
“Udah lama nunggu?” Wajah cantik Sherin menyembul dari balik kaca mobil yang terbuka.
“Lumayan. Lumayan kesemutan nih kakiku,” sahut Quinsha.
“Maaf ya, barusan masih ngantri di SPBU. Ya udah, yuk masuk!” Pintu mobil itu terbuka dari dalam, gegas Quinsha membawa tubuhnya masuk dan duduk di samping Sherin, sembari menarik napas lega. Segenap rasa syukur menggema di rongga dada, karena akhirnya bisa berangkat ke Yayasan tepat pada waktunya, dan naik mobil pula. Bukan naik ojek Online seperti yang disarankan uminya.
Dalam obrolan di grup chat semalam, Quinsha tahu kalau hari ini Sherin akan ke kota untuk suatu keperluan. Gadis itu pun tak menyiakan kesempatan untuk meminta tumpangan, karena tunggangan pribadinya yang disekolahkan, masih belum selesai, dan belum kembali ke kandang.
“wajahmu pucat Rin, kurang istirahat ya.” Itu ucapan Quinsha setelah sesaat memerhatikan wajah Sherin Mumtaza.
“Istirahat seperti biasanya, cuman belakangan ini, aku sering ke Pabrik bantu-bantu para pekerja. Lumayan menyenangkan juga,” terang Sherin dengan wajah cukup berbinar bahagia.
“Mencari kesibukan, untuk pengalihan ya?” tukas Qhinsha.
“Di antaranya. Tapi banyak pelajaran juga yang bisa kuambil dengan bersama mereka.”
“Semangat ya, lakukan apa saja yang membuatmu suka, terlebih lagi jika dengan itu membuatmu semakin bijaksana. Tapi jangan lupa istirahat. Tuh, wajahmu pucat,” tunjuk Quinsha ke wajah Sherin.
“Makasih ya, perhatiannya ukhty fillah ku.” Sherin menepuk-nepuk pipi Quinsha.
“Pabrik gimana sekarang?” tanya Quinsha sejurus kemudian.
“Sudah mulai dibangun.”
“Oya? Secepat itu? ... ya, maklumlah, suami kamu orang kaya. Bukan perkara sulitlah, untuk kembali membangun pabrik,” cetus Quinsha.
Sherin menggeleng cepat. “Bukan sepenuhnya kemampuan suamiku, tapi itu atas bantuan dari suami Aura juga.”
Apa yang dikatakan oleh Sherin memang benar. Hanya selang satu hari sejak peristiwa kebakaran, Damaresh datang membawa teman yang adalah seorang arsitek. Saat itu, Alarik bahkan sangat kaget dengan tindakan cepat keponakannya. Tapi Damaresh mengatakan, kalau pabrik harus segera kembali didirikan, agar para pekerja tak kehilangan mata pencaharian.
Dan ternyata tindakan Damaresh tak hanya sebatas itu, kemarin ia mengajak Alarik ke Jakarta. Tepatnya ke sebuah perusahaan retail terbesar di Negara ini, untuk sebuah penandatanganan kontrak kerja sama.
“Yang aku dengar, kalau suami Aura itu memang pebisnis handal, jeli dan jenius katanya,” papar Quinsha. Sherin mengangguk mengiyakan.
Selanjutnya pembicaraan keduanya terhenti oleh pertanyaan dari supir Sherin yang menanyakan arah jalan ke yayasan Nada Hikam. Quinsha segera menjelaskan dengan rinci dan terang.
“Nanti pulang jam berapa, Sha?”
“Biasanya di atas jam satu.”
__ADS_1
“Telepon ya, nanti aku minta pak Udin untuk jemput.” Sherin memberi isyarat pada supirnya di depan.
“Ah gak usah, aku gak mau merepotkan. Mana tau nanti siang mobilku udah selesai,” tolak Quinsha.
“Udah telepon bengkelnya?”
Quinsha menggeleng sambil menahan napas. Itu sebenarnya yang menjadi permasalahan. Quinsha kemarin tak sempat bertanya pada Rafardhan, ke bengkel mana mobilnya disekolahkan. Gadis itu sudah berkali menelepon Rafardhan dari sejak semalam, tapi teleponnya tak pernah mendapat jawaban.
Bahkan pagi tadi pun, Quinsha berkali menghubungi nomor sang artis terkenal, selalu saja keterangan sama yang ia dapatkan. Berupa penjelasan operator seluler yang memberitahukan, kalau nomor yang dituju, tak bisa dihubungi.
“Loh? Kenapa gak ditelepon, Sha?” tanya Sherin heran.
“Iya, karena aku bahkan tak tau, alamat bengkelnya di mana, apalagi nomor teleponnya.”
“kok bisa? Memang yang bawa mobilmu ke bengkel itu, siapa?”
