
Leon keluar dari ruangan Vord setelah Vord kembali duduk di atas singasana tanpa niat untuk menjawab atau mengakui sesuatu kepada Leon. Sebenarnya, Leon merasa sedikit kecewa, tetapi tidak ingin memaksa Vord buka mulut.
Dengan perasaan itu, Leon lantas pergi keluar dari markas menuju gerbang utama. Tak ada seorang pun yang menghentikan maupun mengikutinya dari belakang. Saat ini, matahari sebentar lagi terbenam, terlihat banyak warga mulai pulang ke rumah masing-masing.
Gerbang utama, di sana ada beberapa penjaga. Namun, Leon lewat tanpa dihentikan oleh mereka. Sekarang, hanya kesunyian yang menghantui benak Leon. Ia tidak peduli walau ada orang di sekitar.
Dari ufuk barat, tanpa cahaya jingga berkilauan menyinari dunia. Leon menatap cahaya tersebut, meskipun silau, tetap ia paksakan untuk menatap ke sana seolah ingin melihat apa yang ada di dalam cahaya tersebut.
Angin berembus menerpa tubuh Leon dengan lembutnya. Pemuda itu menarik napas panjang, kemudiannya mengembuskannya perlahan. Ini membuat pikirannya kosong kembali, tetapi hal itu tak bertahan lama.
Ellise, apa yang seharusnya kulakukan? Karena sudah tak ada pilihan lain lagi untuk mengatasi kebimbangan, satu-satunya harapan Leon hanyalah mengandalkan Ellise di Alam Bawah Sadar-nya.
Jika kau bertanya padaku, maka aku hanya akan menjawab dengan tegas. Ini pilihanmu, keinginanku hanya melihat dari sini .... Sungguh jawaban yang dingin.
Ah ... kurasa lebih baik aku mencari tahu sendiri tentang semua ini .... Seketika Leon merasa ragu. Tapi, dari mana aku harus memulainya?
Jawabanya sudah ada di dekatmu sekarang, Leon ....
Hah? Leon lantas memalingkan pandangan ke belakang, di sana berdiri seorang pemuda yang sudah sangat dikenalnya. “Sun ...?”
“Yo, Leon ....” Sun mendekat dan berdiri tepat di sebelah Leon tanpa berkata apa-apa lagi selain menyapa.
“Kenapa kau ke sini?” Kali ini Leon kembali mengalihkan pandanganya ke arah matahari terbenam.
“Untuk menemui dan berteman dengan penyelamatku, Leon ....”
“Siapa?” Leon masih belum mengerti.
Sun menatap langsung mata Leon. “Itu kau ..., Leon.”
“Aku?” Dengan heran Leon menunjuk dirinya sendiri. “Kapan?”
__ADS_1
Kini Sun kembali mengarahkan pandangan ke arah lain. “Aku ingin tahu, kau itu sedang berpura-pura tidak tahu atau memang tidak sadar.”
Tanda tanya besar langsung muncul di kepala Leon. Ia merasa selama ini hanya terus merepotkan Sun, dan tidak ingat kapan dirinya pernah menolong Sun. Ini sungguh membuat Leon semakin bingung.
“Ternyata memang tidak sadar, ya?” Sun pun menatap tajam mata Leon. “Saat pertama kali kita bertemu, lalu ketika kau mengalahkan Tan waktu itu ....”
“Itu ...?” Leon tahu kalau hal tersebut memang ia lakukan. Namun, itu tidak lain hanya karena ia merasa bertanggung jawab, bukan menyelamatkan. “Aku melakukannya karena kurasa aku harus menebus dosa. Tapi kenapa kau menganggapku menyelamatkanmu?”
Senyum lembut terbentuk di bibir Sun. Dengan tenang pemuda itu mengalihkan pandangan ke arah lain. “Aku tidak menyangka kalau akan ada seseorang sepertimu ....” Kalimatnya terhenti beberapa saat. “Sudah kuputuskan, aku akan mengikutimu mulai sekarang.”
Menghela napas sejenak untuk menenangkan pikiran, Leon menatap lurus ke depan. “Kau sebaiknya tetap di sini. Banyak orang memerlukan kekuatanmu ... kalau kau menghilang, siapa yang akan menjadi pahlawan bagi mereka, Sun?”
Begitu santainya Sun memasukkan kedua tangan dalam saku celana. “Aku bukan pahlawan mereka. Lagipula, dengan adanya prajurit lain dan Tuan Vord. Ditambah lagi kita baru saja menambahkan energi Tan, situasi sekarang sangat baik.”
