
Bayangan terhampar di depan Leon dan Ellise. Ketika bayangan tersebut memudar, tampak sebuah lapangan luas berbentuk hologram di sana.
Ellise membuka mata, sementara Leon tengah asik mengobservasi hologram yang dibuat oleh Ellise tadi. Seketika menjadi hening, Leon bergeming sambil terus mengamati dengan saksama.
"Baiklah, jadi ini adalah dunia kita?" Leon mengusap kepala. "Lingkungannya jauh lebih baik dari perkiraanku."
"Ini adalah ingatan saat terakhir kali aku berada di sana. Jadi, kuharap semuanya masih sama."
"Tak masalah, yang terpenting adalah aku bisa membuat ini di dalam kepala lalu kita sampai."
"Seyakin itukah kau?" Ellise menaikkan sebelah alis.
"Masalah berhasil atau gagal kita kesampingkan saja dulu, karena jika gagal kita bisa terus mengulanginya. Untuk itulah aku lebih baik yakin pada diriku sendiri."
Leon tersenyum, kemudian dia memudar dari pandangan Ellise. "Haha, meskipun ingatanmu telah berubah, ternyata sifatmu masih tetap sama," gumam Ellise, pelan.
Leon membuka mata, pemandangan dari debu bertebaran dapat terlihat olehnya. Dia meregangkan otot, membuat tubuhnya dalam kondisi senyaman mungkin.
Perlahan dia menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Teknik ini lagi-lagi bisa membuat pikirannya tenang.
Dalam pikiran yang telah kosong, ia membayangkan lapangan hijau luas yang ditunjukkan oleh Ellise kepadanya. Aliran energi mengalir ke sekujur tubuhnya kala angin berembus kencang.
Bayangan mulai keluar dari tubuh Leon, auranya memancarkan sesuatu yang berbeda. Kelam dan dingin, mungkin itu cocok untuk menggambarkannya.
Mata Leon bercahaya, tangan kanannya terulur, dan bayangan dari tubuhnya mulai membuat pintu. Keringat membanjiri tubuh Leon. Napasnya sedikit terengah usai membuat pintu melayang berwarna putih di hadapannya.
"Aku tidak menyangka kalau menentukan koordinat pintu sungguh memerlukan banyak tenaga," ungkap Leon.
Tentu saja, menentukan koordinat pintu secara acak memang tak terlalu melelahkan, tapi beda halnya kalau kau menentukan koordinatnya. Sudah, ayo kita pergi ke dunia asal kita. Aku sungguh tidak bisa menunggu lagi.
"Ya, kuharap lapangan indah yang kau maksud itu tidak berubah."
Leon melangkahkan kaki ke dalam pintu, di balik pintu mereka masuk ke dimensi di mana kotak-kotak hitam berada. Namun, tak jauh dari pintu masuk mereka, terdapat sebuah pintu lain yang juga berwarna putih.
Akhirnya, apa yang dinanti oleh Leon dan Ellise tercapai. Dengan penuh semangat Leon menapakkan kaki memasuki pintu. "Mari kita lihat apa yang ada di sana, Ellise."
__ADS_1
Ayo!
Sekali lagi mata Leon terbelalak, wajahnya yang tadi berseri-seri penuh kecerian, sekarang berganti menjadi tegang. Mereka sangat terkejut kala melihat sebuah lapangan tandus dan berbatu.
Apakah kita salah? tanya Ellise.
"Mustahil, aku sudah membayangkan dengan benar tempat yang kaumaksud. Mulai dari seberapa besar tarikan gravitasi serta aliran energi di dalamnya."
Pintu di belakang Leon sudah menghilang. Jauh di depan sana, tampak puing-puing bangunan yang sudah rata dengan tanah.
Seharusnya di sana adalah laboratorium tempatmu dulu bereksperimen.
"Tapi lihatlah, tidak ada apa-apa di sana selain puing-puing," bantah Leon.
Sebaiknya kita lihat.
"Baiklah, aku juga sedikit penasaran."
Leon bergegas menuju puing-puing bangunan. Memang benar, hanya tersisa bebatuan serta tembok juga besi. Kayu-kayu pun ikut berserakan, sungguh sulit untuk dibayangkan.
Tidak hanya itu, pecahan kaca serta plastik pun bisa ditemukan dengan mudah.
