The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 9 part 3


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Leon dan teman-temannya masuk ke dalam gua. Mischie yang pertama kali masuk terdiam sejenak memandangi gelapnya kondisi gua. Di sini, hidungnya yang sensitif mencium sebuah aroma manis dan juga harum. Karena hal itu, ia perlahan-lahan masuk semakin dalam meninggalkan teman-temannya yang ada di belakang.


Tak jauh di belakang Mischie, terdapat dua orang gadis dan seorang pemuda yang mengekor Mischie. Mereka bertiga hanya terus berjalan tanpa mengucapkan apa-apa. Beberapa saat kemudian, salah satu gadis bertabrakan dengan seorang pemuda yang ada di belakangnya. Kedua orang itu adalah Rias dan Leon.


Selama interaksi kecil Leon dengan Rias berlangsung, Mischie masih tetap berjalan tanpa mengatakan sepatah kata pun. Semakin lama waktu berlalu, ia akhirnya terpisah jauh dari teman-temannya tadi.


Ketika aroma harum yang diendus oleh Mischie kian menyengat. Pandangan matanya menjadi berkabut, isi kepalanya seolah berputar tanpa henti membuat dirinya pusing. Bagaikan sebuah film yang tengah diputar, memori kenangan Mischie kini terpampang jelas di dalam kepalanya. Namun, tak ada seorang pun yang dapat ia ingat, selain nama benda, hewan, serta tumbuhan.


Mischie melihat dirinya tengah berkumpul dengan banyak orang di dalam sebuah ruangan. Wajah orang-orang tersebut tampak asing di matanya. Ia sungguh tidak dapat mengingat sedikit pun tentang mereka. Mischie hanya tahu kalau dirinya sedang mengadakan suatu pesta bersama dengan mereka.


Layaknya sebuah pergantian film, apa yang tampil di kepala Mischie adalah memori tentang kehidupan barunya bersama dengan Leon dan teman-temannya yang lain. Dia sungguh mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Leon. Kala itu, Mischie tidak terlalu berharap untuk diselamatkan, namun Leon mau menolongnya dengan penuh kerendahan hati.


Berbeda dengan Mischie yang sedang bernostalgia. Di tengah percabangan lorong yang hendak terlahap oleh api, terdapat Leon dan Rias nan tengah menutup hidung mereka dengan kedua tangan agar tidak menghirup udara yang sudah tercemar oleh kumpalan asap. Walau demikian, asap masih dapat merembes masuk ke dalam pernapasan mereka hingga menyesakkan dada.


Api yang berkobar bagai sebuah gelombang, menerjang ke arah Leon dan Rias dari empat sisi. Detak jantung Leon kian berdebar, napasnya mulai tersengal karena takut menghadapi kematian. Sama halnya dengan Rias, ia juga merasa takut melihat keadaan ini. Namun, sudah tidak ada cara bagi mereka bedua untuk selamat.


***


Kobaran api yang begitu besar datang merambat dengan cepat ke arah kami. Tubuhku mulai dibasahi oleh keringat karena sangat takut akan keadaan ini. Memalingkan pandanganku ke arah Rias, mata ini dapat melihat betapa tegangnya Rias untuk menghadapi keadaan kami.

__ADS_1


Menyala-nyala dan membumbung tinggi ketika melalui lantai yang basah oleh suatu cairan yang tidak kukenal. Api itu kian mendekat untuk melahap badan ini. Walau sudah tak punya cara untuk pergi, aku tetap memaksa tubuh ini untuk berdiri.


“Argh ...” Aku merintih kesakitan saat rasa sakit menyebar dengan cepat ke sekujur tubuhku. Tak sanggup menahan berat badan, aku lagi-lagi jatuh terjerambab di atas lantai lorong yang akan segera terbakar ini.


“Argh ... sakit ... argh ...” jerit kesakitan dari mulut Rias berdengung memenuhi lorong. Aku mundur selangkah ketika melihat api mulai membakar sekujur tubuhnya.


“Tidak! Tidak! Tidak! Hentikan!” seruku sembari berlari mendekati Rias untuk membantunya memadamkan api di badannya.


“Argh ...” Kali ini aku yang menjerit karena api yang begitu panas membakar tubuh bagian belakangku.


