The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 11 : Menentukan Sebuah Nasib


__ADS_3

Aku duduk bersandar di sebatang pohon sambil memandangi bintang-bintang di angkasa dalam diam. Sejauh ini, aku belum dapat melihat bulan di antara ribuan bintang itu. tepat di sebelah kananku, terdapat Mischie yang masih terbaring tak sadarkan diri dan Lize serta Rias yang tengah memeriksa keadaan Mishie.


Kupalingkan wajahku ke arah mereka. “Hei, apa kalian tidak merasakan ada sesuatu yang aneh di sini?” tanyaku pada mereka berdua.


“Apa yang aneh dengan keadaan ini?” jawab Rias dengan melontarkan pertanyaan.


“Aku juga tidak merasakan hal janggal,” sahut Lize.


Aku berdiri mengamati sekitar, firasatku mengatakan kalau ada yang sedang mengawasi kami. Selama ini, jika aku mendapatkan suatu firasat yang tidak mengenakan, pasti akan ada hal mengerikan yang terjadi. Karena itulah, aku mulai berjaga-jaga semisal firasatku benar lagi.


Sontak aku memalingkan pandanganku ke kanan ketika diri ini merasa ada yang melintas. Bulu kudukku merinding, dan ketakutan mulai muncul di dalam benakku. Angin dingin perlahan berhembus, menambah rasa ngeri di dalam hati ini.


Sekilas aku merasa melihat sebuah bayang-bayang tengah berlari dengan kecepatan tinggi di antara semak-semak. Sontak aku memalingkan pandanganku ke kiri dan ke kanan untuk memastikan. Rias dan Lize ikut berdiri dan melirik ke sekitar, tampaknya mereka juga merasakan hal yang sama denganku.


Di dalam keremangan malam, bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Entah kenapa aku merasa ketakutan, keringat pun mulai membasahi keningku. Suhu udara mendadak menjadi panas, hingga membuatku kian merasa tak nyaman.


“Sepertinya aku merasakan ada sesuatu yang mendekat,” kataku dengan perlahan.


“Ya, aku juga merasakan hal yang sama,” sahut Rias menanggapi perkataanku.


“Tapi, aku tidak melihat ada tan—“


Kata-kata Lize langsung terpotong oleh suara raungan yang begitu nyaring. Suara itu menggema di dalam gelapnya hutan hingga membuat burung-burung terbang tak tentu arah. Kicauan dari burung gagak lantas menghiasi hutan rimbun tempat kami berada saat ini.


Detak jantungku jelas meninggkat, tapi sebisa mungkin aku menjaga agar diri ini tetap tenang. Asap tebal tiba-tiba muncul begitu saja dari arah depan kami, aku pun dengan cepat menganggkat Mischie di atas punggungku lalu berlari sekuat tenaga.


“Awas! Lari! Jangan biarkan asap itu masuk ke dalam pernapasan kalian!” Aku langsung panik dan memperingatkan kedua gadis yang sedang bersamaku.

__ADS_1


Tanpa menunda-nunda waktu, mereka mengekor di belakangku dengan berlari sekuat tenaga. Langkah kakiku semakin cepat, menerobos semak-semak dan terus berlari tanpa tahu arah.


“Awas!” seru Lize memperingatkanku.


Belum sempat aku menghentikan langkah, kaki ini tersandung hingga membuatku jatuh terjerembab. Tubuhku tertimpa, rasa sakit menyebar, dan aku merintih karena kesakitan.


Kututup hidung ini dengan kedua tangan ketika asap tebal itu semakin cepat merambat. Karena aku terjatuh, Rias dan Lize terpaksa berhenti untuk menolongku. Namun naas, sebelum aku sempat berdiri, asap langsung memenuhi hidungku dan membuat diri ini tak sanggup berdiri lagi.


Seluruh organ dan saraf tubuhku yang tadinya menegang menjandi lebih rileks. Mataku semakin tak kuasa untuk menahan kantuk karena lelah. Akan tetapi, sekujur badan ini terasa sangat nyaman hingga akhirnya aku terlelap.


***


Suhu dingin dapat dirasakan oleh kulitku yang sensitif. Aku terbangun dan membuka mata ini secara perlahan. Awan hitam membentang menutupi langit biru, dan suasana hening dan harmoninya hutan dapat aku rasakan.