Akan tetapi, bukan menyetujui sangkalan Leon, Ellise malah membantah, Ini adalah kenyataan, Leon. Jika memang seperti ini, pasti ada penyebabnya.
"Tapi apa?" Sungguh, Leon sudah tak mengerti lagi pada keadaan.
Tarikan gravitasi dan aliran energi di sini masih sama persis seperti sebelum kita meninggalkan tempat ini. Namun, perbedaannya terdapat pada temperatur udara.
"Dan aku yakin ini pasti bukan dunia kita."
Sepertinya kau ingin menyangkal terus kenyataan ini, tetapi ada sesuatu yang memang perlu kau terima apa adanya. Temperatur udara bukanlah hal mutlak, karena bisa saja meningkat seiring menipisnya ozon.
"Aku tahu, tapi ...."
Belum sempat Leon melampiaskan kekesalan pada sekitar, suara ledakan langsung menggema hingga membuatnya berpaling. Leon berbalik, menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Sumber ledakan tadi ada di depan sana, bahkan tampak asap yang membumbung tinggi oleh mata Leon. Segera Leon berlari, melewati padang tandus ini tanpa memerhatikan sekitar.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini, Ellise?" tanya Leon.
Aku tidak tahu, tapi pastilah bukan hal yang baik.
Leon lantas mempercepat langkah agar dapat sampai sesegera mungkin. Kembali lagi terdengar oleh telinganya sebuah ledakan dahsyat. Lalu asap pun membumbung tinggi usai terjadi ledakan.
Beberapa saat berlalu, kini Leon sudah berada tepat di belakang pasukan bersenjata yang tengah melawan seekor mahkluk besar berwujud anjhing.
"Cepat lemparkan granat lagi!" seru seorang prajurit berseragam coklat memerintah prajurit lainnya.
Tak lama berselang, granat pun dilemparkan pada mahkluk besar seperti anjhing itu. Suara ledakan menggema, para prajurit masih fokus menyerang menggunakan senapan mereka.
"Kita tahan Chimera ini hingga para Pelahap Energi tiba!" Sekali lagi prajurit tadi berseru lantang.
Leon sudah tidak tahan melihat hewan besar di hadapannya ini. Segera dia mengayunkan tangan kanan bayangnya ke atas, lalu sebuah pilar bayang muncul dari dalam tanah dan menembus perut mahkluk bernama Chimera itu.
Darah hewan tersebut berwarna hitam, tidak seperti hewan yang ada di bumi. Namun, Leon tidak terlalu peduli pada hal itu.
Para prajurit langsung berpaling ke belakang, menatap Leon dengan heran. Mereka lantas berteriak karena kemenangan ini.
"Hua! Pelahap Energi memang tak diragukan lagi kekuatannya!" Mereka terlihat begitu girang kala seseorang menyerukan kalimat tersebut.
Leon, sepertinya kau dipandang hebat oleh mereka. Tidak maukah kau menyapa para prajurit ini? tanya Ellise, sengaja ingin menggoda Leon.
Tidak penting, sebaiknya aku memeriksa hewan apa itu sebenarnya, jawab Leon, tak acuh.
Leon segera berjalan, mengabaikan sorakan para prajurit. Ketika sampai di tempat Chimera tadi meregang nyawa, Leon langsung merendahkan tubuh untuk memeriksa darah berwarna hitam dari mahkluk itu.
Ini pasti bukan hewan yang berasal dari dunia kita, Ellise. Leon berdiri, menerawang sekitar untuk mencari tahu lebih lanjut tentang dunia ini.
Kalau memang benar begitu, kenapa kau dapat mengerti apa yang dikatakan oleh mereka? Bukankah itu artinya ini memang dunia kita? Ellise seketika membantah pernyataan Leon.
Kau benar, tapi sulit dibayangkan kalau ada hewan berdarah hitam di sini. Dan lagi, anjhing besar ini tidak memiliki bulu seperti pada umumnya.
__ADS_1
Ada kemungkinan mereka itu.... Perkataan Ellise langsung terpotong. Tidak, Leon, aku baru ingat sekarang. Alasan kenapa laboratorium itu dibuat. Alasan mengapa kita memiliki kekuatan super. Itu tidak lain adalah untuk ini, untuk mengalahkan para mahkluk luar angkasa yang datang secara tiba-tiba.
Meskipun begitu, kenapa ayahku tidak melarangku untuk menciptakan pulau misterius serta bermain-main di sana?