The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 5 : Hanya Ini Kemampuanmu


__ADS_3

Seekor mahkluk berwarna hijau dengan tubuh sebesar manusia, tetapi mirip seperti kadal yang berdiri menggunakan kedua kaki tengah bertarung. Dia menyerang seorang pemuda berkaos merah memakai peluru angin dari dalam mulut.


Pemuda berkaos merah lengan pendek dan berikat kepala merah itu mundur terus menerus karena terdesak. Pedang berapi-api miliknya tak henti menangkis semua serangan mahkluk seperti kadal itu.


"Cih!" Si pemuda melompat ke belakang, tetapi peluru angin terus keluar dari mulut kadal yang menyerangnya. "Chi sialan!" Api membakar habis pemuda itu, kemudian api yang berkobar tersebut merambat ke batang pedangnya.


Sekuat tenaga dia menebaskan pedangnya secara vertikal. Kobaran api dahsyat yang berputar membentuk setengah lingkaran lantas melesat kepada kadal di hadapannya. Namun, kadal tersebut tetap tenang lalu mengumpulkan energi angin di mulutnya untuk menembakkan bola angin.


"Sial!" Si pemuda berdecak kesal.


Ledakan besar terjadi, hantaman dua buah serangan tadi cukup kuat. Bahkan si pemuda api terpaksa harus mundur lebih jauh untuk menghindari serangan. Akan tetapi, kadal tadi masih tetap berada pada tempatnya tanpa bergerak sedikit pun.


"Ternyata benar, Chi ini mampu mengubah energi misterius di bumi menjadi energi lain. Mereka tidak jauh berbeda dari Pelahap Energi tingkat 3 seperti aku," gumam pemuda itu.


Sebuah bola angin raksasa melesat cepat ke arah si pemuda, tetapi dia masih belum siap untuk menahannya. "Gawat!" Secepat kilat dia mengayunkan pedang karena panik sambil berharap keajaiban terjadi padanya.


Benar saja, sebuah tembok berwarna hitam mencuat dari tanah dan berhasil menahan serangan bola angin tadi. Si pemuda berpaling ke belakang, di sana terlihat seorang pemuda berambut hitam tengah berlari mendekatinya. Harapan langsung muncul di dalam benak pemuda itu.


"Jangan-jangan dia adalah seorang Pelahap Energi tingkat 2, keren...." Matanya berbinar, senang melihat orang yang baru saja menolongnya.


"Pergi dari sini! Biar aku melawannya!" seru orang itu kepada pemuda berkaos merah.


"Baik!" Segera pemuda itu pergi dari pertempuran. "Seorang Pelahap Energi tingkat 2 bisa dengan mudah mengalahkan Chi, aku tidak perlu khawatir," gumamnya saat tengah berlari.


Sementara itu, pemuda berambut hitam yang menggantikan pemuda tadi kini berhenti sambil mengamati kumpalan asap.


Pemuda ini tidak lain adalah Leon, itu bisa dilihat dari kekuatannya. Tak lama, sebuah bola angin besar melesat padanya. Akan tetapi, Leon hanya bergeming, kemudian sebuah pilar berwarna hitam muncul dari tanah dan menghantam bola angin tersebut.


Tidak berhenti di sana, monster yang disebut Chi itu melompat ke arah Leon. Tangan kanan Leon seketika berubah bentuk, bulat dan berujung runcing layaknya sebuah tombak.


"Ha!" Sekuat tenaga Leon melakukan pukulan ke arah Chi menggunakan tangan kanan.

__ADS_1


Namun, Chi berhasil menahan serangan tersebut menggunakan perisai angin. Chi mendarat, mengambil jarak cukup jauh dari Leon.


"Ada apa?" tanya Leon, tak acuh. "Apakah hanya itu kemampuanmu, Kadal Berdiri?"


"Siapa yang kau bilang kadal berdiri, hah?" Chi tampak kesal mendengar provokasi Leon. "Aku adalah Mex, seorang Chi!"


"Hooh ... jadi kau bisa berbicara dengan bahasa manusia?" Leon sedikit terkejut, tidak menyangka kalau mahkluk bernama Chi ini bisa berbicara layaknya manusia.


"Kau pikir tidak ada mahkluk lain yang lebih pintar dari kalian para manusia di alam semesta ini?"


"Tidak tahu dan ...," ucapan Leon terhenti, "matilah!" Pemuda itu membuat beberapa tombak mencuat dari dalam bumi, tetapi Chi berhasil menghindar dengan melompat.


