
Jauh di dalam hutan, Flicker berubah wujud menjadi manusia singa. Perubahan ini dipicu oleh kemarahan yang tak kunjung mereda, ketika mengingat hari di mana semua temannya dihabisi dengan keji. Siapa yang berada di hadapannya sekarang tidak lain adalah Zanik, salah satu anak buah Andrew yang bertugas menghabisi Flicker dan kelompoknya. Namun, karena satu kecerobohan, Flicker berhasil kabur dari serangan mereka.
“Sepertinya kau sudah berubah.” Zanik mencoba memprovokasi Flicker. “Tapi, itu masih belum cukup untuk menghadapiku ....”
Tak mau terjebak dalam provokasi, Flicker tetap tenang dan menghela napas. Meskipun demikian, amarah di hatinya masih belum padam. “Jangan kira aku akan takut padamu, mahkluk hina sialan.”
“Heh ....” Dengan gerakan secepat kilat, Zanik mengambil pistol dari balik pakaiannya dan langsung menembak Flicker.
Walaupun itu adalah serangan mendadak, Flicker masih sempat menghindar ke samping kanan. Belum sempat ia menghela napas, satu tembakan dilancarkan lagi oleh Zanik. Berulang kali Flicker mencoba menghindar, tetapi naas, Zanik semakin brutal, hingga akhirnya satu kaki Flicker terkena serangan.
Flicker mengaum, lalu menerjang Zanik layaknya seekor singa yang hendak menerkam mangsa. Tak panik sedikit pun, Zanik langsung mengumpulkan energi di tangannya, kemudian melancarkan satu serangan bola magma kepada Flicker. Tubuh Flicker terbaring, beberapa tulangnya meleleh karena serangan Zanik.
“Dengan ini tugasku benar-benar selesai, Andrew.” Zanik mengembalikan tangannya ke bentuk semula, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan sisa energi yang terkandung dalam kristalnya. “Melihat kondisi semakin tidak kondusif, mungkin energi di dalam kristalku akan terus terkuras dan habis karena tak dapat diisi lagi.”
Setiap kristal memiliki jenis energinya sendiri, walaupun sebutannya sama yaitu energi jiwa, tetapi sebenarnya berbeda. Energi jiwa itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu panas dan dingin. Karena sekarang cuaca sedang dingin, mereka yang mempunyai kristal dengan energi dingin akan lebih diuntungkan.
Zanik menyimpan pistolnya di balik pakaian sambil terus berjalan. “Akhirnya hari penentuan tiba.”
Semakin banyak orang yang mati karena kekacauan ini, dan hanya tersisa empat dari sembilan Klan saja. Di antaranya ada Klan Singa, Klan Naga, Klan Kuda, dan Klan Ular. Bisa dikatakan kalau mereka ini adalah Klan terkuat di sini. Meskipun keberadaan Klan Ular belum diketahui sepenuhnya siapa saja yang masih hidup selain Leon dan Darwis. Serta Klan Kuda yang hingga sekarang belum diketahui identitasnya.
Sementara itu, di depan sebuah gua, tampak dua orang remaja dengan jubah hitam. Mereka menutup wajah menggunakan topeng berwarna putih. Salah satu remaja tersebut memiliki rambut jingga pendek, sedangkan yang satunya masih menutup kepala menggunakan tudung. Tidak ada orang lain di tempat itu selain mereka.
“Sepertinya ada yang membuat para zombie itu menggila.” Pemuda bertudung merendahkan tubuhnya, mengamati jejak kaki dan darah yang ada di depan gua tersebut.
__ADS_1
“Hm, menarik sekali. Aku yakin Andrew yang membuatnya seperti ini ....” Embusan angin menerpa jubah pemuda berambut jingga. “Akhirnya waktu kita tampil telah tiba.”
Pemuda bertudung jadi bersemangat. “Baiklah ... aku tak sabar menunggu ini.” Dia kemudian menegakkan kembali tubuhnya.
Mereka pun bergegesan ke arah utara, melewati jalan setapak di antara pepohonan. Tak ada orang lain lagi di wilayah ini, hanya mereka yang tersisa karena semuanya telah berada di daerah utara. Peperangan sesungguhnya baru saja akan dimulai.
Pada sebuah gedung tua, Andrew duduk di belakang meja, menunggu anak buahnya menyiapkan persenjataan berupa senapan, granat, dan sebagainya. Zanik pun hadir di sana, tetapi ia hanya melihat ke luar melalui jendela yang telah hancur. Tidak terlihat pergerakan musuh, meskipun markas mereka ini berada tak jauh dari perbatasan. Bahkan, Zanik bisa mencapainya dengan cepat setelah membunuh Flicker.