“Rafardhan,” sahut Quinsha pelan.
“Rafardhan? Artis itu?”
Quinsha mengangguk dengan wajah meringis, perasaannya sudah dapat menangkap adanya sinyal bulying dari sahabatnya itu setelah tahu tentang hal ini.
Akhirnya, Quinsha harus menceritakan semuanya dengan rinci tanpa ada yang terlewat, dari sejak mobilnya ngadat, kedatangan Zahwa bersama Arfan serta panggilan Quinsha yang nekat, saat melihat Adam lewat.
Sherin tak segera memberikan tanggapan, meski penuturan Quinsha sudah selesai. Ia masih memerhatikan wajah sahabat cantiknya itu dengan senyuman.
“Aku jadi curiga kamu tatap begitu, Rin,” ringis Quinsha.
Sherin tertawa renyah. “Aku hanya sedang berpikir, mungkin setelah hatimu lepas dari Arfan, sekarang akan berpindah pada seorang artis terkenal.”
“Gak,” jawab Quinsha cepat, bahkan disertai gelengan kuat. “Aku membaca quotes di akun instagram. Kalimatnya gini, Tuhan, jika aku akan jatuh cinta lagi, maka jatuh cintakan aku pada seseorang yang bisa aku miliki. Karena patah hati, bukanlah episode yang ingin ku ulangi kembali."
Tak hanya sebatas memberitahukan apa yang telah ia baca, Sherin paham kalau Quinsha akan menerapkan hal itu dalam hidupnya. Sakit akan cintanya pada Arfan masih belum usai. Mana mungkin hati yang masih terluka karena cinta, akan dapat menampung cinta lain, apalagi untuk suatu cinta yang bisa dikata tidak mungkin.
“Sakit, tau gak, Rin. Terjebak dalam kisah cinta tak bertuan. Sakitnya tuh, tidak bisa didefinisikan,” papar Quinsha.
“Jangan beritaukan aku tentang hal itu, Sha. Aku sudah lebih alim dari pada kamu,” sahut Sherin.
“Wah iya, aku lupa kalau kita punya nasib yang sama.” Kekeh Quinsha, dan Sherin pun mengikut juga.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun sampai di yayasan Nada Hikam, setelah melewati beberapa obrolan dengan pasal yang bermacam-macam. Quinsha turun di jalan depan yayasan, setelah mengucap salam dan melambaikan tangan, gadis cantik itu pun melenggang masuk ke halaman.
QUinsha segera tundukkan pandangan, pura-pura tak melihat saat akan berpapasan dengan seseorang. Tapi malah justru Arfan menyapa duluan.
“Quinsha baru datang?”
“Ya.”
“Saya pikir kamu sudah datang dari tadi. Karena saya lihat mobilnya sudah ada di parkiran” terang Arfan.
“Mobil saya?” Quinsha menunjukkan raut heran.
“Ya, itu!” tunjuk Arfan pada mobil putih kesayangan Quinsha yang hampir 24 jam tak menghiasi pandangan.
Quinsha gegas menghampiri, memerhatikan dan meneliti. Memang benar kalau itu memang mobilnya. Tapi pertanyaannya sekarang, siapa yang telah membawa mobilnya ini ke yayasan.
Sementara Quinsha bertanya-tanya heran, tiba-tiba saja terdengar tanya dari seseorang. “Mbak Quinsha Daneen ya?”
“Ya, benar. Siapa ya?” Quinsha menatap lelaki yang belum pernah dikenalnya itu dengan seksama.
“Saya pekerja bengkel yang membawa mobil, Mbak kemari,” jawab lelaki itu.
“Oh.” Quinsha segera memahami situasinya. “Jadi berapa biayanya, Mas?” ia segera bertanya.
“Sudah diselesaikan, Mbak pembayarannya.”
“Sudah dibayar? Siapa yang bayar?”
“Atas nama Rafardhan Malik.”
QUinsha langsung terdiam. Di kepalanya langsung bercokol nominal. Nominal hutangnya pada Rafardhan yang harus dibayar. Semoga saja gaji bulanan dari Nada Hikam, cukup untuk melunasi semua tanggungan hutang.
“Rafardhan Malik itu, artis terkenal itu ya, Mbak?” tanya si orang bengkel yang menyadarkan Quinsha dari lamunan.
“Iya.”
“Apa mbak Quinsha ini pacarnya Rafardhan?”
“Bukan, Mas. Saya ini istrinya,” sahut Quinsha asal. Jengah, itu yang dirasa oleh gadis itu tiap kali mendapat pertanyaan demikian. Akhirnya ia jawab saja asal-asalan.
__ADS_1
Hati-hati ya Quinsha. Semoga jawabanmu itu tak menjadi masalah kemudian.