“Sekarang, kan? Tidak ada jaminan semuanya akan sama ...!”
“Agar semuanya tetap sama, maka selama perjalanan kita harus membuat semuanya jadi lebih baik. Itu saja, kan?” Sun pun segera berbalik dan berjalan kembali menuju markas.
Selama kau memiliki tekad dan terus berusaha. Mengalahkan dewa sekalipun kau mungkin mampu, Leon ....
Haha, sangat berlebihan jika aku harus mengalahkan dewa. Mereka dianggap sebagai mahkluk sempurna, sedangkan aku hanya mahkluk fana. Walau belum mencoba, Leon sudah pesimis terlebih dahulu.
Bukankah itu berbanding terbalik dengan ucapanmu dulu? Apa mungkin sekarang tekadmu sudah terkikis sehingga membuatmu melemah?
Leon menundukkan kepala, perkataan Ellise membuatnya ingat kembali pada waktu ia pertama kali kehilangan Wolf dan Ellise dalam waktu bersamaan. Waktu itu, tekadnya sangat kuat, tetapi tidak memiliki kekuatan.
Leon ... bisakah aku bertanya sesuatu? Terjadi keheningan selama beberapa saat karena Leon tak menjawab. Lalu, Ellise segera menyambung ucapannya, Apakah kekuatan serta kesombongan dirimu telah mengikis tekad itu hingga hanya tersisa beberapa saja?
Leon sangat ingin menertawakan dirinya sendiri sekarang karena merasa lucu. Ternyata, sampai saat ini pun sifatku masih labil, bahkan mungkin diriku yang dulu lebih baik. Kalau begitu, kekuatan ini hanya menjadi sia-sia bagiku ....
Pepatah mengatakan, kendalikan kekuatan, bukan malah sebaliknya. Jikalau kekuatan sudah mengendalikan dirimu, akhirnya kau hanya akan menyesal.
__ADS_1
“Cih! Hahahaha! Kau sedang melawak? Aku akan membuktikan kepantasan diriku sendiri!” Leon mengulurkan tanganya ke arah matahari. “Sudah kuputuskan, sekarang aku akan mulai berubah untuk menjadi lebih baik! Terus berjuang demi sesuatu!”
Apa itu?
Senyum lebar terbentuk di bibir Leon. Siapa lagi, itu adalah kau ... kekasihku Ellise!
Eh? Wajah Ellise langsung memerah saat mendengar ucapan Leon. Namun, dia segera kembali ke sifat aslinya. Hmph! Sejak kapan kita menjadi kekasih, hah?
Hehe, sejak aku menyatakannya begitu ....
Kau masih saja egois seperti dulu!
Aku memang .... Tiba-tiba Leon merasa janggal dengan ucapan Ellise. Sejak dulu? Apakah ada hal yang kau sembunyikan dariku?
Aku tidak perlu menutupinya ... di saat-saat terakhir kau sudah mengakuinya sendiri dengan mulutmu.
Benarkah begitu? Aku hampir melupakannya.
Jika kau memang ingin menebus kesalahan, sebaiknya kau mengingat semua rasa sakitmu. Itu jauh lebih baik daripada terus lari dan memamerkan kekuatan tanpa alasan jelas.
Kau memang yang terbaik, Ellise. Leon segera berbalik untuk kembali ke markas.
Sementara itu, di salah satu sisi gerbang di sisi yang tidak terlihat oleh Leon, Sun berdiri sambil tersenyum. Ia sudah tidak sabar lagi menanti saat di mana Leon melakukan pergerakan. “Leon, tunjukkan padaku bahwa kau adalah orang ... tidak ... tapi alat yang kubutuhkan.”
Di dalam Alam Bawah Sadar Leon, Ellise sudah pucat pasi karena hampir saja mengungkapkan sesuatu yang seharusnya belum boleh terungkap sebelum waktunya. Hanya tinggal menunggu saja, apakah nanti akan muncul seorang pahlawan, atau mungkin penjahat tak terkalahkan.
Satu demi satu semuanya akan jelas suatu saat. Sampai hari itu tiba, Ellise harus bisa menutup mulut serapat mungkin, juga tak boleh terbawa oleh perasaan.
Hari ini, Leon dan semua yang akan ditemuinya nanti, telah mencapai satu kesimpulan. Seolah sudah direncanakan oleh takdir, Leon, dan banyak orang lainnya yang terpencar jauh karena jarak, mengatakan hal sama, “Game start!”
Roda takdir, akhirnya kembali berputar.
__ADS_1