
Tidak berlebihan jika aku mengatakan kalau sebenarnya, aku hampir pingsan akibat terkejut. Karena mau bagaimanapun aku memikirkannya, ini tidaklah logis. Aku bahkan tidak dapat memikirkan suatu alasan, kenapa dia mau melakukan hal itu kepadaku. Ah, pikiran seorang gadis memang rumit untuk dipahami.
Melihat diriku yang terdiam, Lize pun menarik tangan ini dan membawaku entah ke mana. “Hei! Hei! Hei! Ke mana kau akan membawaku?” Dikejutkan oleh tindakannya yang lain, aku akhirnya terlepas dari lingkaran pikiran.
“Sudahlah, kau hanya perlu diam dan ikuti langkahku,” jawabnya tak acuh, tanpa melirik ke arahku.
Gadis ini benar-benar membuatku tidak dapat berpikir jernih, karena tindakannya yang selalu membuat diri ini terkejut setengah mati. Namun, sudahlah, tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghadapi hal ini. Jika aku menolaknya sekarang, maka semuanya akan berakhir buruk.
“Baiklah, kita sudah sampai,” kata Lize ketika kami berada di depan sebuah air terjun. “Bagaimana menurutmu? Apa pemandangan di sini bagus?”
“Wow,” ucapku karena sangat terpukau dengan apa yang sedang kulihat saat ini.
Bagaimana mungkin aku tidak terpukau, ketika melihat sebuah air terjun yang begitu tinggi. Tebing di sebelah air terjun itu, dihiasi oleh bebatuan yang tersusun rapi. Sedangkan di bawahnya, terdapat bebatuan besar yang membentang di sepanjang sungai.
Ketika kuamati lebih jauh, aku dapat melihat pepohonan dan berbagai jenis bunga, yang membentang sepanjang tepian sungai. Ini benar-benar pemandangan indah, yang dibumbui dengan sejuknya udara, hingga membuat suasana hati ini menjadi sangat tenang.
“Tak kusangka kau akan sangat terpukau melihat pemandangan ini,” kata Lize melihatku begitu menikmati pemandangan indah yang berada tepat di depan mata. “Apakah kau sudah puas hanya dengan menikmati pemandangan yang ada di sini?”
“Apa mungkin kau masih belum menunjukkan tempat yang lebih indah dari ini?” Kutatap Lize dengan heran sembari menanyakan pertanyaan itu.
Senyum licik terbentuk di bibirnya, hingga membuat aku menggigil ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mengajakmu ke sana, jika kau mau berkencan denganku saat kita sampai di tempat itu.”
Sudah kuduga, kalau ia pasti menginginkan sesuatu dariku sebagai gantinya. Akan tetapi, aku masih sangat heran dengan situasi ini.
“Kenapa kau mau berkencan denganku? Apa mungkin ada seseorang yang memaksamu melakukan hal itu? Cepat katakan padaku!” Sebagai tindakan antisipasi, aku dengan sengaja mengatakan hal itu tanpa berniat untuk menutupinya.
__ADS_1
Tanpa sebuah peringatan, tiba-tiba Lize memeluk erat tubuhku lalu berbisik di telinga ini.
“Kau tahu, sebenarnya sejak pertama kali aku bertemu denganmu, ada perasaan aneh yang selalu mengganggu di dalam hati ini. Aku tidak tahu pasti perasaan apa itu, tetapi setiap kali kita bertemu, diri ini merasa senang, hingga aku tidak dapat menahan diri untuk selalu berada di sampingmu. Ma-Maafkan aku! Ma-Ma ....”
Kata-kata Lize terhenti oleh isak tangisnya yang sudah tidak dapat ia bendung lagi. Melihatnya seperti itu, hatiku merasa sedikit iba hingga membuat diri ini perlahan-lahan membalas pelukannya. Dan saat ini, aku tidak peduli apakah tangisannya palsu atau bukan. Karena walau hanya sesaat, aku dapat merasakan suatu kehangatan yang masuk ke dalam hati.
Aku meletakkan tangan kanan ke atas kepala Lize dan mengelus-elus rambutnya yang lembut. “Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku, karena hal itu bukanlah salahmu, dan seharusnya, aku yang meminta maaf karena tidak memikirkan perasaanmu.”
“Ti-Tidak, hiks, kau tidaklah, hiks, hiks, salah.” Lize mencoba menghentikan tangisannya, tetapi tak dapat ia lakukan.
