The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 27 : Hanya Sekumpulan Orang Cacat


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya, Vord sengaja meninggalkan Leon dan teman-temannya dan pergi ke suatu tempat. Namun, sama seperti sebelumnya, ia masih mengawasi dari kejauhan.


Awalnya tidak terjadi apa-apa, bahkan Vord sempat berpikir ini akan membosankan. Akan tetapi, hal tak terduga terjadi, mendadak saja sebuah lingkaran muncul. Dari lingkaran tersebut, tiga orang pria keluar.


Sesegera mungkin Vord bergerak menghadang mereka. Tapi mereka masih sempat menyerang Leon berserta teman-temannya, hingga terpaksa turun ke bawah sini. Sejenak Vord menoleh ke belakang, memberi peringatan untuk pergi.


Entah karena alasan apa, raut wajah Sun dan Sasa berbeda dari sebelumnya. Dulu, Sun pernah menceritakan kalau dia memiliki dendam terhadap seseorang sehingga memutuskan menjadi Pelahap Energi. Apakah salah satu dari ketiga orang ini adalah musuhnya?


Vord masih bertanya-tanya dalam kepala. Meski demikian, tak ada jawaban sama sekali.


“Sun, biar aku mengurus mereka bertiga.”


“Tidak, Tuan ....” Secepat kilat Sun melompat lalu melancarkan serangan bola api pada salah satu dari tiga orang tadi. “Night! Aku akan membunuhmu sekarang juga!”


Tubuh Sun ditutupi oleh kobaran api. Gerakannya begitu cepat, menyerang menggunakan tinjuan api pada pada laki-laki yang dipanggil Night. Vord tahu kalau Night bukanlah orang yang menyerang Leon ataupun Sun sebelumnya. Jadi, kemungkinan besar dia adalah musuh terbesar Sun.


“Bodoh! Dia bukan lawanmu!” Vord berniat menghentikan Sun. Namun, Jahad dan temannya lantas menghadang jalan pemuda itu. “Cih!”


“Kau tidak akan bisa lari dari kami,” ucap Jahad, datar. “Prison, gunakan kekuatan penuh untuk melawannya. Abaikan yang lain.”


Pemuda bernama Prison langsung mengambil sebutir obat dari botol dalam sakunya. Vord tentu tidak akan terjebak dalam jebakan sama seperti sebelumnya. Dengan segera ia melancarkan serangan bola berwarna abu-abu pada Prison.


“Kaupikir aku hanya akan diam menonton.” Jahad berhasil membelah serangan Vord menggunakan Pedang Blue Sky-nya.


Dari belakang Jahad, terlihat jelas tubuh Prison berubah menjadi hitam kelam. Dari punggungnya muncul semacam kupalan asap yang membentuk wujud raksasa dengan cakar panjang. “Jiwa Kesepian, bentuk pertama, Sosok Gelap, terbuka ....” Saat Prison mengucapkan kalimat itu, langit menjadi mendung, guntur bergemuruh, menambah suram suasana.


Dari belakang Vord, sebuah bola besar berwarna hitam melesat, menghantam Prison tanpa peringatan apa pun. Vord berpaling, terlihat Leon tengah kesusahan mengatur tarikan napasnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Belum sempat Vord menjernihkan pikiran, Jahad langsung menyerangnya dari atas. Terpaksa Vord mundur, tetapi Jahad mulai menyerang secara agresif dari berbagai arah. “Sial, aku terdesak.”


***


Leon seketika tersentak saat Sun melesat ke depan menyerang musuh yang bernama Night. Terlebih, di belakangnya, Sasa memberikan penyembuhan jarak jauh untuk Sun jikalau dia terluka. Sementara Ni hanya memerhatikan dari kejauhan. Tampaknya, lukanya jauh lebih parah dari perkiraan.


Keadaan ini membuat Leon merasa seperti orang tak berdaya. Ia ingin membantu, tetapi kondisinya tidak meyakinkan. Dan lagi, akibat luka di tubuhnya, kekuatannya menurun secara drastis.

__ADS_1


Ketika guntur menggelar, mata Leon terbelalak lebar melihat perubahan orang bernama Prison. Tidak salah lagi, ia mengenali wujud tersebut. Wujud yang tak asing lagi baginya.


“Sosok Hitam ....” Pantas saja kemampuan fisik Prison begitu kuat hingga membuat Leon seperti sekarang.


Seolah muak untuk melihatnya dan ingin wujud tersebut menghilang. Secara refleks, Leon menyerangnya menggunakan bola hitam.


Debu berterbangan, Prison masih belum juga terlihat. Di lain tempat, pertarungan Sun dan Night masih begitu sengit, begitu pula dengan Vord dan Jahad.


“Kalian berdua tetaplah di belakangku.” Kendati susah menarik napas, Leon memaksakan diri membuat pelindung bagi kedua gadis di belakangnya.


