
Sekali lagi aku menghela napasku lalu berbelok ke jalan yang belum kulalui. Berjalan lurus ke depan, mata ini tidak melihat adanya persimpangan atau apa pun. Lorong tempat aku berjalan kini hanyalah sebuah lorong sunyi tanpa adanya cabang atau pun kehadiran orang lain. Namun aku sedikit beruntung, karena di sepanjang dinding lorong terdapat lentera yang menyinari tempat tersebut.
Suhu udara menjadi semakin panas hingga membuat keringat mulai bercucuran dari pori-pori kulitku dan membasahi sekujur tubuh ini. Lama kelamaan, dadaku menjadi sesak, napasku begitu berat, dan kaki ini menjadi lemas. Tenggorokanku pun semakin kering karena udara yang begitu panas.
Ketika diri ini telah menyerah dan hendak beristirahat, tiba-tiba aku menabrak seseorang yang mendadak muncul di sebelah kananku, hingga terjatuh. “Aduh!” ucapku saat jatuh terduduk ke tanah.
Orang yang aku tabrak itu juga ikut mengatakan kata yang kuucapkan sembari terkejut. Perlahan aku membuka mata ini dan berdiri sambil menyeimbangkan tubuh. Melirik ke depan, aku dapat melihat seoraang gadis berambut panjang yang tidak lain adalah Rias.
“Hei! Kau apa kau terluka?” kataku sembari mengulurkan tangan kanan ini kepadanya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya lalu menyambut uluran tanganku. “Ya. Aku tidak apa-apa,” katanya.
Aku sedikit tersenyum ketika diri ini akhirnya tidak sendirian lagi. Namun, tetap saja, suhu udara di tempat ini sangat mengganggu.
Kulepaskan genggagaman tanganku setelah Rias benar-benar sudah berdiri dengan stabil. Tubuh gadis itu juga basah kuyup tersiram oleh keringat yang bercucuran. Pakaian yang ia kenakan juga sangat basah akibat hal tersebut. Meski demikian, tak pernah sekalipun aku melihat keputus asaan dari tatapan matanya, dan hal itu sangat berbeda denganku.
“Ada apa denganmu?” tanya Rias yang melihatku sedang melamun.
“Ah, tidak, bukan apa-apa,” jawabku sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
__ADS_1
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Tidak ada kok, hehe.”
Aku tahu kalau dia akan sedikit curiga melihat tingkahku yang konyol ini, tapi sepertinya ia tidak mau lagi membahas hal itu. Kuharap begitu.
Rias menerawang ke sekitar dan mengamati bagian-bagian dari tempat aneh ini. Tampaknya dia masih sangat tenang walau terdampar di sini. Sejenak Rias terdiam lalu menempelkan tangan kanannya ke dagu. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama beselang, Rias akhirnya menurunkan kembali tangannya dan bersiap untuk memberitahukan sesuatu kepadaku. Ia menatapku lekat-lekat kemudian berkata, “sebenarnya di mana kita berada?”
Harapanku seketika pupus mendengar pertanyaan yang ia lontarkan padaku. Mulut ini terbuka lebar karena tak mampu menahan betapa mengejutkannya hal itu. Tadinya aku sangat berharap kalau dia akan mengatakan sesuatu tentang tempat ini, tapi ternyata aku salah.
Mendadak telingaku mendengar suara dentingan besi yang menggema di dalam lorong ini. Aku pun langsung berbalik ke belakang untuk memastikan asal suara tersebut. Tidak ada apa-apa, yang sekarang kulihat hanyalah lorong kosong yang diterangi oleh lentera.
Detak jantungku meningkat, tarikan napas ini semakin cepat. Aku hampir meloncat ketika ada yang menyentuh tubuhku dari belakang. Menyesuaikan napas, kupalingkan pandanganku dan melihat Rias yang tengah bersembunyi di belakangku. Aku menarik napas lega ketika menyadari tidak ada bahaya yang datang.
