
Sun mempercepat langkahnya, berlari mengejar Leon sesegera mungkin karena merasakan firasat buruk. Tarikan napasnya semakin cepat, jantung berdebar kencang memompa darah ke sekujur tubuhnya. Keringat membasuh habis dirinya bagai sedang berenang dalam sungai.
Memasuki Lembah Evolusi, suasana begitu tenang, tidak seperti saat itu, di mana ia harus menghadapi banyak hal mengejutkan. Terus berlari dengan kecepatan penuh, ia kini berhasil keluar dari Lembah Evolusi. Namun, matanya seketika terbelalak lebar melihat kawanan Tan bergerak menuju ke arahnya.
Berhenti sambil menerawang sekitar, di arah jam 1 ia melihat seorang gadis bergeming menatap kawanan Tan dengan pasrah. Ketika hendak berlari ke arah sang gadis, matanya teralihkan oleh sesuatu berwarna hitam di depan gadis tersebut. Ia lantas bertanya-tanya, apa itu?
“Hei! Kau yang di sana! Segera menjauh, masuk ke dalam lembah, kau akan aman. Di sini terlalu berbahaya, cepatlah gerakkan kakimu!” Sun berseru lantang, menyuruh agar gadis tersebut segera pergi. Akan tetapi, sang gadis tak mengindahkan seruan Sun. “Hei!”
“Percuma ... makhluk itu begitu kuat. Bahkan, Vord berhasil dikalahkan ...,” gumam si gadis.
Sontak Sun terperanjat, matanya terbuka lebar, tak percaya pada apa yang dikatakan oleh gadis itu. “Kau pasti bercanda! Apa kau benar-benar tahu siapa Vord yang kau katakan itu?”
Si gadis masih tanpa ekspresi, frustasi pada keadaan. “Pelahap Energi tingkat 1, Vord telah tewas.”
“Apa?” Tentu saja Sun tak dapat menahan rasa tak percayanya. “Bohong! Kau pasti salah lihat! Mustahil dia dapat dikalahkan hanya oleh gerombolan Tan!”
“Tapi, faktanya begitu.” Gadis itu menunduk, melirik tanpa ekspresi pada mayat hitam di depannya. “Bahkan orang berambut putih yang kurasa kuat ini, dapat dengan mudah dikalahkan ....”
“Orang berambut putih?” Segera Sun mendekat pada mayat itu, wajah si mayat sudah hancur, sama seperti anggota tubuhnya yang lain. “Mustahil ... apakah dia?” Sun melirik gadis di dekatnya. Namun, si gadis hanya dapat memalingkan pandangan.
Sun kembali menatap mayat di tangannya, masih belum percaya. “Hei ... kau bukan Leon, kan? Hei ....” Terlambat sudah untuk ditenangkan, ia frustasi bahkan sampai lupa akal.
Beberapa kali Sun menampar wajah mayat yang telah berubah warna menjadi hitam itu. Ia benar-benar tidak ingin percaya, tetapi kenyataan memang sangat menyakitkan.
“Hei ... hentikan itu, dia telah meninggal. Kau harus tetap menjaga akal sehatmu,” ucap si gadis dengan pelan.
Sun tak menjawab, kedua tangannya terus merangkul mayat yang diyakini adalah mayat Leon. Hingga, Sasa dan Ni tiba. Mereka berdua lantas mendekati Sun, raut wajah mereka berubah kala melihat Sun.
__ADS_1
“Sun ....” Sasa mencoba untuk memanggil Sun.
“Apakah dia?” Ni lantas menutup mulut rapat-rapat memakai kedua tangan.
Tanpa mau menjawab walau hanya sepatah kata, Sun berdiri, tatapannya lurus ke depan di mana terdapat kawanan Tan. Ia langsung berteriak sambil berlari sekuat tenaga, tubuhnya dalam sekejap dilingkupi oleh kobaran api.
“Sun!” Teriakan Sasa sedikit pun tidak dapat membuat Sun menoleh ke belakang.
Tak lama, Ni juga melesat ke depan tanpa berkata. Kini, hanya Sasa dan gadis yang tadi bersama Sun yang berdiri mematung tanpa melakukan apa-apa. Keduanya sepertinya menjadi bingung. Namun, Sun bersama Ni dengan kompak melancarkan serangan sekuat tenaga.
***
Leon merasakan tubuhnya sangat ringan, tanpa beban. Di sebelah kanannya terdapat Ellise yang menundukkan kepala sembari memandangi kedua telapak tangan. Sejenak Leon memandang tubuhnya, ia hanya berpakain putih, khas para peneliti di laboratorium.