Wush!


Dalam sekejap mata, Prison dengan wujud Sosok Hitam berada di hadapan Leon. Dia menebaskan cakar panjangnya secara horizontal, sampai-sampai Leon tak sempat bereaksi. Namun, keberuntungan masih menyertainya. Bagai telah diprogram menjadi pelindung otomatis, kekuatan Leon berhasil menahan serangan Prison.


Prison melompat ke belakang. Bayangan sosok hitam besar di belakangnya masih belum hilang, dan dengan hanya melihatnya, Leon teringat kembali pada kejadian di hutan misterius.


“Leon ..., kau baik-baik saja?” Sasa langsung memberikan pertolongan pertama pada Leon ketika pemuda itu memuntahkan darah segar.


“Ya ... aku baik-baik saja ....” Suara Leon terpotong-potong, kondisinya sekarang sangat merugikan. “Lupakan aku, fokuskan kekuatan pada pertarungan Sun.”


“Kalian sudah memaksaku bertarungan sampai seperti ini, jangan menyesal nantinya.” Teriakan Vord terdengar jelas di telinga.


Namun, mendadak Night melayang tepat di hadapannya ketika Sun telah terlontar di sebelah kanan Leon. Sun terluka parah, dan Sasa segera memulihkan kondisinya.


Tekanan dari Night dan Vord begitu kuat, hingga membuat orang-orang di sekitar susah bergerak. Leon tertunduk, tubuhnya tak mampu menahan tekanan ini.


Akhirnya, setelah beberapa waktu, tekanan tersebut menghilang. Menoleh ke atas, Leon sudah tak dapat melihat kehadiran Vord dan Night lagi.


“Haha, sekarang waktunya bagi kita membunuh orang-orang cacat ini.” Dari atas, Jahad bersama Prison mendekat.


“Hei, jangan lupakan tugas kita, Prison.”


Menyadari hal itu, Sun menyerang mereka menggunakan bola api besar. Pemuda itu bangkit berdiri, menyerang sekuat tenaga kedua musuh.


“Sun, jangan memaksakan diri. Kau sekarang ....”

__ADS_1


“Ini satu-satunya cara agar kita bisa selamat.” Kobaran api di tubuh Sun menghilang dengan cepat. Dia terjatuh, sementara Jahad dan Prison sudah berhasil mendarat tanpa luka.


“Sepertinya satu sudah jatuh,” ucap Jahad sambil mengarahkan pedang ke depan.


“Berhenti!” Ni berteriak sembari melancarkan serangan bola cahaya berwarna kuning ke arah Jahad.


“Matilah!” Prison melesat ke depan, melancarkan sebuah pukulan.


Sontak Leon membuat pelindung, menahan serangannya. “Hia!” Hanya beberapa saat, pelindung Leon berhasil dihancurkan berkeping-keping.


“Argh!” Tubuh Leon kaku, darah perlahan bercucuran dari mulutnya. Prison berhasil menghantam perutnya hingga berlubang.


“Sudah berakhir. Kau akan kubawa bersama kami, Leon ....”


“Sialan kau ....” Sun merangkak, melancarkan pukulan lemah kapada Prison.


Prison menoleh, waktu seperti berhenti sejenak, kemudian Sun terhempas di dinding ciptaan Vord. “Sampah, jangan menyentuhku.”


“Sun!” Belum sempat Sasa berlari mendekati Sun, Prison lantas melemparkan gadis itu ke arah Sun.


“Itu jauh lebih cepat, kan?” Prison berdiri, melepas pukulannya dari Leon.


“Kalian ....” Ni hendak melancarkan serangan lagi, tetapi tubuh mungil gadis itu segera terhempas di dinding terkena tendangan Jahad.


“Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan kami. Itu karena kalian hanyalah sekumpulan orang cacat.”


Leon sudah tidak tahan lagi pada keadaan ini. Sudah muak ia melihat orang di dekatnya tersiksa. Sekarang haruslah berbeda, kejadian yang sama tak boleh terulang.


Amarah menguasai hati Leon. Ia sudah muak terhadap perasaan sedih. Dunia telah menghukumnya dengan hal yang jauh lebih menyakitkan dari kematian.


“Kalian ....” Tubuh Leon memancarkan cahaya.


Jahad dan Prison segera pergi karena merasakan hal aneh dari Leon.


Tubuh Leon melayang, tiga orang temannya pun melayang di sekitarnya dengan memancarkan cahaya berwarna putih pula. Mata Leon memutih, warna rambutnya juga berubah menjadi putih.

__ADS_1


Sampai kapan aku hanya akan menyesal? Sampai kapan aku terus seperti ini? Tidak lagi, aku harus melindungi mereka bahkan jika sampai merenggut nyawaku sendiri.


__ADS_2