Berdiri sambil terus menengadah, aku lantas tersadar kalau semalam ada Mischie di atas punggung ini. Ketika aku melihat ke belakang, mata ini tak dapat melihat adanya tanda-tanda orang tersebut di sana. Aku menjadi bingung lalu melirik ke sana kemari untuk mencari keberadaan Mischie.


Tak lama berselang, aku akhirnya menemukan orang tersebut sedang duduk di atas sebuah batu sambil menatap lurus ke depan. Sesaat aku melirik punggung orang tersebut kemudian berjalan mendekatinya.


“Hei!” sapaku kepada Mischie. “Apa yang kau lihat?”


Sembari berkata demikian, aku duduk di sebelah kanannya, lalu diikuti oleh Rias dan Lize yang datang dari arah samping sambil membawa botol air di masing-masing tangan mereka. Lize menyodorkan sebotol airnya kepadaku, dengan senang hati aku menerimanya.


Lize membuka tas hitam yang dibawanya lalu memberikan beberapa roti yang ada di sana kepada kami. Menikmati suasana nyaman dan tentram dari indahnya pagi, gerimis tiba-tiba datang menghampiri. Tanpa sebuah peringatan, kami berempat langsung saja pergi di bawah pohon untuk berteduh.


“Argh, sial.” Mischie mulai mengeluh karena hujan yang mendadak datang itu.


Walau sudah berada di bawah pohon yang rindang, raga ini masih dapat terkena oleh air yang mengalir melalui dedaunan.

__ADS_1


“Sepertinya kita harus mencari gua untuk berteduh,” saranku sembari melirik ke sana ke mari mencari tempat berteduh.


“Ya, sebaiknya kita langsung pergi saja,” kata Mischie sambil menuntun kami berjalan.


Lize perlahan mendekat di sebelah kananku, ia lantas bertanya sesuatu. “Apakah kita akan membagi semua peralatan ini sekarang?” tanyanya sambil mengangkat tas hitamnya ke depan.


Aku berpikir sejenak, memikirkan apa yang harus kulakukan, entah bagaimana membuatku sedikit susah menentukan pilihan. Jika senjata-senjata ini dibagikan sekarang, keuntungannya kelompok kami akan lebih bisa waspada dan terhindar masalah. Namun, di saat yang sama, ada kemungkinan lain yang mungkin terjadi seperti, menggunakan sejata ini untuk berburu sehingga kehabisan peluru waktu sedang terdesak.


Itu memang benar hanya hasil pemikiranku yang terlalu berlebihan, tapi bisa saja hal itu terjadi. Namun, jika senjata ini dibagikan pada saat sedang terdesak, mungkin saja semuanya akan terlambat. Argh ... ini membuatku pusing.


Pada akhirnya, aku pun membulatkan tekad untuk menentukan satu pilihan yang kuanggap tepat. Menghela napas sejenak, mulut ini pun berucap, “baiklah, kita bagikan saja senjata ini saat sampai di tempat berteduh nanti.”


Lize membawa tasnya ke atas punggung lagi. “Oke ...,” katanya dengan santai sembari terus melangkah.


Tak lama berselang, kami akhirnya sampai di depan sebuah gua yang atasnya ditutup oleh tumbuhan hijau yang rindang. Gua ini tampak lebih mengerikan dari yang biasa kami temui. Itulah yang kupikirkan saat melihatnya.


“Kurasa kita tidak perlu masuk,” kata Mischie sambil berjalan ke arah lain. “Masuk ke sana hanya akan membuatku frustasi setengah mati.”


Hujan kian lebat, tetapi Mischie sangat tidak peduli akan hal tersebut. Dia hanya tidak ingin kembali masuk ke dalam gua karena banyak hal yang telah dilaluinya.


“Tunggu!” seru Lize menghentikan langkah Mischie.


Mischie menoleh, memastikan apa yang akan dikatakan oleh Lize kepada dirinya.


“Aku dan Leon sudah setuju untuk membagikan senjata-senjata ini sekarang,” terang Lize.


“Baiklah.” Mischie pun mendekat ke arah kami.

__ADS_1


__ADS_2