The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 12 : Memori Masa Lalu


__ADS_3

Di sekitar kami berdiri sekarang hanya terlihat warna putih. Darwis masih merentangkan kedua tangannya untuk mempertahankan pelindung agar tidak hancur dari serangan brutal Andrew. Sementara itu, aku hanya mematung tanpa berbuat apa pun.


“Baiklah, mungkin aku harus sedikit membantu di sini.” Kubentuk sebuah papan bayang yang mengambang di udara supaya Darwis tak perlu menggunakan energi untuk melayang.


“Terima kasih, Leon,” bisiknya.


Oke, sudah saatnya bagiku melakukan sesuatu terhadap situasi ini. Namun, belum sempat aku memikirkan cara, Darwis mendadak jatuh berlutut di atas papan bayangku. “Hei! Kau baik-baik saja?” Aku langsung mendekati Darwis.


“Te ... tenang saja. Aku tidak apa.”


Walau sudah hempir jatuh dan memuntahkan darah, Darwis masih mempertahankan pelindung kami. “Jangan memaksa, biarkan aku membantu.” Kualirkan energi murni untuk menopang pelindung Darwis.


“Kau ini bodoh, ya?” Kalimat tersebut diucapkan Darwis dengan terbata-bata. “Isthirahat saja di sana, biar aku mengurus semua ini.”


Dalam sesaat, mataku terbelalak lebar. Bukan karena kata-katanya, tetapi ketika kulit Darwis berganti menjadi normal. Aku langsung berpindah di depannya, seperti dugaanku. Dia adalah orang yang kukenal. “Wolf?”


Kini, dia memasang senyum walau mulut dan hidung mengeluarkan darah. Matanya pun menyipit, tanda betapa susahnya ia menghadang serangan Andrew di luar sana. “Andrew adalah orang yang kuat, Tuan Muda.”


Belum sempat aku menjawab, sesuatu menabrakku dari belakang. Rasa sakit menyebar ke sekujur tubuh, pandanganku menggelap, lalu kesadaraanku hilang bersamaan dengan datangnya rasa nyeri di kepala.


Ketika hampir jatuh, seorang gadis langsung menangkapku. Hangat, dia memberikan kehangatan pada tubuhku yang sakit. Dan gadis tersebut adalah orang yang selalu datang di dalam mimpiku. Ya, dia Ellise, sebelum pandanganku menggelap sepenuhnya, aku dapat melihat wajahnya yang tidak asing lagi.


Dalam hitungan detik, begitu banyak informasi langsung masuk ke dalam kepalaku. Rasa sakit yang diterima otakku juga semakin bertambah. Bagai masuk ke lorong waktu, memori yang selama ini kucari, kini aku dapatkan.


***


Putih, warna pertama yang kulihat saat berada di dalam sebuah ruangan. Begitu banyak tabung berjejer pada dinding. Isi dari tabung tersebut ialah berbagai macam kristal berbentuk rugby dengan warna yang berbeda pula.


Kebisingan terjadi, di sana ada seorang pemuda tengah menatap sebuah peta pada layar lebar. Kemudian, seseorang diseret masuk ke dalam sebuah tabung. Dia ... Andrew. Pemuda tersebut berteriak, memaki orang berambut abu-abu yang menatap layar.


Sesaat terdengar Andrew meneriakkan namaku. Ya, aku. Itu berarti. Napasku langsung tertahan, mustahil, ini sangat musathil. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya.


Tarikan napasku jadi tak berarturan. Detak jantung langsung memompa darah dengan sangat cepat. Tidak! Tidak! Tidak! Mustahil! Bukan aku yang melakukannya!


Semua ini pasti bohong, yang melakukannya bukan aku. Namun, Andrew tetap diseret dengan paksa, masuk ke dalam sebuah tabung, kemudian menghilang. Orang yang menatap layar tadi, mengalihkan pandangannya ke arahku.


“Percobaan pertama, sudah selesai dikirim,” katanya kepadaku.


Pemuda dengan rambut abu-abu tersebut tidak lain ialah Wolf. Kini, pikiranku menjadi kacau. Semua informasi langsung dicampur menjadi satu sampai-sampai membuat kepalaku hampir pecah. Lalu, sebuah hantaman di pipi kananku membuat mimpi buruk tersebut sirna.


