The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 26 : Halangan Terakhir


__ADS_3

“Sekarang apa lagi?” Leon melongo, melihat begitu banyak batu terapung di atas sebuah jurang panjang.


Beberapa saat sebelumnya, mereka berhasil keluar dari Lembah Evolusi dan menemui Vord yang dengan santai menunggu. Leon beserta teman-temannya hanya diam, tidak terlalu memerhatikan Vord.


“Jadi, apa yang kalian temui di sana?” tanya Vord sembari mengembangkan senyum.


“Bukan apa-apa,” jawab Leon, tak acuh.


“Aku heran, padahal kalian hanya melewati lembah sepanjang satu kilometer, kenapa sangat lama?”


“Kau jangan berpura-pura tidak tahu tentang apa yang kami alami ketika berada di sana!” Sun mengepal erat kedua tangannya.


“Hah? Aku tak tahu apa maksudmu. Sebelumnya aku sudah memeriksa makanya membiarkan kalian berjalan tanpa aku.”


Leon menghela napas, kemudian menenangkan Sun. “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Sebaiknya kita segera pergi saja.”


“Baiklah ....” Dengan berat hati, Sun menghela napas.


***


Waktu sekarang, saat Leon merasa semua rintangan sudah berakhir, ia kembali dihadapkan pada hal merepotkan. Namun, yang lainnya terlihat biasa saja, hanya ia yang gelisah di sini.


Tiba-tiba Vord menatap satu per satu teman-temannya. Dia menatap Leon sejenak, lalu berkata, “Kalian pasti sudah tahu, ini adalah rintangan terakhir. Ketika sudah menyelesaikannya, kita akan sampai di Menara Harapan. Jadi, kerahkan semua tekad serta kekuatan kalian!”


“Baik!” Serentak Sun, Sasa, dan Ni menjawab. Hanya Leon yang tetap bergeming tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Tatapan Leon lurus ke depan, mengamati batu melayang di hadapannya. Bebatuan tersebut ternyata bergerak, kemungkinan besar ini adalah pembatas wilayah Menara Harapan. Leon berharap kalau tempat tersebut mengah atau seperti gedung pencakar langit.


“Matahari sudah hampir terbenam, jadi kita harus cepat.” Vord berbalik, bersiap menyelesaikan rintangan terakhir.


“Tapi bagaimana dengan Leon?” Ni terlihat kebingungan.


Semua temannya tengah terluka, hanya Vord yang masih belum terluka hingga sekarang. Namun, masalahnya, apakah Vord mau membawa Leon bersama dengannya?

__ADS_1


Sesaat, Vord menoleh. “Kalian lebih kuat dari orang biasa, jangan berharap pada hal tak pasti. Aku akan pergi sendiri, dan putuskan bagaimana cara membawa Leon, atau menyerah?”


“Sudah sejauh ini, mana mungkin kami akan menyerah!” Sun dengan percaya diri membuat bola api di tangan kanan dan melemparkan tatapan tajam.


“Berusahalah sampai titik darah penghabisan jika kau sanggup ....” Sama seperti sebelumnya, Vord menghilang begitu saja tanpa jejak.


***


Jauh di dalam Alam Bawah Sadar Leon, Ellise tampak murung memandangi bintang-bintang. Perasaannya tengah campur aduk, antara senang dan juga sedih. Ia tidak tahu harus berbuat apa, tujuannya sudah ada di depan mata, tetapi semakin dekat tujuan itu, maka semakin kacau juga perasaannya.


Berulang kali gadis ini mencoba menipu perasaannya sendiri. Mengatakan kalau takdir tetap takkan berubah. Ia menanti, tetapi juga takut pada apa yang dinantikannya. Keadaannya tidak terlalu baik, dadanya sedikit sesak, dan tangannya gemetar.


Tatapan mata Ellise terlihat hampa, wajahnya pucat pasi akibat terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini. Ia kemudian menatap kedua telapak tangan. “Kau terlalu baik, Leon. Dan kau juga tidak sopan karena menganggapku sebagai kekasihmu. Bodoh ....”


Ellise tersenyum, tetapi bukan karena bahagia, melainkan bersedih. Mendadak saja, kulit di jari telunjuknya mengelupas dan jatuh bagaikan debu.


“Waktuku sebentar lagi habis. Kuharap hari esok takkan tiba, karena aku masih belum tahu apa tujuanku yang sesungguhnya.”


