The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 1 : Jenius Sejati √


__ADS_3

Setelah memasuki pintu berwarna putih, Leon kini berada pada sebuah dimensi kosong. Sejauh mata memandang, tak tampak sesuatu selain kotak-kotak berwarna hitam yang bertaburan.


Kotak tersebut cukup besar, karenanya Leon bisa berdiri seimbang di atas salah satu kotak itu tanpa takut jatuh. Pemuda berambut hitam dengan tangan kanan yang telah diganti menggunakan teknik bayangan tersebut menerawang sekitar.


"Sepertinya tidak ada tanda-tanda pintu keluar dari sini?" gumamnya, pelan.


Leon melangkahkan kaki, maju terus walau dirinya tidak tahu apa yang ada di depan sana. Tangan kanannya kini berubah menjadi runcing layaknya sebuah tombak.


"Hm ... mempunyai tangan bayangan ini ternyata bermanfaat," kata Leon sembari melirik tangan kanannya. "Tapi yang terpenting, aku harus mencari jalan keluar."


Segera ia berlari, mengamati sekitar dengan saksama. Pemandangan ini merupakan hal baru baginya, tetapi ia terus mengabaikan seolah sudah sering melihatnya.


Sekitar beberapa jam telah berlalu semenjak Leon berlari, tidak ada satu pun petunjuk mengenai pintu keluar. Ia begitu lelah, kemudian duduk bersila di atas kotak hitam.


"Hanya ruang kosong." Kalimatnya terjeda sesaat karena menghela napas. "Apa istimewanya?"


Sejauh ini akan sangat melelahkan bagi Leon jika harus terus memutari ruang kosong tanpa tahu seberapa luas sebenarnya tempat ini. Jika terus dilanjutkan, mungkin perlu beberapa tahun baginya agar bisa keluar hidup-hidup.


Namun, Leon selalu yakin kalau sesuatu hal pasti memiliki jalan keluar. Bagaimanapun juga, untuk menemukan jalan tersebut haruslah terus mencari.


Menggunakan prinsip pantang menyerah, Leon memutar otaknya terus menerus. Ketika sedang dalam keadaan itu, mendadak seorang gadis berambut pirang muncul di dalam ruang pikirannya.


"Haha, aku tak menyangka kita dapat bertemu kembali," ucap gadis itu.


Leon hanya tersenyum hangat menatap gadis berambut pirang itu. "Kau benar, tapi entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku semenjak hutan misterius hancur."


"Mungkin ada suatu alasan yang menjadi penyebabnya." Si gadis menunjukkan ekspresi bingung pada wajahnya.


"Sebab-akibat, ya ...." Leon menengadah, menatap langit berwarna jingga dan bertaburan gemerlap bintang. Tak jarang juga terlihat di sini sebuah garis panjang membentang di langit yang sesaat kemudian menghilang.


***


Sebelumnya, ketika matahari perlahan terbit memancarkan sinar hangatnya. Leon berdiri mematung di depan sebuah pintu berwarna putih.


"Apakah aku seharusnya tinggal di sini saja lalu mati bersama teman-temanku?" gumamnya. "Setelah semua ini, entah kenapa keinginanku untuk keluar dari hutan telah menghilang sepenuhnya."

__ADS_1


Hati pemuda itu bimbang menentukan pilihan. Semua ingatan masa lalunya membuat ia sadar kalau kesalahan dirinyalah yang membuat ia berada di sini. Kesombongan telah menghancurkannya tanpa perlu diperintah.


Gemuruh tanda kehancuran semakin mendekat, tetapi Leon masih ragu untuk memutuskan. Tiba-tiba, energi yang begitu besar langsung masuk ke dalam tubuhnya. "Argh!" Ia menjerit, rasa sakit menyebar ke sekujur tubuhnya tanpa terkecuali.


Matanya menghitam, aura berwarna hitam juga melingkupi dirinya. Perlahan, kekuatan besar tersebut diserap oleh Leon menggunakan batu Kristal Hitam di dadanya.


Tetap saja, walau sudah ditekan serta diolah sedemikian rupa agar dapat dikendalikan olehnya. Energi tersebut terus berdatangan sampai hampir membuat Kristal Hitam Leon retak.


Sesaat sebelum energi besar tersebut menghancurkan Leon, seberkas cahaya keluar dari Kristal Hitamnya dan mengurangi energi itu. Napas Leon masih terengah, keringat membasahi sekujur tubuhnya seperti usai mandi.


"Leon, tetaplah hidup!" seru seseorang dalam pikiran Leon.


