik tidak bersalah. Keliru jika sampai ia menyimpan dendam, apalagi hendak melibatkan istrinya yang dalam hal ini, tentu tidak tahu apa-apa sama sekali.
Sedangkan di rumah sakit. Sherin terlihat berkali-kali melihat jam dinding. Pasalnya, Alarik yang mengatakan hanya akan pergi sebentar, sudah jam delapan malam belum juga datang.
QUinsha saling lirik dengan Aura. Istri Damaresh itu juga datang ke rumah sakit, sesaat setelah azan Magrib. “Telepon saja, Rin!” usul Quinsha.
Sherin menggeleng. Entahlah, kenapa ada rasa dalam dirinya kalau saat ini Alarik sedang melakukan hal yang sangat penting, sehingga ia tak ingin mengganggunya.
“Aku saja ya, yang telepon Om Al.” Dan tanpa tunggu persetujuan dari Sherin, Aura segera menepi untuk menelepon Alarik.
“Om Al sedang dalam perjalanan kemari,” kata Aura memberitahukan. Sherin tersenyum senang mendengarnya.
“Sekarang, kalian gantian sholat isya ya,” usul Sherin.
“Aku duluan,” sahut Aura dan ia segera keluar. Setelah Aura datang dari mushola, giliran Quinsha yang pergi untuk Sholat isya.
Saat itulah kemudian Alarik datang dengan mengucap salam. Setelah menjawab salamnya, baik Aura dan Sherin sama-sama menoleh, dan melihat Alarik ternyata tak sendiri. Kedua wanita berhijab itu jadi terpana melihat Alarik datang bersama siapa.
__ADS_1
“Rafardhan Malik?”