
“Rafardhan?!”
Pemuda tampan itu tetap duduk di kursi pengemudi. Kepalanya yang bersandar nyaman pada sandaran kursi yang tinggi masih ditopang dengan lengannya. Tatapannya menerawang, menandakan kalau pikirannya sedang jalan-jalan. Ada asap mengepul di sekitar pemuda itu, asap yang menguarkan aroma sigaret.
“Kamu merokok?” tanya Quinsha.
“Sesekali aja,” sahutnya. Terlihat raut wajahnya menunjukkan rasa tak nyaman, karena telah ketahuan sedang merokok sendirian. “Sorry,” seraya menegakkan tubuh, mematikan rokok yang terhisap belum sampai separuh, lalu melemparnya keluar dari kaca mobil yang sedikit terkuak.
Quinsha masih terdiam, kini ia percaya kalau Rafardhan pasti sedang banyak pikiran. Keberadaan pemuda tampan itu saat ini bersamanya, adalah bagian dari usaha Rafardhan untuk menenangkan diri dari gejolak pikiran yang sedang meracuni.
“Ada apa, Quin?” tanya Rafardhan.
“Apa?” Quinsha balik bertanya.
“Kamu bilang, jadwal pulang kamu di atas jam satu siang. Sekarang baru jam sepuluh kamu sudah datang. Apa kamu mengkhawatirkan saya?”
“Saya ijin pulang duluan. Tapi bukan karena kamu.”
“Lalu?”
“Sahabat saya masuk ke rumah sakit. Saya akan menjenguknya sekarang,” urai Quinsha.
“Ok. Saya siap mengantarkan.”
Lebih kurang tiga puluh menit berselang, mobil sudah menapaki area parkir rumah sakit Saipul Anwar. Selama itu pula, tak ada komunikasi yang terjalin dari keduanya. Rafardhan yang diam saja. Quinsha juga enggan memulai kata.
Dalam waktu sekejap mereka telah berperan sebagai dua orang yang tak saling mengenal. Padahal beberapa jam berselang, Rafardhan telah menawari Quinsha untuk menjadi pacar. Penawaran yang membuat gadis itu berada dalam suasana perasaan tidak baik-baik saja untuk beberapa saat berselang.
“Quin tunggu sebentar.” Rafardhan mencegah Quinsha yang hendak buru-buru turun dari mobil.
“Ya ...?”
“Maaf untuk semua kekacauan yang sudah saya buat.”
“Ya, gak papa, saya maafkan,” sahut Quinsha dengan cepat.
“Terima kasih juga, kamu sudah menjadi teman saya hari ini,” ucap pemuda tampan itu lagi sambil melepaskan seat beltnya.
“Secepat ini kamu menghentikan peranmu sebagai sopir saya?
__ADS_1
RAfardhan sejenak tertawa renyah dengan pertanyaan dari Quinsha itu. “Mungkin lain kali, saya akan jadi sopir kamu lagi. Ayo kita turun,” ajak Rafardhan.
“Kamu mau ikut saya ke dalam? Mau ikut jenguk sahabat saya juga?” tanya Quinsha.
Rafardhan hanya menggeleng dan ia gegas keluar dari mobil, Quinsha pun mengikutinya. “Quin, jika suatu saat kamu tau siapa saya sebenarnya, tolong maafkan saya,” kata Rafardhan. Dan kali ini Quinsha masih diam, tak segera memberikan jawaban.
Dan Rafardhan sepertinya juga tak butuh jawaban, karena sesaat setelah ia mengucapkan kalimat itu, langkahnya segera bergegas meninggalkan Quinsha menuju sebuah mobil mercy warna putih yang rupanya sudah menunggu dari tadi.
Quinsha menghela napasnya pelan, ketika tubuh tampan itu sudah tak ia temukan lagi dalam pandangan. Terhalang gelapnya warna kaca mobil mewah yang berada jarak 20 meter dari Quinsha.
Gadis berhijab itu pun lekas teruskan niatnya masuk ke rumah sakit, untuk segera tahu kondisi Sherin. Dengan mengabaikan sejenak ucapan Rafardhan yang telah memantik rasa penasaran yang begitu dalam. Pun tentang diri pemuda tampan itu yang seperti memiliki teka teki yang terpendam.
Di dalam mobil mercy itu sendiri.
“Sudah?” tanya Adam singkat saat Rafardhan sudah duduk dengan nyaman di mobil mewahnya itu.
“Belum.”
“Kalo belum, napa gak diterusin”
“Kita balik ke Jakarta, besok saja. Gue masih mo pulang ke rumah bentar, tadi bunda gue telepon, minta waktu bicara ma gue,” Rafardhan mengalihkan pembicaraan.
