
Kakek tua yang tadinya hanya bertingkah konyol kini memasang wajah serius. Dia lantas berjalan ke arah kanan tanpa menggunakan tongkat panjangnya yang ditaruh di lantai teras gubuk, tempat ia berbaring beberapa waktu lalu. Melangkahkan kaki dalam diam, kakek tadi tak mempedulikan sekitarnya dan terus berjalan.
Tanpa perlu menunggu perintah, kami bertiga langsung mengekor di belakang kakek tua itu. Sudah cukup jauh kami berjalan, lalu sampailah kami di tepi ruangan. Di sepanjang dinding, terdapat lentera yang berjejer menyinari tempat kami berada saat ini.
Masih dalam keadaan diam tanpa berbicara sepatah kata pun, kakek tua tadi meraba-raba dinding yang terbentuk dari tanah keras yang berwarna kuning. Bagaikan sebuah pintu, dinding yang didorong oleh sang kakek tiba-tiba membentuk sebuah persegi panjang dan kemudian tergeser ke belakang.
Hembusan angin dengan cepat masuk melalui celah tersebut dan menghantarkan udara dingin di badan. Hari sudah gelap, tidak ada tanda-tanda bulan akan bersinar. Aku berbalik dan berjalan menuju tubuh Mischie yang kubaringkan lalu menggendongnya di atas punggungku.
Perlahan aku kembali berkumpul dengan dua orang gadis yang sedang berdiri di belakang seorang kakek tua. “Jadi, apa kita akan keluar?” tanyaku pada mereka berdua.
Rias melirik sekilas ke arahku lalu kembali mengarahkan pandangannya pada celah besar yang ada di depan kami. Dia tampaknya ragu untuk mengambil keputusan, maka dari itu, aku pun memberikannya sebuah saran. “Mungkin akan lebih baik jika kita keluar dari sini saja,” kataku.
“Itu ide buruk, anak muda,” sahut kakek tua yang mendengar perkataanku. “Memang, kalau kalian keluar dari dalam gua ini, ada banyak hal yang bisa kalian lihat. Namun, bahaya yang ada di hadapan kalian juga akan bertambah banyak.”
Mendengar perkataan sang kakek, aku jadi terpikir akan sesuatu hal. “Jika kau memang tidak pernah keluar dari gua ini, bagaimana caramu mencari makan dan membangun gubuk tua itu?”
Kakek itu menghela napas lalu bersandar di dinding. Setelah terdiam selama beberapa saat, ia akhirnya angkat bicara. “Gubuk reyot itu bukan milikku. Aku dapat bertahan hidup di dalam gua ini karena saat siang hari, walau tahu hutan di luar sana sangat berbahaya, aku dengan nekad tetap keluar agar dapat makan dan minum,” jelasnya.
“Kami sudah banyak menemui bahaya di hutan ini, jadi kami sudah tidak terlalu takut untuk mengambil resiko,” kata Lize sembari berjalan menuju celah dinding yang berbentuk persegi panjang tadi.
__ADS_1
Aku saling bertukar pandang dengan Rias lalu mulai mengekor di belakang Lize. Diri ini sungguh tidak menebak pikiran dari gadis berambut hitam panjang itu.
***
Beberapa waktu sebelum Leon dan dua gadis yang bersamanya, bertemu dengan kakek tua keriput bernama Zanik. Di dalam sebuah lorong gelap dan dipenuhi oleh aroma manis, tampak seorang pemuda kurus dengan rambut pendek sedang mengatur napasnya. Dia adalah Mischie yang baru saja keluar dari mimpi buruknya.
Keringat mulai membasahi tubuh pemuda itu, tarikan napasnya masih belum stabil, dan jantungnya berdebar kencang. Dia berdiri dengan perlahan lalu menyeimbangkan tubuhnya yang lemas. Kepalanya begitu pusing hingga membuat pandanganya sedikit kabur dan bergoyang.