"Mati saja kau!"


"Kau tidak pantas di sini!"


"Tetap hidup, Leon!"


Leon menutup telinga, karena ada suara lain yang mengejeknya, menyuruhnya untuk segera mati. Suara-suara dalam ruang pikirannya semakin riuh, hingga ia sudah muak mendengarnya.


"Pergi! Tinggalkan aku!" Leon berteriak sekuat mungkin, lalu suara berisik tadi seketika lenyap.


Kata-kata itu membuat Leon menjadi lebih tenang. Kedua tangan yang menutup telinga ia turunkan.


Hujan sudah reda semenjak tadi, tetapi tanah tetap runtuh dan langit terus bergemuruh. Tatapan Leon tajam ke depan, dia sekarang tahu harus berbuat apa.


"Aku harus hidup untuk memperbaiki kesalahan, karena dengan terus hidup, orang jahat sepertiku memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik." Tekad Leon sudah bulat, ia tanpa ragu masuk ke dalam pintu putih hingga akhirnya sampai di dimensi ini.


***


"Hei, Ellise ...." Mulut Leon bergerak mengucapkan sebuah kalimat. "Ingatanmu sudah kembali, kan?"


Gadis berambut pirang di depan Leon mendekatkan wajah, menatap mata Leon dengan saksama. "Bukankah kau juga sama?" tanyanya sembari menjauh.


"Sebenarnya iya, tapi ingatanku entah kenapa masih terganggu. Ingatan ini masih samar-samar, tidak seluruhnya dapat kuingat sekarang."

__ADS_1


"Mungkin itu jauh lebih baik." Ellise hanya tersenyum sambil berbalik.


"Apa maksudmu?" Leon hendak bertanya lebih lanjut, tetapi ....


"Kau harus melihatnya sendiri tanpa perlu bantuanku, Leon." Sebuah senyum hangat tampak di bibir Ellise kala menoleh kepada Leon.


"Ah, baiklah, aku akan mencarinya sendiri." Untuk menanggapi ucapan Ellise, Leon hanya bisa berdecak kesal karena tak dapat berbuat apa-apa. "Lalu bagaimana caraku keluar dari sini?"


"Ini kekuatanmu, Leon. Aku ada di sini juga karena kekuatanmu. Bagaimana mungkin kau bertanya padaku?"


"Ini, kekuatanku?" Sungguh, Leon masih tidak percaya pada perkataan Ellise. "Kau pasti bercanda! Mana mungkin aku memiliki kekuatan sebesar ini!"


"Tidak, aku tidak bercanda. Kalau kau tak percaya, itu terserah padamu. Aku hanya menyampaikan kebenaran padamu."


"Kalau begitu, apakah kau bisa mengajariku cara untuk mengendalikan kekuatan ini?"


"Aku tak tahu caranya. Hanya kau yang mengetahuinya."


"Hanya aku?"


"Kekuatanmu jauh lebih besar dariku, dan kurasa hanya kau yang bisa menjawab pertanyaanmu tentang bagaimana cara mengendalikan kekuatan ini."


Leon terdiam sejenak, mencerna semua informasi yang didapatkannya. Jika memang ingatan lamanya tidak terganggu, mengendalikan kekuatan besar ini bukanlah sebuah masalah. Lalu, alasan kenapa dia menciptakan hutan misterius pasti bukan hanya untuk bersenang-senang.


Terlebih lagi, mau bagaimanapun, dulunya ia adalah seorang ilmuwan muda, jadi mana mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan.


Terperangkap dalam ruang pikirannya, Leon terus menguras tenaga untuk dapat mengingat-ingat. Namun, selalu saja, apa yang terlihat olehnya hanya sebuah ruangan penuh kabut dan samar-samar.


Terus menggali jawaban atas pertanyaan, Leon masih belum juga bisa mengingat semua masa lalunya. Bahkan, tidak heran jikalau memang ingatannya dulu salah.


"Percuma terus mencari jawaban di masa lalu," ucap Ellise sembari berjalan mendekati Leon.


"Percuma?" Leon terheran-heran.


"Jawabannya pasti bisa kau dapatkan melalui semua kejadian di hutan misterius."

__ADS_1


Sesaat setelah Ellise menyentuh tubuh Leon, Leon seketika terdorong dan kembali masuk dalam ruangan penuh kotak hitam.


Matanya terbuka, lalu ia bergumam pelan, "Aku ini jenius, mencari jalan keluar lain tanpa perlu catatan masa lalu harusnya bisa kulakukan."


__ADS_2