“Hus, hus, hus, sudahlah. Jangan menangis lagi, oke. Semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang. Jadi, hapuslah air matamu dan segera ceria seperti sebelumnya.”
Memang benar aku tidak dapat mengerti perasaannya, dan hanya dapat mengatakan itu sebagai penyemangat. Akan tetapi, kupikir itu sudah cukup untuk membuatnya kembali ceria seperti sebelumnya.
Setelah beberapa saat saling memeluk, Lize akhirnya berhenti menangis, melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya. Segera sebuah senyum mulai terbentuk di bibir Lize setelah ia mengusap semua air mata.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Baiklah.” Lize meletakkan jari telunjuknya ke bibir, lalu bergegas menuju ke sungai. Tiba-tiba saja, di menyiram tubuhku dengan air sungai tersebut sambil tertawa.
“Kau.” Menanggapi hal itu, aku langsung bergegas ke sungai dan mulai menyiram tubuhnya dengan air sungai itu.
Kami melakukannya secara berulang-ulang dengan penuh senyuman, dan kuakui ini sangat menyenangkan. Di mana kami saling menyiram satu sama lain bukan karena dendam, tetapi hanya sebagai lelucon semata.
Selang beberapa waktu kemudian, sekujur tubuh kami sudah basah kuyup. Namun, hal itu tidak membuat kami terganggu sedikit pun, karena kesenangan yang telah kami lalui. Segera seusai bermain-main, kami langsung menuju daratan dan duduk di bawah sebuah pohon yang begitu rindang serta besar.
Meskipun telah usai bermain, aku dan Lize masih saja terus tertawa karena begitu menyenangkannya hal yang kami lakukan beberapa saat yang lalu. Untuk menghabiskan waktu, kami berbincang satu sama lain, bukan tentang hal yang serius, tetapi hanya lelucon kecil hingga membuat kami tidak berhenti tertawa.
__ADS_1
Aku sungguh tidak menyangka kalau diri ini bisa bersenang-senang, saat berada di hutan yang begitu aneh dan menyeramkan ini. Aku tersenyum lebar untuk melampiaskan semua hal yang telah kulalui hingga saat ini.
“Hei!” Dengan pelan, Lize menyapaku.
“Apa?” tanyaku menanggapi sapaannya itu.
“Bisakah kita bersenang-senang seperti ini lagi di masa depan?”
“Masa depan ya.” Jika aku mencoba untuk menerka-nerka masa depan, mungkin saja aku akan menjadi sangat depresi karenanya. Bagaimana mungkin tidak, sebab saat memikirkannya, diri ini akan membayangkan sesuatu yang sangat tragis. “Mungkin kita tidak perlu menatap ke depan untuk saat ini, dan berusaha tetap hidup sambil menikmati setiap harinya.”
“Pfft ....” Lize tertawa kecil saat aku mengungkapkan kata-kata itu. “Ya, mungkin kau benar.”
Aku sungguh tidak peduli apakah ada orang yang tidak menerima perkataanku itu, tetapi menurutku, masa depan kita bergantung dengan tindakan kita saat ini. Sebagai contoh, seorang pekerja keras dan pantang menyerah pasti akan menjadi orang sukses di kemudian hari. Sedangkan seorang pemalas hanya akan menjadi sampah masyarakat.
“Baiklah, mungkin sudah waktunya aku menunjukkan pemandangan indah yang kukatakan sebelumnya.” Lize berdiri sembari mengatakan itu. Lalu aku pun ikut berdiri sambil menatapnya. “Ayo ikuti aku!”
Aku menaikkan sebelah alis, dan dengan patuh berjalan di belakangnya. Aku sedikit penasaran dengan apa yang dikatakannya itu.
Berjalan menuju ke arah air terjun, sampailah kami di sebelahnya. Sekali lagi aku tercengang dengan mulut yang terbuka lebar.
“Jika kau terus menganga, kemungkinan besar seekor nyamuk akan hinggap di mulutmu itu,” kata Lize sembari melirikku.
Aku segera menutup mulutku, lalu bergumam, “Tidak akan ada yang hinggap di dalam sana.”
“Ya, kau benar juga, karena mulutmu itu terlau bau bagi mereka.”
“Apa kau bilang!?” Aku berteriak kesal kepadanya, tetapi tetap saja dia tidak mau menggubrisku.
__ADS_1
“Ayo masuk!” ajaknya sembari masuk ke dalam terowongan yang ada di depan kami saat ini.