Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 113


__ADS_3

Akan tetapi harapannya tak segera terlaksana. Tak mudah untuk bisa memasuki syurga keindahan itu dan mereguk setiap keindahannya. Bukan karena adanya pengawal kejam yang membuat langkahnya tertahan. Bahkan ia sudah dipersilakan untuk segera menyelam dan tenggelam.


Tapi ternyata lautan madu bersegel sangat kuat dan ketat. Ia hampir tak dapat menembus pertahanan, meski berkali serangan telah dilakukan. Setiap serangannya selalu menemui kegagalan. Hampir saja Rafardhan putus asa dan menyerah, apalagi merasa tak tega dengan desis kesakitan yang meluncur dari bibir istrinya.


Tapi haruskah, pendakian berakhir sebelum sampai puncaknya? Haruskah ia menyerah sementara semangat tak padam bahkan kian menggelora dalam dada. Dan penampakan lautan madu itu yang sukses membuat rasa inginnya memuncak ke ubun-ubun, haruskah ia tinggalkan begitu saja? Apakah ia bisa?


Jawabannya tentu sudah bisa diterka. Tidak. Seperti yang sudah ia ucapkan pada Quinsha. Jika ia melanjutkan lagi, maka ia tak lagi punya jalan untuk kembali, selain membawa serta kenikmatan itu bersamanya. Lelaki itu memutuskan untuk terus menyerang, dan kini ia mulai pasang ancang-ancang, sebuah jurus andalan yang akan ia keluarkan.


Rafardhan menciumi wajah istrinya yang sudah berpeluh basah. Ia dekap tubuh itu dengan segala hasrat cinta. Sebelum kemudian ia tarik napas kuat. Dan jurus pamungkas nan terhebat ia keluarkan untuk dapat menembus gawang pertahanan.


Usahanya ternyata tak sia-sia. Gawang itu pun jebol juga, hampir bersamaan dengan jerit tertahan dari Quinsha, mengiring rasa sakit yang seakan mengelupas dada.


Gadis itu, yang kini telah sempurna menjadi seorang wanita, menggeleng kuat sambil berderai air mata. ‘Kenapa tak ada yang memberitahukan padaku, kalau rasanya sesakit ini’ rintihnya dalam hati seiring jatuhnya air matanya kembali.


“Maaf,” ucap Rafardhan sambil mendekap erat dan segenap rasa bersalah yang hinggap. “Maaf.” Dan sekali lagi ia berucap yang lalu mendapat anggukan dari Quinsha.


“Kau sangat kesakitan ya.” Rafardhan menatap Quinsha dengan tatapan tak tega. Wanita itu hanya tersenyum dengan menahan perih di bawah sana.

__ADS_1


“Tapi aku gak bisa berhenti, Sayang,” kata Rafardhan dengan terengah. Pasalnya ruang sempit yang menjepit batangnya di bawah sana, tak bisa ia nafikan kenikmatannya. Berhenti, adalah hal terbodoh dan tergila yang pernah dilakukannya. Dan sungguh, ia tak akan melakukan Kebodohan dan kegilaan itu. Tidak akan.


Saat Quinsha mengangguk, Rafardhan tak menyiakan waktu lagi. Segera lautan madu itu ia reguk, ia nikmati, dan ia cicipi dengan segenap rasa menggelora.


Tubuh Quinsha pun mulai bisa menyesuaikan diri, hingga rasa perih yang semula terasa perlahan berganti nikmat yang tiada tara. Hingga kemudian, dan kemudiannya lagi. Tapak kaki sang pendaki mulai mencapai puncaknya secara bersamaan. Dan seiring dengan erangan bercampur d3s4han hingga membentuk sebuah suara yang tak bisa di dekripsikan, keduanya sama-sama terhempas dan terkapar dalam sebuah sensasi yang tak bisa dibahasakan dan baru pertama kali juga dirasakan.


Maka bertasbihlah kedua insan yang baru mereguk indahnya syurga dunia, dengan memuji keagungan Tuhan. Bersyukurlah mereka atas mahkota yang sudah dijaga, kini jatuh dan terlepas di tangan yang sudah semestinya. Berterima kasihlah kedua pasangan itu terhadap diri masing-masing, atas ibadah yang telah dijalani bersama. Penuh perjuangan di awalnya, dan berakhir dengan sangat indah dan sangat manis terasa.


Tubuh nan bermandi peluh saling berpelukan, saling mengatur napas secara bersamaan. Lalu saling memandang, dan saling menyatukan senyuman. “Terima kasih, sayang,” ucap Rafardhan sepenuh perasaan.


Quinsha tersenyum. “Aku sudah sempurna menjadi istrimu sekarang,” ucapnya dengan penuh kelegaan.


“Jangan ada yang lain, ya,” harap Quinsha.


RAfardhan tersenyum seraya menarik tubuh ramping itu dalam dekapan. “Aku akan tinggalkan apa pun, yang akan membuatmu ragu padaku. Termasuk duniaku saat ini,” ucapnya sepenuh hati.


“Aku tak memintamu sejauh itu, Sayang,” sahut Quinsha.

__ADS_1


“Tapi aku memang sudah memikirkannya. Menjaga perasaanmu, jauh lebih penting dari pada menjaga nyawaku.”


QUinsha tertawa renyah mendengar ucapan suaminya itu.


“Aku lebay ya.” Rafrdhan menatap Quinsha seraya mengusap-usap anak rambut yang berjuntai di kening istrinya. “Tapi, sungguh ini yang kurasa,” lanjutnya.


Dan Rafardhan kembali mendekap tubuh Quinsha seakan tak ingin dilepaskan selamanya. “Begini ya rasanya, jatuh cinta pada istri sendiri. Dan begini ya rasanya bercinta dengan istri,” gumamnya yang ditanggapi Qhuinsha dengan senyuman.


“Sepertinya aku akan sangat ketagihan, Sayang.” Ucapan Rafardhan kali ini berakhir dengan desis kesakitan, karena Quinsha yang menghadiahinya dengan cubitan.


Keduanya kembali saling berpelukan, dan tak ada lagi kata yang terucapkan. Hingga kemudian terlihat tarikan napas mereka yang kian beraturan. Rupanya kedua insan itu sama-sama terbang ke alam mimpi, usai pergumulan yang panjang dan melelahkan.


Akhirnya.....


💕💕🌷🌷🌷


udah double up kannn...itu untuk mengganti yang gak up kemarin. pasalnya aku masih mengajak Rafa dan Quin bersemedi di puncak gunung, agar mereka siap untuk melakoni episode ini.

__ADS_1


semoga gak bosan ya dengan alur ceritanya..dan semoga gak bosan juga untuk memberikan dukungannya.


love u All


__ADS_2