
Akhirnya Leon dan Sun sampai di sebuah bangunan yang cukup tinggi. Tempat ini berada di tengah-tengah kota kecil.
Ada beberapa penjaga di pintu gerbang masuk, tetapi Sun dan Leon bisa melewatinya begitu mudah, karena penjaga-penjaga itu telah mengenal Sun. Memasuki pintu masuk, Leon terus mengamati sekitar.
Tidak ada apa-apa, hanya lantai kosong serta beberapa orang prajurit. Naik ke bagian atas, kini Leon dan Sun sudah berada di tempat Pelahap Energi tingkat 1 berdiam.
Di atas singgasana, seorang pria muda duduk sambil menyangga dagu. Dia hanya diam, memandang Leon dan Sun secara bergantian.
"Tuan Vord, dia adalah Leon. Tampaknya dia tersesat ke sini tanpa tahu arah kembali, jadi aku membawanya ke sini," ucap Sun penuh hormat dan berlutut di lantai.
Leon hanya diam, memandang Sun dengan aneh. Kenapa anak ini? pikir Leon. Bukankah orang yang ada di atas sana hanya beda beberapa tahun saja darinya?
"Hei, kau berlututlah ...!" bisik Sun.
"Kenapa? Apakah aku memang harus melakukannya?" tanya Leon, tidak berniat menyembunyikan penolakannya.
"Kau cukup menarik." Tiba-tiba saja Vord menatap tajam pada Leon. "Tidak apa untukmu berdiri saja di sana, aku juga tidak masalah. Dan, Sun, berdirilah!"
"Oh, maafkan aku jika tidak sopan. Tapi, sudah lama aku tidak mengingat cara sopan santun." Leon memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Pakaianmu terlihat lusuh, sebaiknya kau pergi membersihkan diri dulu baru datang lagi ke sini." Vord beralih pada Sun. "Bawa dia kembali ke sini setelah membersihkan diri!"
"Baik, Tuan!" Sun lantas berbalik menuju pintu keluar. "Ayo!"
Leon mengikuti pemuda itu dalam diam, tidak terjadi percakapan selama beberapa waktu. Sesuai perintah, Sun mengantarkan Leon ke sebuah ruangan di dalam bangunan yang cukup megah ini. Ruangan tersebut tidak lain adalah ruangan untuk tamu yang hendak menginap, atau bisa dibilang sebelumnya ini adalah ruangan kosong.
"Kau bersihkan dirimu di sana, aku akan kembali menjemputmu setelah beberapa waktu."
"Baiklah." Leon masuk ke dalam ruangan. Memang tak istimewa, hanya tersedia sebuah tempat tidur, meja kursi, dan lemari saja.
Hei, Ellise. Apakah kau tidak berniat menutup mata? Atau memang kau ingin melihat melalui mataku?
Apa maksudnya itu? Kalau iya kenapa? Apakah buruk?
Hehehe, aku tidak bilang buruk sih, tapi ....
Apa?
Kau mungkin tidak ingin melihatnya.
Melihat apa?
Aku akan mandi, lalu mengganti baju—
Kya! Hentikan itu! Ellise segera menutup mata menggunakan kedua tangan.
Kau tidak ingin melihatnya, kan? Jadi tutup matamu rapat-rapat sampai aku mengatakan boleh membuka mata.
Itu mustahil, aku tidak bisa melakukannya.
Tidurlah sebentar.
__ADS_1
Bagaimana caranya?
Haah .... Leon menghela napas panjang, kemudian menjentikkan jari. Kau sedang berada dalam duniaku, jadi mungkin ini bisa membantu.
Benar saja, Ellise seketika tidak sadarkan diri lagi. Akhirnya Leon bisa membersihkan diri dengan tenang.
***
Usai mandi, Leon kembali menjentikkan jari. Kala itu Ellise langsung tersadar dari tidurnya.
Apa yang kau lakukan tadi? tanya Ellise, penasaran.
Aku hanya menarik energimu, kemudian menyimpannya di tempat lain. Tidak kusangka percobaanku berhasil.
Pe-pe-percobaan? Berani sekali kau membuatku menjadi kelinci percobaan!
Tapi kau tidak kenapa-kenapa, kan? Bukankah itu bagus?
Bagus apanya? Semisal kau tadi gagal, mungkin aku telah lenyap.
Mana mungkin aku gagal. Itu sudah kuperkiraan sejak awal.
Hmph ... kau terlalu sombong!
Ya, itulah aku. Ada masalah?
Tidak ada, hanya saja perbuatan nekadmu itu sangat membuat takut.
