
Tidak perlu panik, ini akan baik-baik saja.
Aku mengangkat kedua tangan, lalu mundur beberapa langkah. Pemuda bertudung itu masih terus mendekat, diriku tidak tahu apa yang diinginkannya.
"Mau apa kau?" tanyaku, sembari terus mundur.
Pemuda itu mendengus dan melangkah ke belakang. Dia nampaknya bosan melihat tindakanku. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia lantas kembali berjalan ke arah utara, seolah tidak pernah melihatku.
"Ayo kita pergi!" Pemuda itu memerintah para pengikutnya berjalan mengikuti dirinya.
Orang aneh, kenapa dia bertindak seperti itu? Padahal, kukira dia akan melakukan sesuatu padaku. Sangat membingungkan. Namun, aku tidaklah bodoh, dia pasti memiliki tujuan lain dengan melepaskan diriku.
Ah sudahlah, lebih baik aku segera mencari tempat istirahat malam ini.
Segera aku pergi menuju ke arah utara, tetapi melewati jalan lain. Sebenarnya sangat mudah mengikuti para remaja tadi. Namun, tekad itu langsung kandas kala memikirkan apa yang terjadi jika ketahuan.
"Semoga saja aku tidak bertemu mereka lagi." Langkahku tiba-tiba terhenti ketika teringat pada sesuatu. "Mungkin mereka bisa dimanfaatkan."
Senyuman lebar mengawali langkah kaki. Sekarang, aku jadi menantikan waktu di mana mataku dapat melihat kejadian berikutnya.
Waktu pun berlalu, udara dingin di malam hari, semakin menjadi. Aku mengisi senjata dengan peluru yang sesuai, lalu duduk di bawah sebatang pohon. Tubuh kulemaskan dan memegangi senapan panjang di atas pangkuan.
"Sepertinya aku tidak bisa tidur nyenyak malam ini."
__ADS_1
Sangat berbahaya jika tidur pulas pada situasi genting ini. Namun, tak cukup tidur juga merupakan masalah. Benar-benar merepotkan. Andai aku masih memiliki seorang rekan, semuanya akan berbeda.
Ah, sudahlah, lebih baik aku tidur saja.
Mata terpejam, lalu aku pun tertidur dengan lelap.
***
Di saat yang sama, para remaja yang mengikuti pemuda bertudung tadi mulai bingung melihat ketua mereka melepaskan Leon begitu saja. Beberapa saat kemudian, seorang pemuda berbadan kekar, memiliki kulit berwarna putih, dengan rambut pirang pendek, berjalan mendekati pemuda bertudung.
"Kenapa kau melepaskannya begitu saja?" Pemuda berambut pirang itu berkata dengan menaikan nada suaranya kepada pemuda bertudung.
Tak mau menggubris pertanyaan yang dilontarkan padanya, pemuda bertudung masih terus berjalan tanpa ada niat untuk berhenti.
Muak akan suara berisik itu, pemuda bertudung akhirnya berhenti. Ia menarik sebuah pistol berwarna hitam dari balik pakaiannya menggunakan tangan kiri, lalu mengarahkan benda tersebut pada pemuda berambut pirang. "Jika kau bertanya lagi." Pemuda itu melemparkan tatapan dingin. "Maka kau akan mati."
Bergeming, pemuda berambut pirang tak dapat menggerakkan tubuhnya. Sekujur raganya bergetar, tatapan tajam dari orang yang ada di depannya membuat pemuda berambut pirang tak sanggup bergeser.
Seolah tidak ada yang terjadi, pemuda bertudung memasukkan pistolnya ke balik pakaian, lalu berjalan. Pemuda itu tak memancarkan ekspresi apa-apa di wajahnya, ia hanya memakai muka datar, sehingga isi pikirannya susah ditebak.
"Dasar monster," gumam pemuda berambut pirang, ketika orang yang ia ajak bicara telah pergi.
Perlahan, gerombolan remaja mulai berjalan lagi, mengabaikan pemuda berambut pirang yang masih mematung kaku.
__ADS_1
***
Cerahnya sinar matahari, mengawali indahnya hari di kala itu. Aku meregangkan otot-otot tubuh, lalu menarik napas panjang, merasakan segarnya udara. "Tak kusangka, aku ternyata dapat tidur nyenyak."
Kusiapkan badan untuk mengawali hari, kaki melangkah ke depan perlahan-lahan. Sesaat kemudian, rasa lapar pun menghantui.
"Baiklah, dengan apa aku harus mengisi perut?" Sejenak, langkah terhenti, mata menerawang ke sekitar, mencari sesuatu. "Aneh, kenapa pohon-pohon di sini tidak memiliki lubang? Ya ampun, mau atau tidak, seperti satu-satunya cara adalah berburu."
Menghela napas berat, aku kembali berjalan, berharap dapat menemukan keajaiban.
Suara nyamuk menggema di dalam telinga, sungguh muak aku mendengarnya. Namun, tak ada yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Mendengus karena kekesalan, tangan ini terus bertepuk dengan harapan para nyamuk yang menyebalkan dapat mati.
"Haah, haah, haah. Kenapa aku belum juga menemukan makanan? Matahari sudah semakin tinggi, dan rasa lapar kian menghantui. Haah, sepertinya aku memang harus berburu."
Tiba-tiba, aku teringat pada sesuatu. Setelah sedikit sentakan, mataku langsung melirik lengan kiri. Sesuai perhitungan, tato ular berwarna hitam, masih melekat di sana.
Kepala tengadah, menatap langit cerah berwarna biru dengan sedikit awan. Raga merasakan segarnya angin yang menerpa, pikiran yang tadinya kacau, entah bagaimana dapat kembali tenang.
Daun-daun bertebaran terseret oleh angin, sebuah senyum kecil, mendadak terpampang jelas di wajahku. Hati begitu tenang, seolah menanti untuk melihat masa depan.
"Semuanya memang tidak selalu berjalan mulus, tetapi hal itulah yang mewarnai kehidupan."
Aneh, untuk pertama kalinya, aku tersenyum girang ketika memikirkan masa yang akan datang. Aku menantikan hal yang sebelumnya tidak diharapkan. Pertemuan dengan orang baru, memulai ulang semuanya.
__ADS_1
Tangan mengepal, kepala tertunduk. Apa yang kunanti adalah saat di mana semua tujuanku tercapai. Tidak peduli jika harus mengotori tangan dan menjadi seorang brengsek. Karena yang terpenting adalah; tujuan.