Belum sempat diri ini menjadi tenang, cairan dengan bau menyengat mendadak jatuh dari atas dan membasahi tubuhku yang sudah bermandikan keringat. Aroma dari cairan itu sangat tajam hingga membuatku pusing. Namun, entah kenapa, aku merasa ingin menghirupnya berkali-kali.
Lentera-lentera itu tiba-tiba mengobarkan api yang amat besar dan merayap dengan cepat di lantai. Sontak aku menarik Rias untuk berlari menjauh dari api tersebut. Akan tetapi, langkahku terhenti ketika melihat lorong bagian depan kami juga sudah dipenuhi kobaran api.
__ADS_1
Astaga! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Ayolah Leon! Berpikir! Berpikir! Pikirkan bagaimana caranya keluar dari sini?
Lagi-lagi aku terjebak pada situasi yang sangat berbahaya. Pikiran ini kembali kacau balau karena hal tersebut. Aku sungguh tidak tahu bagaimana cara untuk menghindari kobaran api ini.
Pada waktu aku sudah tidak dapat berbuat, Rias langsung menarik diri ini berbelok ke samping kanan, tempat ia berjalan tadi. Lorong itu gelap, tidak ada satu pun lentera yang menerangi tempat ini. Namun, ini sangat menguntungkan, karena tanpa adanya lentera, kobaran api tadi tidak akan dapat menjangkau tempat ini dengan segera.
Kami terus berlari menjauh, tapi api juga ikut mengejar dari belakang hingga membuat lorong yang tadinya gelap kini menjadi terang. Suhu udara menjadi semakin panas, kobaran api itu terus merayap dan hampir menyambar diriku. Aku tidak tahu cairan apa yang disiramkan pada tubuh ini, namun yang jelas, cairan ini dapat membuat api kian berkobar.
Napasku tersengal, kaki ini semakin lemas hingga tak sanggup untuk menahan berat badan. Aku jatuh terjerembab, dan hal itu menyebabkan Rias ikut jatuh. Tak menunggu lama, Rias kembali berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku. Kusambut uluran tangannya itu, tapi kaki ini sudah tak sanggup untuk berdiri.
“Ayo! Cepatlah!” Rias kian panik karena api yang semakin cepat menjalar.
Segera aku melepaskan tanganku darinya lalu mendorong Rias ke depan. “Pergi! Tinggalkan saja aku!” seruku.
Bukannya segera pergi, Rias malah mendekat dan menarikku. “Dasar lemah! Jangan menjadi kakek tua yang manja! Ayo pergi!” Rias begitu marah akan tindakanku itu.
Melihat Rias yang berusaha keras untuk menolong, kupaksakan kedua kaki ini untuk berdiri. Rias langsung menarikku, kakiku yang lemas ditambah napas yang sesak benar-benar membuatku ingin menyerah. Namun, aku mengabaikan semua rasa sakit itu dan berlari demi keselamatan.
Semakin lama berlari, napasku kian berat, dada ini sesak, dan rasa lelah sudah tak sanggup lagi untuk ditahan. Kecepatan kami kini berkurang dengan cepat, karena Rias juga sudah sangat kelelahan. Dalam waktu yang sama, aku dan Rias jatuh sebab tak kuasa melawan lelahnya diri ini.
__ADS_1
Genggaman tangan kami terlepas, aku merayap ke depan hingga berada di sebelah kanan Rias. Dengan napas yang terengah, kutatap Rias lalu berkata, “haah ... haah ... ayo! Se ... haah ... sedikit lagi.”
Kepalaku pusing, pandangan ini kian berkabut. Asap yang begitu tebal juga menyumbat hidungku sampai-sampai dada ini semakin sesak dibuatnya. Memaksa diri untuk merayap ke depan, aku menemukan percabangan dari empat sisi. Dan naas, setiap sisi dihiasi oleh kobaran api yang begitu ganas untuk melahap apa pun yang ada di hadapannya.