
“Kau yang seharusnya kuperingatkan. Tapi, tenang saja, Leon. Aku pasti akan mengenang hari kematianmu ini.”
Verx mengayunkan pedangnya beberapa kali, kemudian melesat dengan cepat ke arahku. Aku pun tak mau kalah dan melesat ke arahnya. Menggunakan tekanan udara, aku melompat, mengangkat pedang bayangku ke atas, lalu menebaskannya secara vertikal. “Hia!”
Sigap, Verx langsung berhenti dan menahan serangan pedangku dengan pedangnya. Suara benturan berdenging di telinga, tidak seperti sebelumnya, pedangku tidak dapat menyerap pedang energinya, seperti aku menyerap pedang energi Roman. Pasti ada suatu syarat tertentu untuk mengaktifkannya, tetapi apa?
Sekali lagi aku memanfaatkan tekanan udara untuk melayang ke belakang. Ternyata ini sebabnya Roman dapat dengan cepat menghindari seranganku tadi itu. Cukup berguna.
Mendadak, Verx melompat ke arahku, seperti saat aku menyerangnya. Tak mau ambil risiko, aku segera mundur sejauh mungkin. Di bawah sana, tampak Darwis yang tengah mengamati pertarungan kami. Tanpa jeda sedikit pun, Verx kembali melancarkan serangan menggunakan pedang. Namun, aku dapat menahannya dengan pedang bayangku.
Berkali-kali pedang kami saling beradu, agar dapat menang, aku menebaskan juga cakar di tangan kiriku yang telah dilapisi oleh bayangan. Verx langsung mundur ketika menyadari cakarku hampir mengenai tubuhnya. Pertarungan ini jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.
Ingin sekali aku mengeluh, tetapi itu tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Kemampuan dan kekuatan tempur Verx jauh lebih hebat dibandingkan Roman. Benar-benar merepotkan, jika ada satu celah saja.
“Sia-sia saja kau mencari celah yang memang tidak ada.” Mendadak Verx menebaskan pedangnya ke udara, membuat serangan garis setengah lingkaran kepadaku.
Aku pun menebaskan pedangku ke udara, sama seperti Verx. Serangan kami saling beradu, dan hasilnya seimbang, tak ada yang menang atau kalah. Tanpa kusadari, begitu banyak bola api dari bawah, melesat kepada Verx. Itu adalah serangan Darwis. Jadi, dia ingin membuat celah. Akan tetapi, kilatan berwarna jingga langsung melingkupi tubuh Verx seperti sebuah telur.
“Sial! Dia benar-benar tidak membiarkan celah walau hanya sedikit saja.” Sebuah senyum tipis, terbentuk di bibirku. “Tapi, itu bukanlah masalah.” Tangan kananku langsung tertutup oleh bayangan yang begitu besar, hingga membuatnya terlihat seperti tangan raksasa.
Pedang bayangku pun membesar, mengikuti besarnya tangan bayang milikku. Langsung kutebaskan pedangku secara horizontal dari kanan ke kiri tepat kepada Verx. Namun, pemuda itu masih sangat santai karena percaya pelindungnya mampu menahan seranganku itu.
__ADS_1
Benturan terjadi. “Hia!” Aku semakin memperkuat tebasan pedangku. Di sisi lain, Verx tampak kesusahan bertahan karena seranganku ini. “Hia!” Kekuatanku semakin meluap, lalu pelindung Verx pecah, sehingga pedangku dapat memotong tubuhnya menjadi dua bagian.
Aku menghela napas lega, sedangkan tubuh Verx yang tidak bernyawa jatuh ke tanah. Dalam sekejap, bayangan yang menutupi sekujur tubuhku menghilang. Kemudian, aku turun dengan perlahan, tepat di sebelah mayat Verx. Darwis pun datang mendekat, aku menundukkan kepala, lagi-lagi merasa hampa setelah membunuh.
“Tunggu.” Sontak aku memeriksa lengan kanan Verx yang untungnya tidak hancur. “Kuda?” Kupalingkan pandanganku pada Darwis. “Apa maksudnya ini? Bukankah dia seharusnya Klan Ular?”
“Tidak tahu. Aku saja tak mengenal siapa dia, itulah kenapa sedari tadi aku hanya diam.”