***


Di hadapanku, seorang gadis sedang menatap tajam mataku. Kedua tangannya ia letakkan di atas pundakku, lalu berkata, “Kau sudah melihatnya, Leon?”


Aku hanya mengangguk, tak mampu mengucapkan kata-kata melalui mulut. Ellise masih tetap menatapku dengan datar. Waktu demi waktu berlalu, aku pikir semua ini hanyalah sebuah mimpi belaka.


Setelah beberapa waktu, aku akhirnya tenang kembali. Ellise kemudian menyuruhku duduk bersila. Tempat kami berada sekarang berbeda dengan dunia biasa, atau bisa dibilang ini sebuah dimensi lain.


Semua terlihat putih, tetapi tidak menyilaukan. Bintang bertaburan menghiasi pandangan. Mungkin ini adalah sejenis ilusi, atau memang hanya mimpi. Namun, ingatan tadi terasa bukan mimpi, termasuk tamparan di pipiku juga asli.


Aku dan Ellise duduk bersila dan saling berhadapan. Pikiranku masih melayang jauh karena apa yang baru saja kulihat beberapa waktu lalu. Akhirnya, Ellise angkat bicara dan membuyarkan lamunanku.


“Sepertinya, ingatan yang selama ini kau sembunyikan, telah bangkit kembali.”


“Apa maksudmu itu?”

__ADS_1


“Ya, begitulah. Ingatanmu telah kembali, bukan? Kau melihat sendiri bagaimana kejadiannya, kan?”


Jadi, semua ini karena ulahku. Sebuah pulau kuciptakan dengan mengorbankan banyak nyawa. Lalu mengirim Andrew, salah satu rekan yang membantuku menciptakan pulau ini.


***


Kala itu, aku berada di sebuah ruangan bersama dengan Wolf juga Andrew. Kami berbincang bersama sambil bercanda gurau. Ya, fasilitas yang ada di sini khusus untuk anak-anak jenius saja, yaitu hanya kami bertiga.


Awalnya, ayahku mengembangkan sebuah laboratorium yang meneliti tentang energi jiwa. Kemudian dia memilih Andrew, anak dari panti asuhan, aku juga Wolf sebagai penerusnya kelak. Aku sendiri sejak kecil telah diajari berbagai macam hal, baik teori maupun praktek penelitian sudah pernah kucoba lakukan. Sedangkan Wolf ialah seorang anak yatim yang telah kehilangan semua anggota keluarganya.


Suatu waktu, kami bertiga ikut meneliti tentang energi. Hingga akhirnya aku termakan oleh ego dan menciptakan sebuah pulau aneh jauh di tengah samudera. Itu kulakukan bukan dengan hanya bermodalkan uang serta mulut, tetapi kekuatan dari energi itu sendiri.


Dengan menggunakan Teknik Manipulasi Bayangan, aku merasuki begitu banyak orang, lalu membuat mereka semua berevolusi supaya dapat menggunakan batu kristal juga. Rencana tersebut berhasil. Aku membawa mereka semua menggunakan kapal besar paling canggih ke sebuah samudera.


Sampai di tengah samudera, mereka yang kukendalikan langsung membangun sebuah pulau hingga berbulan-bulan. Setelah selesai, mereka yang membuat pulau langsung mati karena kehabisan nutrisi serta energi.


Aku kembali ke laboratorium usai membuat peta pulau tersebut menggunakan satelit. Sebenarnya, ayahku tahu akan proyek yang kukerjakan, tetapi dia tidak peduli. Pulau telah selesai, hanya kurang manusia yang bertahan di sana. Karena satu-satunya orang dengan kekuatan hebat di sini ialah Andrew, maka aku memutuskan secara sepihak untuk mengirimnya ke sana.


Dia menolak tawaran itu, tetapi kehendakku tidak dapat dibantah. Setelah mengirim Andrew, aku mengirim banyak orang, baik yang berevolusi atau tidak ke dalam hutan itu. Namun dengan ingatan yang telah dihapus.