Pemuda bernama Mischie itu berjalan dengan perlahan tanpa tahu arah karena matanya tidak dapat melihat di dalam lorong yang gelap ini. Masih dalam keadaan hening, Mischie menyeret dirinya menyusuri tempat yang asing baginya.
Tak lama setelahnya, pemuda tadi kini menemui jalan keluar. Beberapa langkah di depan, ia dapat melihat pemandangan dari gelapnya hutan di malam hari. Dengan hati yang sudah girang, ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju jalan keluar tadi. Namun, setibanya ia ditempat tujuan, kakinya berhenti bergerak, tubuhnya kaku dan matanya terbelalak lebar.
“Sialan, mahluk apa itu?” Mischie masih terus berlari hingga akhirnya sampailah ia di depan sebuah jalan keluar. Cahaya dari sinar lentera langsung menyilaukan pandangannya. Namun, setelah beberapa kali terjatuh, ia akhirnya merasa lega saat melihat teman-temannya berkumpul di sana.
“Leon ...!” Mischie hendak berteriak, tapi dia malah terjatuh dan kesadarannya lenyap seperti terbawa angin.
Pada saat itu, kondisi Mischie sangat kacau, ia bahkan terjatuh beberapa kali hingga membuat wajahnya lebam dan ia lupa akan tasnya. Namun, segera setelah Leon menyadari ada yang jatuh, nasib Mischie mungkin akan jadi lebih baik.
***
__ADS_1
Kembali ke saat di mana Leon dan teman-temannya beranjak pergi dari gua. Kakek tua bernama Zanik tadi memandangi ketiga orang itu dengan tatapan datar. Selang beberapa saat kemudian, Zanik tersenyum tipis, ia mengelus wajahnya dengan perlahan untuk melepaskan topeng tipis yang menempel di sana.
Muka keriput dan jelek itu kini berubah menjadi wajah tampan seorang pemuda berwajah datar. Leon, ya. Dia sepertinya orang yang menarik, pikir orang bernama Zanik itu.
Zanik kemudian mengambil sebuah pistol berwarna hitam yang ia sembunyikan di balik pakaiannya. Sambil melirik ke arah pistol tersebut, Zanik menyeringai, “pertunjukkan yang menyenangkan akan segera dimulai, Leon. Sebakinya kau persiapkan dirimu untuk menghadapinya.”
Sesampainya Zanik di depan gubuk tua, ia melihat sosok seorang pemuda berambut hitam, bertubuh tinggi, dan mengenakan pakaian serba hitam. Dengan tenang Zanik berkata pada orang itu. “Apakah kau datang untuk mengawasiku, Andrew?” tanya Zanik.
Pemuda yang disebut Andrew tadi menatap lekat-lekat ke arah Zanik yang tengah melepaskan rambut dan janggut palsu yang ia kenakan. Menunggu setelah Zanik selesai melepaskan semua penyamarannya, Andrew pun berkata, “ya, itu benar.” Andrew mengakui. “Aku datang ke sini untuk mengawasimu. Dan ya, kau melakukan pekerjaan dengan baik.”
“Senang mendengar pujianmu,” jawab Zanik dengan nada datar. “Tapi ....” Zanik lantas mengarahkan ujung pistolnya pada Andrew. “Aku sama sekali tidak takut padamu, Andrew.”
“Heh ... begitukah?” Andrew semakin mendekatkan wajahnya di ujung pistol milik Zanik. “Kau tahu kalau aku tidak akan mati hanya karena hal kecil ini.”
“Cih!” Zanik menarik kembali pistolnya dengan paksa lalu memasukkannya di balik pakaian. “Dasar Monster.”
“Anak baik,” ucap Andrew sambil berlalu.
Sementara itu, dalam hutan rimbun yang gelap, tampak empat orang remaja yang sedang beristhirahat dengan duduk di bawah sebatang pohon besar. Mereka tampak lelah dan begitu frustasi karena telah mengalami banyak kejadian aneh selama ini.
__ADS_1