
“Beres, Quin. Sebentar lagi mobil dereknya datang, ayo tunggu di galery saja,” ajak Rafardhan.
“Ee ...” Sekarang Quinsha jadi kebingungan, antara mau mengikuti ajakan Rafardhan atau tidak. Pasalnya, Arfan dan Zahwa sudah pergi, maka sandiwaranya pun seharusnya diakhiri. Tapi bagaimana jika ternyata sandiwara itu telah melibatkan Rafardhan, yang nyata-nyata telah membantunya lepas dari kesulitan.
Rafardhan yang sudah melangkah lebih dulu, kini menghentikan gerakan tumitnya, manakala tersadar kalau Quinsha tak mengikuti langkahnya. “Apa minta tangannya saya gandeng? Atau, saya gendong sekalian?” candanya pada Quinsha.
EH, dia bercanda apa beneran, tatap matanya terlihat serius saat mengatakan.
“Apaan sih,” tepis Quinsha.
Rafardhan itu artis yang sudah terbiasa melakoni seni peran. Berakting, adalah salah satu keahliannya. Hal itu yang selalu Quinsha tegaskan dalam hatinya, tiap kali ada kata-kata Rafardhan yang hampir berhasil melambungkan jiwa.
Akhirnya Quinsha melangkah juga, mengekor di belakang Rafardhan. Mereka terus masuk ke galery, dan menuju lantai atas. Selama berjalan itu, tak ada kata apa pun yang terlisan dari Rafardhan, hingga Quinsha merasa tak nyaman juga, dengan perasaan yang berkecamuk tanda tanya.
“Tunggu di sini ya, Quin. Saya mau menyelesaikan urusan saya dulu,” Rafardhan menunjuk ke arah sofa tunggu yang terlihat sangat empuk.
“Ya ... mungkin saya akan pulang saja, saya mau pesan taksi,” ujar Quinsha sebelum Rafardhan melangkah meninggalkannya sendirian.
“Nanti aja bicaranya, saya sangat terburu-buru.” Pemuda itu bahkan tak sempat menyelesaikan kalimatnya lebih dulu, ketika kakinya segera melangkah dan tubuh tegapnya menghilang di balik pintu.
Quinsha hanya bisa mengangguk. Meski ia tau, sudah tak ada yang bisa melihat anggukannya itu. Mau tak mau, gadis itu segera duduk menunggu. Ya, kembali menunggu. Jika barusan ia menunggui mobilnya yang tiba-tiba mogok itu, sekarang ia menunggu Rafardhan, yang entah sedang melakukan apa dalam ruangan itu.
Entah sudah berapa puluh menit yang dilalui oleh Quinsha dalam penantian yang membosankan. Ketika terasa kalau ada orang yang duduk tak jauh di depannya. Quinsha tak melihat kedatangannya, karena ia sedang sibuk Tadarrus di layar ponselnya. Entah benaran Tadarrus atau hanya sekedar menscroll akun media sosial.
“Mobilmu sudah dibawa, tadi ada yang memberi laporan pada saya.” Itu perkataan dari Rafardhan sesaat setelah tatap matanya beradu dengan Quinsha.
“Terima kasih ... dan maaf juga untuk semuanya,” ucap Quinsha.
Rafardhan terlihat mengangguk singkat. Tangannya lalu melambai pada seorang lelaki yang sedang melintas. Gegas lelaki itu menghampiri, dan Artis tampan itu segera memesan minuman padanya.
“Tak masalah, aku paham,” ucap Rafardhan kemudian pada Quinsha setelah lelaki itu pergi.
“Apa yang kamu pahami?” tanya Quinsha penasaran. Pasalnya ia tak menjelaskan apa-apa, tapi Rafardhan melontarkan kata ‘paham’.
__ADS_1
“Lelaki yang bersamamu tadi ...” Rafardhan memutus ucapannya begitu saja, demi untuk merubah posisi duduk yang kian bersandar pada sandaran kursinya di belakang.
“Kenapa dengan lelaki itu?” tanya Quinsha cepat.