"Jangan membuang waktu! Ayo cepat!" Sun segera menuntun Leon ke tempat Vord berada.
"Baiklah." Sekarang Leon hanya bisa menurut saja.
Aneh, pikir Leon. Kenapa sikapnya bisa berubah secepat itu?
Tidak aneh, karena di sini adalah markas mereka. Lagipula, untuk membuatmu pantas diterima atau tidak ditentukan oleh orang bernama Vord tadi.
Setelah beberapa saat, Leon dan Sun telah berada lagi di dalam ruangan luas milik Vord. Kali ini, Leon sudah berpakaian rapi, memakai jas hitam berlapis jubah hitam.
Tidak sempat Leon bereaksi, Vord mendadak muncul di hadapannya begitu saja. Tatapan matanya melirik Leon dari ujung kaki sampai ujung rambut. Leon pun seketika melompat ke belakang.
"Hei, kau sedang apa?" Nampaknya Leon sedikit curiga pada Vord.
"Maaf, aku hanya sedang memastikan ada atau tidaknya alat penyadap atau sebagainya di balik pakaianmu."
"Jangan berprasangka buruk! Aku datang ke sini bukan untuk menjadi mata-mata."
"Siapa yang tahu apa isi pikiranmu." Vord kembali duduk di atas singgasananya.
Leon masih menjaga jarak, waspada jika seandainya Vord menyerang tiba-tiba. Akan tetapi, hanya keheningan yang terjadi.
"Sun, kau keluarlah. Biar aku berbicara empat mata dengannya!"
__ADS_1
"Baik!" Sun segera keluar dari ruangan atas perintah Vord.
Leon tak mengalihkan pandangan ke tempat lain, dia tetap menatap Vord dengan ekspresi datar. Sedangkan Vord juga diam, tidak berniat untuk menyerang.
"Vord!" Akhirnya Leon memulai percakapan.
"Hm?" Tanggapan Vord hanya berdeham.
"Sebenarnya siapa kau ini? Untuk apa kau membuat kota kecil ini?"
"Untuk apa kau bertanya lagi?" Vord sengaja menopang dagu dengan tangan. "Tentu saja ini agar orang-orang di luar sana hidup!"
"Hanya itu?"
"Sepertinya kau datang entah dari mana. Tapi kurasa ada yang aneh dengan tubuhmu. Kau seperti memiliki dua energi."
"Aku tidak mengerti maksudmu!"
"Wajar saja kau tidak mengerti." Helaan napas Vord lebih panjang dari sebelumnya. "Aku merasakan adanya energi manusia dan—"
Kali ini sebuah pedang melayang tepat ke wajah Leon. Namun, Leon sigap menangkapnya menggunakan tangan kanan.
"Ada energi Mahkluk Fantasi dalam tubuhmu itu!" Tatapan tajam diarahkan Vord kepada Leon.
"Begitukah? Tapi aku hanya seorang manusia biasa. Dan kata Sun, aku selevel dengan Pelahap Energi tingkat 2 saja."
"Haha, kau tidak perlu dengarkan ucapannya. Kau memiliki potensi untuk menjadi Pelahap Energi tingkat 1, sama seperti kami."
"Lalu?"
"Aku bisa melatihmu, tetapi kau harus mengabdikan diri terhadap kota kecil kami ini. Bagaimana?"
"Kenapa aku harus menerimanya?"
"Karena dengan begitu kau bisa menjadi Pelahap Energi tingkat 1."
"Aku tidak merasa itu menguntungkan."
Vord menunjuk Leon. "Lalu, apa tujuanmu sesungguhnya?"
Sekarang Leon sudah tidak terlalu tegang lagi. Dia membuang pedangnya ke sembarang tempat, kemudian mendekati Vord.
"Aku akan menyelamatkan umat manusia. Menghabisi semua Mahluk Fantasi dan mengembalikan kemakmuran. Tidak hanya terbatas di sini, tetapi di semua tempat."
"Heeh ...." Senyum simpul ditunjukkan Vord. "Cukup menarik. Tapi, menghabisi semua Mahkluk Fantasi itu hanya omong kosong. Kekuatanmu sekarang bahkan tidak menyamaiku."
"Sepertinya kau menganggap dirimu itu sangat kuat."
"Karena aku memang kuat."
Leon tetap santai, mengarahkan tangan kanannya ke depan tepat pada Vord. Vord memandang tangan kanan Leon yang berwarna hitam, dia tidak tahu kenapa Leon menunjukkan itu padanya.
__ADS_1
Mungkinkah Leon hendak menyerang Vord secara terang-terangan setelah ini?