“Lu aja sama yang lain berangkat nanti sore, Mas. Besok gue nyusul,” putus Rafardhan.
“Sama siapa lu besok?”
“Sendirian.”
“Yakin?” Adam memberi tatapan penuh keraguan.
“Lu pikir gue gak bisa ngurus diri gue sendiri?” Rafardhan menatap manajernya itu dengan pandangan tidak suka.
“Masalahnya, besok siang kita ada meeting pertama terkait projeck lu yang baru,” terang Adam.
“Gak bisa lu cancel, Mas?”
“Kali ini gue harus pakai alasan apalagi, Raf?”
“Mana gue tau,” sahut Rafardhan seenaknya. Pemuda tampan itu malah mengalihkan pandangan ke samping. Dan bersamaan dengan itu tatapannya berlabuh pada sebuah mobil land cruiser yang baru saja memasuki area parkir. Suatu kebetulan, mobil itu berhenti jarak 2 mobil dari mobil mewah Rafardhan. Sehingga pemuda tampan itu dapat dengan jelas melihat seorang laki-laki berusia 40 tahunan tapi masih terlihat sangat gagah dan tampan, turun dari mobil hitam itu dan bergegas masuk ke rumah sakit.
__ADS_1
“Jalan!” titah Rafardhan pada sopirnya, yang langsung patuh memenuhi perintah majikan tanpa membantah.
Sherin tersenyum melihat dua orang sahabat terkasihnya, kini duduk di samping kanan dan kiri Sherin, serta sama-sama menunjukkan rasa kawatir. “Aku gak papa,” kata Sherin dengan suara yang tercekat, karena rasa haru yang melekat.
Dokter memang tak mendiagnosa Sherin atas sebuah penyakit tertentu. Wanita itu hanya kelelahan dan tensi darahnya turun.
“Kamu sampai pingsan, jangan bilang gak apa-apa,” damprat Quinsha. “Aku ‘kan udah bilang beberapa waktu lalu, jalani aktifitasmu dengan senang hati, sebanyak yang kamu mau. Tapi jangan terlalu capek. Pisikmu itu butuh banyak istirahat. Karena psikismu udah kerja keras setiap saat,” lanjut Quinsha.
Sherin tersenyum. Ia tahu kalau Quinsha tidak sedang memarahinya, tapi justru itu sebentuk kekawatiran yang besar terhadap Sherin Mumtaza.
“Aku berasa dinasihati ibuku,” kata Sherin sambil tersenyum.
“Ya udah, anggap saja aku ibumu, sekarang,” sambut Quinsha.
“Mana ada. Malah aku yang lebih pantas jadi ibumu,” tandas Sherin.
“Boleh,” sambut Quinsha dengan sumringah. “Punya anak ganteng, gak? Yang bisa dijodohkan denganku?” tanya Quinsha dengan gaya sedikit berbisik, seolah takut akan didengar oleh orang lain. Sedangkan Aura sudah tertawa lebih dulu dengan ulah kedua sahabatnya itu.
“Ada,” jawab Sherin mantap.
“Itu.” Quinsha memberi isyarat pada perut rata Sherin. “yang masih harus aku tunggu launchingnya 9 bulan lagi. Iya kalau laki, kalau perempuan? Rugi berkali-kali lipat aku,” gerutu Quinsha. Yang kembali disambut gelak tawa oleh Aura.
“Bukan ini. Ada anaknya Mas Alarik, sudah 22 tahun sekarang,” kata Sherin. Quinsha yang mendengarnya segera menampilkan kerutan di kening. Beda dengan Aura yang langsung bertanya, “serius?”
“Ya”
“Dengan Kanaya?”
Sherin mengangguk pasti. “Iya. Katanya sih, anak itu laki-laki. Aku juga belum pernah ketemu,” katanya.
“Jadi ceritanya kamu mau menjodohkan anak sambungmu denganku, yang kamu sendiri belum pernah ketemu?” Quinsha menatap Sherin dengan raut wajah serius.
“Anak mas Alarik lho, Sha. Pasti gak jauh beda ‘kan dengan ayahnya. Sama-sama ganteng pastinya. Aku yakin meski belum pernah bertemu dengannya,” cetus Sherin dengan sangat yakin.
“Rin ini beneran? Beneran anak om Al masih hidup? Kok Aresh gak pernah cerita ini ya?” Tanya Aura lebih lanjut.
“Mas Alarik juga baru tau. Dia sangat sedih dengan fakta ini. Apalagi saat anaknya menolak untuk bertemu, dia sangat terpukul sekali,” urai Sherin. Aura yang mendengar itu segera ingin melanjutkan tanya. Tapi belum lagi kalimat pertanyaan ia lontarkan, terdengar sebuah sapaan menginterupsi.
“Sherin!”
__ADS_1