“Dia siapa kamu?” Rafardhan malah balik tanya. Ternyata ucapannya adalah karena ingin bertanya, bukan karena ingin mencetuskan sesuatu tentang Arfan seperti yang diduga oleh Quinsha.
“Teman,” jawab Quinsha singkat.
“Teman saja?”
“Teman mengajar di Nada Hikam.”
“Teman yang harus dihindari,” tukas Rafardhan yang membuat Quinsha diam-diam menarik napas.
“Saya gak bermaksud memanfaatkan kamu, maaf,” sesal Quinsha dengan rasa sedih yang menyelinap. Rafardhan tak segera menjawab, karena minuman yang ia pesan sudah datang.
Dua gelas minuman yang terlihat menarik dengan tampilan garnis yang apik, diletakkan oleh lelaki itu di atas meja. Satu di depan Rafardhan dan satunya lagi di hadapan Quinsha.
“Minum Quin!” Rafardhan menyilakan, sebelum ia menjepit pipet minuman itu diantara bibir merah mudanya.
“Sudah terima undangan darinya?” tanya Rafardhan sejurus kemudian.
“Undangan apa?”
“Undangan pernikahan.”
QUinsha terhenyak, hampir saja minuman yang sudah masuk mulut ia tumpahkan lagi karena keterkejutannya. Untunglah gadis itu masih bisa menguasai situasi. “Apa selain berprofesi sebagai artis, kamu juga seorang cenayang?” lontar Quinsha.
“Anggap saja demikian,” sahut Rafardhan santai.
“Ya, undangan mereka sudah sampai ke saya kemarin.”
“Mau saya temani kamu ke acara mereka?” tawar Rafardhan. Dan lagi-lagi Quinsha tak segera memberi jawaban. Sepasang matanya menatap Rafrdhan dengan teliti. Yang ditatap hanya menampilkan ekspresi santai, seakan memang mengizinkan Quinsha untuk mengagumi ketampanan wajahnya.
__ADS_1
“Aneh ya?” lontar Rafardhan begitu Quinsha tak segera memberi jawaban.
Tentu saja aneh, Rafardhan itu artis terkenal. waktunya saja sudah diatur oleh Adam. Setiap kegiatannya hanya berorientasi pada hitungan rupiah atau dolar. Kenapa masih sempat-sempatnya dia menawarkan diri untuk menemani Quinsha pergi kondangan. Ada niat apa lelaki itu di balik penawarannya ini, atau lebih tepatnya ada motif apa dia di balik semua kebaikannya.
“Cukup aneh,” sahut Qhuinsha.
“Anggap saja kamu sedang memakai jasa saya,” cetus Rafardhan.
“Gak. Tarif kamu pasti mahal saya gak sanggup bayar,” tolak Quinsha disertai gelengan.
“Gratis, buat kamu, Quin.”
“Apalagi ini, kamu pasti punya tujuan tersendiri ‘kan?” selidik Quinsha. Ia tak tahan juga untuk hanya memendam saja segala praduganya.
“Saya harus jawab jujur?”
“Harus,” tegas Quinsha.
“Saya ingin kamu merasa terikat dengan saya,” jawab lelaki itu.
“Hah?” Quinsha dengan jelas menampakkan keterkejutannya. Deretan kalimat sudah tertata dalam benaknya, siap untuk meluncur dengan beraneka tanda baca. Bisa berupa pertanyaan, sanggahan, protes dan sebagainya.
Tapi Adam menghampiri mereka dan langsung berkata, “kita harus tiba di lokasi setengah jam lagi, Raf.”
“Ya, Mas.”
“Kalau begitu, saya pulang ya,” ucap Quinsha dan segera berkemas.
“Saya panggilkan taksi online, Quin.”
“Gak usah. Saya bisa sendiri.” Quinsha segera berdiri dan diikuti oleh Rafardhan.
“Maaf tak bisa mengantar ya, Quin.”
__ADS_1
“Saya yang harus minta maaf, sudah merepotkan kamu,” ucap Quinsha sambil tersenyum. Mereka melangkah beriringan dalam jarak yang terlalu dekat hingga tiba di lantai bawah galery.