Begitu banyak peluru angin ditembakkan oleh Chi dari dalam mulutnya. Leon mengarahkan lengan kanannya ke depan, lalu mengubahnya menjadi perisai bayang berwarna hitam.


Masih belum selesai, kini serangan balasan dilancarkan oleh Leon. Dari perisainya keluar begitu banyak peluru bayang yang melesat cepat pada Chi.


Sekarang Chi lebih berfokus pada pertahanan, dan kesempatan itu dimaksimalkan oleh Leon agar lebih leluasa menyerang.


Chi tidak mau tinggal diam, mahkluk itu mengumpulkan energi di sekitar, kemudian mengumpulkan serta mengubahnya menjadi bola angin raksasa. Serangan dia lancarkan pada Leon, tetapi pemuda itu tetap tenang, tak terpengaruh keadaan.


Perlahan tapi pasti, Leon menebaskan pedangnya secara vertikal ke arah bola angin Chi. Seketika itu juga, bola angin raksasa itu terbelah menjadi dua.


Tak cukup sampai di sana saja, pedangnya bahkan mampu membelah tubuh Chi menjadi dua bagian pula. Semuanya terjadi hanya dalam sekejap, angin berembus kencang akibat terbelahnya serangan Chi tadi.


"Entah kenapa aku merasa kekuatanku terus meningkat saat dipakai," gumam Leon, heran. "Tapi sudahlah, tidak perlu dikhawatirkan." Dia pun membatalkan tekniknya dan mengembalikan lengan kanannya seperti semula.


Dari arah belakang, seseorang berteriak karena takjub kepada Leon.


"Hebat! Sungguh hebat! Inikah kekuatan Pelahap Energi tingkat 2 itu?" Wajah pemuda yang memuji Leon berseri-seri. "Aku tidak menyangka kau dapat mengalahkannya begitu mudah. Seandainya itu tadi aku, aku tidak terlalu yakin bisa mengalahkannya."


Leon hanya diam sambil memerhatikan tindakan pemuda di depan matanya itu. "Kau siapa?" tanya Leon, datar.

__ADS_1


"Ini aku ... Sun, si Pelahap Energi tingkat 3 yang baru saja kau selamatkan tadi," jawabnya, girang.


"Oh, begitu. Aku Leon. Salam kenal." Leon menjulurkan tangan.


Sun tampak bingung harus menerima jabatan tangan ini atau tidak. "Tuan, Leon. Aku tidak setara dengan Anda. Jadi...."


"Terus kenapa? Apakah ada masalah dengan itu? Semua manusia itu setara."


Kali ini Sun tersenyum tulus juga terharu. Selama ini, karena kesenjangan kekuatan antara Pelahap Energi tingkat 2 dan tingkat 3, membuat mereka yang berada di tingkat 2 benar-benar mengabaikan tingkat 3. Bahkan, saat bertugas pun, tingkat 3 selalu dijadikan umpan oleh tingkat 2. Namun, kali ini berbeda, ada orang kuat yang menganggap semua manusia setara.


"Kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan menanyakan sesuatu." Leon menarik kembali uluran tangannya.


"Apa itu, Tuan?"


"Berhenti memanggilku 'Tuan' panggil saja aku Leon, mengerti?" Sesungguhnya Leon sedikit terganggu atas panggilan 'Tuan' itu.


"Tapi Anda...."


"Berhenti bersikap formal atau kulemparkan kau ke kawanan Chimera."


"Ba ... baik, Leon...." Sun tampak ragu, tetapi akhirnya mampu mengatakan nama Leon.


"Kalau begini kan terdengar lebih baik." Leon menghela napas, kemudian langsung masuk ke topik yang ingin dia dengar. "Sebenarnya aku tidak tahu harus memulai ini dari mana, tapi, bisa kau beritahu aku sesuatu?"


"Apa itu?" Sun memiringkan kepala.


"A...." Tiba-tiba mulut Leon bungkam, kata-katanya terhenti karena suara Ellise.


Jangan jelaskan keadaanmu padanya! Aku curiga dia akan mengganggapmu sebagai musuh atau mata-mata musuh, kata Ellise.


Lalu, apa yang harus kukatakan? Aku ingin tahu di mana markas para Pelahap Energi yang dimaksud olehnya.

__ADS_1


Bukan berarti kau harus membongkar identitasmu, kan?


__ADS_2