Sekali lagi aku memalingkan pandanganku ke arah lengan Verx. Benar, tato di lengannya adalah gambar kuda, bukan ular. Apakah itu berarti tebakanku tentang pembagian Klan ini salah? Artinya, pembagian Klan baru ada ketika tato ini muncul. Ah, aku tidak mengerti lagi.
“Pikirkan itu nanti!” Darwis mengalihkan pandangannya ke arah timur, di mana banyak sekali ledakan terjadi, mengakibatkan asap dan debu bertebaran. Wajar jika terjadi pertempuran di sana, karena wilayah itu adalah tempat berdirinya tugu yang kami tuju. Tidak, tetapi tujuan semua orang yang ada di sini adalah memasukki tugu tersebut.
“Kau benar, sekarang kita harus fokus menghadapi perang besar ini dulu.” Kami pun langsung berlari ke arah timur, bukan ke tempat pertarungan, melainkan ke arah tugu. Tujuan kami bukan untuk bertarung, tetapi memanfaatkan situasi agar bisa masuk ke dalam tugu tanpa perlu usaha.
“Melihat kerusakan yang terjadi, mungkin itu benar.”
Sebelum kami dapat keluar dari gang, Darwis terpental ke belakang seperti menabrak sebuah dinding. Aku pun langsung menyangganya agar tidak jatuh ke lantai.
“Kau baik-baik saja.”
“Ya.” Dia menggosok keningnya dengan tangan kanan sembari sedikit mejauh dariku. “Sudah kuduga tidak akan semudah ini.”
__ADS_1
Ketika mengamati bagian atas, terlihat sebuah kalimat berwarna hitam di sana. “Tiga Klan?” ucapku. “Kau tahu apa artinya itu, Darwis?”
“Mungkin itu adalah jumlah Klan yang masih bertahan hingga sekarang.”
“Ketemu!” seru seseorang entah dari mana.
Aku melirik sekitar, lalu dinding es terbentuk di sekitar kami. Benda tersebut memerangkap kami, tetapi orang yang membuatnya entah ke mana. Bagian atas sudah hampir tertutup, tanpa membuang waktu, aku langsung menggunakan pilar bayang besar yang muncul dari tanah untuk menghancurkannya. Ternyata kekuatanku sangat bermanfaat.
Darwis pun membuat beberapa bola api yang kemudian menghancurkan dinding es di sekitar kami. Sedangkan aku mengubah pilar bayangku tadi menjadi jirah. Mataku melirik ke sana-sini, tidak terlihat orang yang hendak mengurung kami dengan dinding es.
“Haha, bagus sekali, Leon.”
Segera kupalingkan pandanganku ke atap sebuah rumah, di sana tampak sesosok gadis berambut panjang. Mulutku langsung terbuka, mengucapkan sebuah nama, “Li-Lize?” Di sebelah gadis itu ada seseorang yang mengenakan jubah dan tudung hitam.
Tak lama, beberapa tombak dari es melayang di sekitar mereka berdua, lalu melesat dengan cepat ke arah kami. “Serahkan ini padaku!” Darwis membuat beberapa bola api di sekitar kami, kemudian melancarkan serangan ke tombak es tadi. Segera kami mundur, menjaga jarak dari kedua orang yang ada di depan sana.
Aku melompat ke atap sebuah rumah, diikuti oleh Darwis. Kedua orang tadi masih bergeming, lalu orang berjubah, melepaskan jubah hitamnya dan membuang benda itu ke tanah. Sekarang aku tahu kalau dia adalah teman Lize, yaitu Creeps. Namun, kenapa Lize masih hidup? Bukankah seharusnya dia telah mati?
Pasti ada sesuatu, atau mungkin selama ini Lize ikut denganku atas perintah Andrew? Sepertinya aku harus menanyakan hal ini kepadanya. “Kau ... apa maksud dari semua ini, Lize?”
“Haha, tentu saja seperti yang kau lihat sekarang. Aku berada di pihak Andrew, bukan pihakmu.” Gadis itu menunjukkan tato di tangannya kepadaku. “Aku dari Klan Naga, bukan Klan Ular. Tentu aku tak ingin berkorban demi nyawamu seorang, Leon.”
__ADS_1
“Brengsek!” Kurentangkan tangan kananku, kemudian beberapa bola bayangan melayang di sekitar, lalu melesat dengan cepat ke arah Lize dan Creeps.