“Apakah aku ...?”
Sebelum Leon lanjut bertanya, Ellise langsung membuka mulut, “Terima kasih, Leon.”
“Kenapa kau berterimakasih padaku?”
Ellise menghela napas. “Bukankah aku pernah bilang padamu, kau itu orang baik, bahkan terlalu baik. Kau bukanlah orang egois maupun jahat, kau sangatlah baik.”
“Lalu?” Leon tak merubah ekspresi datarnya.
Kedua tangan Ellise menyentuh pundak Leon, tetapi perlahan tubuh gadis itu terpisah bagai tumpukan pasir tertiup angin. “Sekarang saatnya kau tahu, bahwa kau bukanlah orang jahat, melainkan orang baik. Ingatan masa lalumu, yang sebenarnya, tanpa ada kebohongan lagi, aku akan memperlihatkannya padamu.”
Leon terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Tentu saja ia sangat ingin tahu tentang ingatan yang selama ini tidak ia ketahui.
__ADS_1
“Tapi, sebelum itu, aku ingin meminta maaf ....”
“Kau kenapa? Aku merasa ada yang aneh pada dirimu. Selain itu, aku merasa ini adalah akhir dari segala perjuanganku. Entah kenapa, hatiku merasa tenang serta lega, meskipun masalahku belum selesai.”
Senyum tipis Ellise perlihatkan untuk Leon. “Lupakan semua itu, karena, tugasmu sudah selesai. Kau jangan lagi memperalat dirimu sendiri. Sebab, kau itu manusia, bukan sebuah robot atau pun program.”
Leon membalas senyum tipis dari Ellise. Sejauh ini, ia telah sedikit mengerti tentang apa yang Ellise pikirkan. Kemungkinan besar, sekarang Ellise tengah mengatakan kalau sebentar lagi Leon akan tewas. “Kuharap, dengan menghilangnya diriku, maka dunia akan berubah menjadi lebih damai.”
“Aku juga berharap demikian. Tapi, kau tak perlu lagi menghawatirkan hal itu. Istirahatlah dengan tenang.”
“Iya, aku akan melakukannya setelah mendapatkan apa yang hilang dari diriku.”
“Aku paham.” Ellise memejamkan mata, mencoba konsentrasi memulihkan ingatan Leon. “Ini sebagai tanda perpisahan ....”
“Terima kasih.” Leon tersenyum hangat.
Sedikit demi sedikit, anggota tubuh Ellise menghilang. Namun, bukannya tersenyum, gadis itu malah menangis. Air matanya menetes deras di kedua pipi, hingga suara serak pun keluar dari mulutnya.
“Maafkan aku, Leon ....” Raut wajah penyesalan benar-benar tampak jelas di wajah Ellise.
Dengan lembut, Leon mengusap air mata di wajah Ellise. Kini, ia ingat tentang siapa sebenarnya sosok Ellise ini. Mulut Leon lantas bergerak, mengucapkan sebuah kata. “Kakak ipar ....”
Kala mendengar kalimat itu, Ellise semakin merasa bersalah dan tak tega dengan akhir seperti ini. Akan tetapi, sikapnya berbeda jauh dari Leon yang sangat tenang, seolah ini adalah akhir bahagia.
“Leon ....” Suara terakhir dari mulut Ellise terdengar begitu lirih. Dalam sekejap mata, gadis itu sudah menghilang dari hadapan Leon.
Keadaan menjadi hening, tubuh Leon bergeming, kaku. Kedua tangannya melemas, dan kepalanya menengadah menatap warna putih tanpa ujung. Air matanya menetes tanpa ia sadari.
__ADS_1
“Eh? Kenapa denganku?” Langsung saja pemuda itu mengusap air matanya. “Aku sungguh tidak menyangka, ternyata selama ini yang kulakukan bukanlah tanpa tujuan atau hanya untuk bersenang-senang. “Ternyata aku, hendak memanggilmu kembali ke dunia menggunakan kekuatanku, kakakku, Tuan Muda Klaurius yang sebenarnya, Marvin Klaurius.”
Perasaan campur aduk masuk ke dalam hati Leon. Selama ini, ia sungguh tak menyangka kalau sebenarnya Ellise sebenarnya kakak iparnya. Ini membuat Leon tidak tahu harus bagaimana lagi. Akan tetapi, tugasnya sudah selesai, jadi bukanlah masalah lagi.