***


“Aku akan memeriksa batu itu terlebih dahulu.” Kobaran api mendadak muncul di telapak kaki Sun. Ketika pemuda itu melompat, kekuatan apinya membuat dia terdorong cukup jauh ke atas.


Sementara Sun berada di atas, Ni menengadah sejenak lalu menarik napas panjang. Seketika dia melayang di udara dan mendarat di batu tempat Sun berada.


“Sekarang giliran kita,” ucap Leon sembari menjulurkan tangan ke depan.


“Wah, kekuatanmu benar-benar multi guna ya,” Sasa mencoba memprovokasi Leon. Namun, Leon mengabaikannya begitu saja.


Bola hitam lantas mengurung Leon dan Sasa. Bola tersebut melayang dan mendaratkan mereka berdua tepat di tempat di mana Sun juga Ni berada.


“Tidak kusangka batu yang kukira kecil ini ternyata dapat menampung kita berempat sekaligus.”


“Tentu saja.”

__ADS_1


“Sun, bagaimana kalau kita langsung melompat ke seberang saja. lagipula, jaraknya hanya sekitar satu kilometer, kan?”


“Jangan mencari jalan mudah, Leon. Pemikiran seperti itu akan membuatmu mati. Kita di sini harus melalui satu demi satu batu agar selamat dari jebakan.”


“Maksudmu, kalau kita melewati semua batu tanpa menginjakkan kaki di atasnya, maka jebakan akan diaktifkan.”


“Ya, begitulah.” Sun kembali megalihkan pandangan ke depan. Jarak batu berikutnya hanya sekitar 1 meter, jadi tidak terlalu beresiko.


“Yeah, rintangan ini cukup mudah. Kita hanya perlu sabar menghadapinya.”


Di saat yang begitu tenang, tiba-tiba batu tempat mereka berpijak berguncang. Sigap Leon menggunakan kekuatan bayangnya untuk melindungi teman-temannya. Tidak hanya sekali, sebuah serangan menghantam pelindung Leon lagi.


“Sial, sepertinya kita harus turun ke bawah.”


Mereka turun ke bawah, tetapi apa yang menyambut mereka adalah serangan bola api hitam raksasa. Leon masih mempertahankan pelindung, sedangkan Sun telah mempersiapkan diri menghadapi pertarungan.


Tiba-tiba, serangan berhenti, perlahan-lahan Leon mengintip keluar dan melihat tiga orang pria tengah berhadapan dengan Vord. “Sun, sebaiknya kita jangan gegabah dan keluar sekarang. Serahkan saja pada Vord.”


Dari celah kecil tempat Leon mengintip, Sun tampaknya juga dapat melihat salah seorang dari lawan Vord. Matanya terbelalak lebar, kaki pun secara alami mundur ke belakang. Kedua tangannya mengepal erat, api amarah jelas terlihat dari dalam diri Sun.


“Leon.” Kata yang keluar dari mulut Sun terdengar datar, tetapi mengandung banyak amarah. “Biarkan aku memberi pelajaran pada salah satu dari mereka.”


“Sudah kubilang, kau harus tetap di si—”


Ledakan terjadi, di luar pelindung, Vord berusaha sekuat tenaga menahan serangan bola api hitam dari lawan. Dalam waktu bersamaan, Leon sudah tak bisa mempertahankan pelindung, sehingga mereka semua dapat melihat secara langsung tiga orang yang menjadi lawan Vord.


“Wah, ternyata walau sudah mendapat serangan serius, anggota keluarga Klaurius sepertimu hanya lumpuh, bukan tewas,” ucap salah seorang pemuda dengan ikat kepala hitam.


Dalam sekejap, Leon sudah tahu siapa orang itu. Dia adalah orang yang menyerang Leon hingga lumpuh seperti ini. “Kau ....”


“Kalian tetaplah di belakangku,” kata Vord. “Pria paruh baya di depan kita ini bukanlah orang sembarangan.”


“Jangan bilang kalau kau tidak mau melanjutkan pertarungan kita yang tertunda.” Itu adalah kata-kata provokasi yang dilontarkan oleh Jahad untuk Vord. Namun, Vord begitu tenang menghadapinya.

__ADS_1


Ketika Leon melirik ke samping, Sun tampaknya sudah menggertakkan gigi entah karena apa. Bukan hanya dia, Sasa pun demikian. Leon sungguh tak mengerti alasan mereka seperti ini.


__ADS_2