Aku menghempaskan tubuhku ke tanah kemudian berguling-guling untuk memadamkan api tersebut. Bukannya padam, api itu justru semakin berkobar menyelimuti diri ini. Sekujur tubuhku kian panas akibat terbakar.


Suara jeritan yang sangat nyaring kembali terdengar, ketika aku berpaling ke arah suara tersebut, mata ini seketika terbelalak lebar memandangi Rias yang tubuhnya tengah tersambar api. Suara yang keluar dari mulutnya kian serak, sedangkan aku hanya diam tak sanggup berbuat apa-apa lagi. Dengan cepat api yang membakar tubuhnya melahap habis raga mungil si gadis berambut panjang itu hingga dirinya terbakar menjadi abu.


Aku mengulurkan tangan kananku ke arah gadis itu, air mata ini tanpa sadar mengalir membasahi pipi. Hatiku semakin sesak, sebab tak kuasa untuk menahan betapa sedihnya perasaanku. Walau diri ini merasakan sakit yang luar biasa, tetap kucoba untuk mengangkat badan ini untuk berdiri.


Api besar itu kini melahap tubuhku, aku sekali lagi terjatuh saat hendak berdiri. Namun, dengan tekad yang terkumpul di dalam lubuk hati ini, aku merangkak mendekati tempat Rias terbakar. Suhu udara yang begitu panas dan asap tebal membuat kepalaku pusing. Mengabaikan sekitar dan apa yang kurasakan, tetap kuseret diri ini untuk bergerak.


“Argh ... argh ... argh ...” Setiap bagian tubuhku mulai terbakar, aku yang tak kuasa menahan rasa sakitnya pun hanya bisa merintih. “Argh ... argh ...” Suara ini kian serak hingga tak terdengar lagi.

__ADS_1


Pandanganku mulai gelap, rasa sakit yang maha dahsyat akibat api tersebut mulai merambat hingga ke organ tubuh bagian dalam. Perih, bagian dalam kepalaku terasa ditusuk. Namun, lama kelamaan rasa sakit itu pudar dan kesadaranku menghilang.


***


“Tidak!” Sebuah suara yang begitu nyaring menggema di dalam gua sunyi dan gelap.


Tampaklah seorang pemuda yang bercucuran keringat dengan napas tersengal sedang memandang dengan bingung sekelilingnya. Detak jantungnya begitu kencang dan matanya melirik ke sana kemari untuk mencari sesuatu. Pemuda itu adalah aku yang sedang heran dengan apa yang sudah terjadi.


Teringat akan sesuatu hal, aku langsung memeriksa sekujur tubuhku, tapi tak menemukan apa-apa. “Aku baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Aku bertanya-tanya pada diriku tentang apa yang sudah kulalui.


Kucoba untuk berdiri, kaki ini masih sangat gemetaran dan lemas. Tubuhku masih belum stabil, aku bahkan hampir jatuh ketika hendak berdiri tegak. Kepala ini masihlah pusing, dan pandanganku masih berkabut. Setelah menyesuaikan diri hingga tubuh kembali normal, aku akhirnya sadar kalau sebenarnya aku masih berada di dalam gua yang kumasuki beberapa saat lalu.


Indra penciumanku pun membaik, sebuah aroma yang begitu manis langsung mengisi lubang hidungku. Bukannya mendekat ke sumber aroma, aku malah bergegas menjauh dan akhirnya sampai ke depan gua.


Seketika, mata ini disilaukan oleh cahaya yang begitu terang. Menutup mata dengan telapak tangan, kulangkahkan kakiku kemudian membuka mata sembari menyesuaikannya. Tak kusangka, matahari mulai condong ke arah barat menandakan hari akan segera berakhir.


“Apakah tadi itu adalah mimpi?” Aku memutar otakku untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Tak lama kemudian, terbersit sebuah nama di dalam kepalaku. “Rubah Licik,” ucapku dengan heran.


Entah kenapa, aku mengungkapkan kata-kata itu, tapi sepertinya ada sesuatu yang tersirat di sana. Sekali lagi aku teringat. “Ah, iya. Aku melupakan Mischie dan dua gadis itu.” Sembari bekata, aku bergegas masuk lagi ke dalam gua.

__ADS_1


__ADS_2