“Andrew! Apakah kau yakin rencanamu ini akan berhasil?” tanya Zanik dengan ragu.
Di dalam ruangan itu, tidak hanya terdapat Andrew dan Zanik saja, tetapi juga para anggota Klan Naga yang lain, seperti Creeps, Lize, Kaiser, dan Scof. Mereka adalah orang-orang penting di Klan Naga. Kakuatan yang mereka miliki juga tak kalah kuat, masing-masing dari mereka memiliki kristal yang mampu menyerap energi.
“Kau ragu?” Andrew bertanya balik kepada Zanik.
“Tidak ... hanya saja ... kau terlihat sedang bermain-main.” Tangan Zanik masuk ke dalam saku celana. “Tujuan kita hanya keluar dari hutan ini, tetapi kenapa kau sangat ingin menyiksa Leon? Bukankah itu tak masuk akal?”
“Jika kau tak suka ...,” sebuah pedang cahaya melayang di depan Zanik, “maka biarkan aku membebaskanmu dari penderitaan ini sekarang juga.”
Kejam sekali psikopat ini. Keringat langsung membasuh kening Zanik, semua mata tertuju padanya saat itu juga. Namun, tak seorang pun yang mau membantu atau mengatasi suasana tegang ini. “Baiklah, lakukan sesuakamu saja. Lagipula, kau adalah bos di sini.”
Dalam waktu singkat, pedang cahaya tadi langsung pecah menjadi partikel hingga akhirnya menghilang. “Untuk terakhir kali, aku akan memperingatkanmu supaya menjaga tingkah laku,” kata Andrew pelan, tetapi sangat menusuk.
“Tidak akan aku ulangi.”
__ADS_1
***
Tempat lain, di dekat tugu yang menjadi tujuan setiap Klan, seorang pemuda tinggi berambut merah, bersama dengan beberapa remaja lainnya, memandangi tugu tersebut. Terdapat suatu penghalang di sana, yang membuat mereka tidak dapat masuk lebih jauh untuk menelusuri. Dan hanya bisa berdiri mematung di sebuah gang sempit.
Pada bagian atas, lebih tepatnya beberapa meter di atas para remaja yang tengah berdiri itu, terdapat sebuah tulisan: 4 Klan. Mereka jelas tahu apa makna dari tulisan tersebut.
Pemuda berambut merah tadi, bergumam dengan pelan, “Jika kita bisa menghabisi tiga Klan lainnya, apakah pelindung ini akan lenyap?”
“Sudah jelas seperti itu,” sahut seorang gadis berambut pirang panjang yang berdiri tepat di sebelah pemuda tersebut. Tangan putihnya terulur ke depan, lalu jarinya menunjuk tugu yang ada di hadapan mereka. “Aku tak yakin kalau di sana tidak ada apa-apa.”
Si pemuda menghela napas, pakaian dan rambut berwarna merahnya membuat dia begitu mencolok. “Kau benar. Dengan adanya energi jiwa, semuanya bisa menjadi mungkin. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa membuat ini.” Dia mengangkat tanganya ke atas, tak lama, energi terkumpul di telapak tangan pemuda itu hingga akhirnya terbentuk sebuah pistol.
Gadis yang berbicara tadi tersenyum. “Ya, jadi bukan hal mustahi kalau sebuah fortal untuk keluar dari sini, ada pada tugu itu.”
“Aku ingin tahu, siapa orang yang mempunyai kekuatan semengerikan ini hingga bisa membuat hutan dengan segala isinya ini.”
“Haha, paling-paling orang tersebut hanya menjadi penonton entah di mana.”
“Kau benar.”
Setelah percakapan kecil itu, pemuda tadi menuntun rekan-rekannya menjauh dari tempat ini. Dia yakin kalau akan ada orang yang akan ke sini beberapa saat lagi. Pasti berbahaya jika firasatnya tersebut benar terjadi.
“Sehari, seminggu, atau sebulan, kita Klan Singa akan menjadi pemenang. Selain itu, aku penasaran dengan pemuda yang kita temui waktu itu.” Pemuda berambut merah tersenyum senang.
__ADS_1
“Tidak sia-sia juga kita sengaja menyulut pertikaian dengan Klan Naga waktu itu,” seorang di antara mereka berbisik kepada teman di sebelahnya.
“Ya,” temannya langsung menyetujui. Tentu ini adalah incaran mereka sejak awal, mengukur seberapa kuat Klan Naga dan membuat markas di dekat tugu. Dengan begini, mereka layaknya bos terakhir yang harus dikalahkan dalam sebuah permainan.