The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 7 part 1


__ADS_3

Aku menoleh ke atas, melirik ke sana kemari mencari dari mana lolongan tadi berasal. Langit terlihat gelap tertutup oleh awan hitam, burung-burung pun kian panik, beterbangan tanpa arah. Gendang telingaku yang pecah menjadi semakin perih bercampur nyeri. Tentu saja ini sangatlah sakit.


Perlahan-lahan, aku menurunkan tangan kanan yang menutup telingaku. Bau amis dari darah kini masuk memenuhi hidungku.


Tiba-tiba, tanah bergetar, aku bergerak tak karuan menjaga keseimbangan tubuh. Belum sempat aku menyeimbangkan tubuh, Lize tanpa sadar menabrakku hingga kami terbaring di atas tanah.


“Aduh ....” Aku sedikit menjerit, tubuhku sekarang ditimpa oleh Lize.


“Ah, maaf!” Lize sembari berusaha bangkit berdiri.


Tak lama, tanah kembali bergetar, sekali lagi Lize jatuh menimpa tubuhku. Saat aku mencoba membantunya berdiri, secara tidak sengaja aku menemukan sebuah keanehan lain di sini. Apa yang kulihat adalah telinga Lize tidak ada satu pun yang mengeluarkan darah. Sebenarnya ini sesuatu yang memang mungkin terjadi, tetapi mengingat kerasnya gelombang suara beberapa saat lalu dalam jarak dekat, aku tidak yakin hal ini mungkin.


Tanah berhenti bergetar, Lize dan aku akhirnya dapat kembali berdiri. Namun, sebelum kami dapat menghela napas lega, aku mendengar sebuah dengusan dari belakang. Sontak aku memalingkan wajah ke arah itu, terlihat segerombol serigala berbulu putih keperakan.


Tubuhku gemetar, bulu kuduk merinding, kaki ini perlahan melangkah mundur untuk menghindari gerombolan serigala tersebut. Lize yang nampaknya sangat ketakutan langsung memeluk erat diriku. Sekujur tubuhnya gemetar hebat sehingga membuatku tidak tega melepaskannya.


Serigala-serigala itu perlahan mulai mendekat, aku lantas berjalan mundur sembari membawa Lize bersama denganku. Sebelum para serigala mendekat, tanah tiba-tiba saja bergetar hingga membuat kawanan serigala berpaling ke belakang.


Getaran tanah semakin kuat sampai membuatku tak mampu menahan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Tanpa mempedulikan keadaan kami, serigala-serigala tadi berlarian dengan panik ke segala arah.

__ADS_1


Di saat menatap lurus ke depan, mataku dapat melihat seekor monster besar yang pernah kami temui sebelumnya. Tidak kusangka ternyata monster itu belum juga kapok mengejar kami.


Tanpa sebuah peringatan, monster tersebut melompat dan menyebabkan tanah kembali berguncang. Beberapa saat setelahnya, dia kini berada tepat beberapa langkah di depan kami.


Ah, matilah aku ....


Keringat dingin bercucuran membasahi wajah dan sekujur tubuhku. Badanku semakin bertambah basah karena Lize yang jatuh menimpaku. Sambil berusaha menggeser tubuh Lize, aku bergerak mundur perlahan-lahan. Namun, mendadak saja sebuah suara yang terdengar berdenging, menggema di dalam telinga ini. Sontak aku melirik ke sana sini, mencari sumber suara itu.


Lama tidak menemukan apa yang kucari, secara tidak sengaja mata ini melihat sesuatu yang sungguh menakjubkan, tetapi aneh. Dari dalam tanah di taman sebelah kiriku, terdapat sesuatu yang muncul dan semakin lama kian tinggi bagai sebuah bukit berukuran kecil. Namun, semuanya belum berhenti sampai di sana. Tanah itu kini kian mencuat hingga setinggi monster di hadapanku sekarang.


Sedikit demi sedikit tanah berjatuhan, ada seekor mahkluk yang baru saja muncul. Setelah sekian lama, akhirnya wujub aslinya dapat dilihat dengan jelas oleh kedua mataku.


“I ... ini bohong, kan?” Sekujur tubuhku gemetar, ketakutan melihat mahkluk di sana.


Tanpa menghiraukan aku dan Lize, monster itu langsung melangkahkan kakinya ke depan menuju monster besar lainnya. Tanah kembali bergetar ketika kedua monster itu melangkah secara bersamaan hingga akhirnya berhadapan satu sama lain.


Memanfaatkan sebuah kesempatan emas di saat kedua monster besar itu saling berhadapan satu sama lain, aku berdiri, menarik Lize pergi ke arah terowongan. Detak jantungku kembali meningkat bersama tarikan napas yang terengah-engah.


Langkah demi langkah kutempuh, diiringi oleh suara dengusan dari dua ekor monster tadi, lalu sampailah aku dan Lize ke depan terowongan. Akan tetapi, kenapa kurasa ada yang janggal di sini? Segera aku memalingkan pandangan ke belakang, terlihat kedua monster tadi berjalan ke arah kami bersama-sama.

__ADS_1


“Hei! Hei! Hei! Ini pasti mimpi,” gumamku, panik, bergegas masuk ke dalam terowongan.


“Aaa!” Lize seketika berteriak ketika melihat ke belakang.


Lize dengan cepat memalingkan pandangan dan memelukku. “Leon, aku takut,” katanya.


Sebenarnya, aku sedikit sebal dengan tingkah laku Lize. Dia sangat manja seperti anak kecil. Akan tetapi, aku masih dapat memakluminya, sebab dia seorang gadis. Namun, jika dia adalah seorang pemuda, maka aku tidak akan segan untuk menghajarnya.


Mengabaikan semua pemikiran itu, kaki ini kembali gemetar ketika dua monster tadi semakin dekat. Aku yang kini panik langsung menarik tangan Lize, berlari masuk ke dalam terowongan. Pandanganku menggelap, tidak ada yang dapat aku lihat selain warna hitam pekat. Dalam keadaan darurat ini, aku tanpa pikir panjang menarik Lize dengan kasar, lalu berkata, “Gunakan kemampuanmu jika kau ingin kita selamat!”


Tidak ada respon sedikit pun, dan tanpa kusadari, tangan Lize yang tadinya kugengam, kini telah menghilang tanpa jejak. “Lize! Di mana kau?” Aku berkali-kali meneriakan kata-kata itu, berharap akan mendapat jawaban dari Lize. Namun, apa yang terjadi adalah hal sebaliknya. Tak satu kata pun dapat kudengar selain gema suaraku sendiri.


Ah, yang benar saja, ke mana gadis itu pergi?


Saat aku kocar kacir berkeliling tanpa arah, telinga ini dapat mendengar suara Lize menggema di dalam terowongan.


“Hahaha, kau pikir aku benar-benar menyukaimu, dasar sampah! Jelas tidak mungkin kan hal itu terjadi.”


“Brengsek!” Aku berteriak sekencang mungkin, sangat kesal pada keadaan ini. “Dasar kau gadis sialan!” Berbagai makian kasar terlontar dari mulutku. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sebab aku kembali terkejut ketika tanah yang kupijak kini bergetar.

__ADS_1


Aku bergerak tak karuan hingga akhirnya jatuh tersungkur ke tanah. Angin kencang berembus, bebatuan yang menjadi atap terowongan sekarang mulai berjatuhan akibat guncangan. Aku lantas menyilangkan kedua lenganku ke depan wajah agar tidak terkena serpihan batu.


Sial, kenapa ini bisa terjadi?


__ADS_2