The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 1 part 1


__ADS_3

Menyusuri jalan setapak di antara pepohonan, aku masih belum menemukan siapa pun di dalam hutan. Keadaan seperti ini,membuatku sedikit bosan.


"Baiklah, ke mana aku harus pergi?"


Jika aku bilang sudah tak lagi memikirkan kejadian buruk yang baru saja kualami, itu hanyalah sebuah kebohongan belaka. Sebab diriku tetap belum juga dapat melupakannya. Namun, sebisa mungkin kucoba untuk tidak mengenangnya.


Tanpa sadar, matahari telah condong ke arah barat, warna jingga kini menghiasi langit biru. Sejenak aku mengelus perut, tidak ada rasa lapar yang menghantui pikiran. "Sampai kapan ini akan berlangsung?" Aku menghentikan langkah, duduk bersandar di bawah sebatang pohon. "Tenggorokanku terasa kering."


Belum lama aku berhenti, diriku lantas beranjak pergi lagi untuk mencari air. "Ah, betapa bodohnya aku. Di tas hitam tadi kan ada beberapa botol air."


Tidak ada artinya aku menyesali hal yang telah terjadi, karena itu akibat kelalaianku sendiri. Selain tenggorokan kering, dalam mulut ini juga terasa aneh. Ada aroma busuk keluar dari sana, hingga membuat indra penciuman sedikit terganggu.


Anehnya lagi, kenapa aku sanggup memakan makanan mentah seperti itu? Apa karena aku terlalu lapar? Atau mungkin diriku telah berevolusi menjadi suatu mahluk yang berbeda?


Memikirkan hal tersebut membuatku sedikit merinding. Jadi, semuanya harus dimulai dari awal lagi. Mencari rekan baru, kemudian mengambil keuntungan dari mereka. Tak peduli jika mereka kesusahan, yang penting aku dapat selamat dan membalas dendam.


Sembari mencari jalan keluar, mungkin perlu untuk menguak misteri hutan ini. Siapa tahu ada sesuatu yang berharga. Dan aku juga ingin tahu, alasan kami dikirim kemari.


"Di mana sih, aku dapat menemukan sebuah danau?"


Menyebalkan, sejak tadi mataku tak dapat menemukan sebuah danau pun di sekitar. Mulutku semakin terasa aneh karena belum juga menyentuh air. Ya ampun, benar-benar situasi menyebalkan.

__ADS_1


Doong! Doong!


"Hah? Suara apa itu?" Aku melirik ke sana sini ketika mendengar bunyi lonceng nyaring tersebut.


Angin berembus, udara dingin menyelimuti tubuh. "Apa tadi itu sebuah pertanda?"


Dalam kebingungan, aku berjalan perlahan dengan hati-hati, menuju sumber suara tersebut. Namun, kian jauh berjalan, diriku tak kunjung juga menemukan apa yang dicari.


Sepertinya suara tadi hanya imajinasiku saja. Lupakan. Tidak penting.


Aku menggelengkan kepala beberapa kali, lalu mulai kembali mencari danau. Selang beberapa waktu, akhirnya aku menemukan sebuah danau kecil. Dilihat lebih dekat, ini bukan danau, tetapi sebuah rawa.


Lega rasanya ketika selesai minum, tak peduli apakah air yang diminum itu bersih atau kotor. Lagipula, aku sudah meminum darah manusia, air kotor juga tidak ada masalah bagiku.


Kuambil pistol di balik pakaian, kemudian memainkannya dengan tangan kanan. Sesekali aku melambungkan benda tersebut dan menangkapnya.


Masih terus menyusuri hutan sepi di malam yang gelap, mataku entah bagaimana bisa melihat dalam kegelapan. Tidak secerah di siang hari, tetapi cukup untuk berjalan pada waktu malam.


Satu misteri lagi, terpecahkan olehku. Alasan kenapa Lize dan yang lainnya dapat melihat pada kegelapan. Sederhananya, mereka sudah berevolusi sama sepertiku, tetapi belum sempurna sebab hanya penglihatan yang berubah.


"Tapi ... kenapa kami dapat berevolusi? Dan, bagaimana cara kami bisa berada di sini? Seandainya Wolf masih hidup, dia pasti tahu sesuatu."

__ADS_1


Bulan bersinar terang, menyinari setiap langkahku. Sejenak aku berhenti, tetapi kemudian melanjutkan perjalanan.


***


Sementara itu, di bagian lain hutan, terlihat segerombolan remaja tengah berjalan ke arah utara. Menggunakan kaos berwarna merah, dengan tangan memegang obor, mereka mengikuti langkah seorang pemuda yang mengenakan pakaian hitam.


Pemuda itu membimbing para remaja lainnya bergerak ke arah utara. Menggunakan obor di tangan kanan, dan kepala ditutup tudung hitam, si pemuda terus berjalan ke depan tanpa mempedulikan sekitar.


Dia tersenyum tipis, lalu bergumam pelan sampai tak terdengar oleh para remaja di belakangnya. "Kami yang akan memenangkan pertarungan antar Klan itu."


***


Aku menghela napas panjang karena belum juga menemukan tujuan. Menapakkan kaki dengan bosan, sudah muak rasanya dilanda kesendirian ini. Namun, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.


Tidak ada.


Satu-satunya cara ampuh agar dapat mengatasi permasalahanku adalah menemukan seseorang. Akan tetapi, harapan itu tidak terkabulkan.


Tiba-tiba, telingaku mendengar derap langkah kaki, mematahkan ranting dan membuat daun kering berbunyi. Cahaya dari obor langsung membuat mata silau. Sedetik kemudian, gerombolan para remaja—layaknya orang pawai—berhenti ketika melihat diriku.


Mereka berbaris rapi, dikomandoi oleh pemuda tinggi berseragam hitam di hadapanku. Pemuda itu berjalan mendekati aku yang tengah mematung kaku.

__ADS_1


__ADS_2