Bosan hanya menonton dari layar, aku memutuskan untuk membawa dua orang yang lain untuk bermain-main di hutan itu. Tentu aku tidak mau bosan lagi dan memutuskan untuk menghilangkan ingatan.


Menggunakan sebuah fortal teleportasi, aku, Wolf, serta asisten pribadiku, Ellise, masuk ke dalam hutan. Ellise sengaja kuletakkan di tempat lain, kemudian membuang tas yang kami bawa ke dalam semak-semak.


Sekarang hanya tersisa aku dan Wolf saja di dalam hutan buatanku ini. “Hei, Wolf! Kau memiliki satu tugas penting dariku.”


“Baik, Tuan Muda.”


Pemuda ini, entah kenapa sangat mudah kukendalikan. Maka dari itu, aku tidak akan ragu lagi memanfaatkannya.


“Lalu?”


Aku mengambil tali yang sedari tadi kusembunyikan di balik pakaian, lalu mengikat Wolf di sebatang pohon. Dia hanya diam tanpa melawan, benar-benar mirip seperti robot.


“Akan ada banyak hal menarik, seperti roti di dalam lubang ataupun rudal yang menyerang. Kemudian yang terakhir adalah kehancuran.” Aku diam sejenak. “Aku akan menghapus ingatanku. Saat itu terjadi, kau boleh untuk tidak mematuhi perintahku. Mengerti?”


“Tapi, itu—”


“Kalau kau membocorkannya, maka permainan ini akan membosankan. Maka dari itu, mengertilah.”


“Baiklah, Tuan.” Walau berat, Wolf tetap menerima perintah tersebut.


“Oke, jangan lupa menjerit sekuat-kuatnya nanti!”


Berjarak sangat jauh dari Wolf. Aku menyutikkan sebuah serum penghapus ingatan ke dalam tubuhku. Lalu, permaian pun dimulai.


***


“Akhirnya kamu menyadari semuanya ‘kan, Leon?” tanya Ellise, setelah aku menceritakan semuanya.


“Kau tidak marah ketika aku memperlakukanmu seperti itu.”


“Bagaimana mungkin aku akan marah saat kau menyadari kesalahanmu itu.”


Aku menundukkan kepala. Sebenarnya, Ellise bukan hanya seorang asistenku, tetapi seseorang yang berharga. Walaupun aku telah lupa cara kami bertemu. Namun, dia selalu membuatku bersenang-senang sejenak setelah lelah meneliti.

__ADS_1


“Maaf, melibatkanmu ke dalam semua ini.” Sekarang, yang bisa kulakukan hanyalah menyesali tindakanku.


“Tidak apa. Walaupun ragaku telah tiada. Namun aku akan tetap ada di dalam dirimu, karena kristal kita saling terikat satu sama lain.” Ellise tersenyum hangat. Jika mengartikan ucapannya dari sudut pandang lain, dia sudah mati, dan yang tersisa hanya jiwanya saja.


“Maafkan aku!”


“Tidak perlu meminta maaf. Sekarang, kau harus kembali sadar. Fortal teleportasi telah menunggumu di sana, Leonal Klaurius.”


Tanpa berlama-lama, aku kini berbaring di atas tanah dengan diguyur hujan lebat. Ketika melirik ke samping, mataku dapat melihat Andrew dan Wolf yang menyamar menjadi Darwis, mati dengan mengenaskan.


Pada akhirnya, semua ini kulakukan karena ego. Air mata mengalir membasahi pipiku. Dan yang tersisa sekarang hanyalah rasa sakit di dalam hati.


Tanah kembali berguncang, guntur bergemuruh, membuat suasana semakin tegang. Aku berdiri, tepat di depan sana terdapat sebuah lingkaran bercahaya tengah mengambang di atas tanah. Hati kian bimbang, dan aku masih bergeming tanpa bergerak sedikit pun.


“Ego membuat aku lupa kalau diriku hanya seorang manusia lemah. Benar-benar menyedihkan.”


~The End~


--------------------


Huah, akhirnya novel The Dark Slayer seasons 2 telah tamat setelah sekian lama. Terima Kasih untuk kalian yang setia membaca novel saya yang tidak seberapa ini. Jangan lupa Share novel ini ke temen-temen kalian, ya. Dan kunjungi juga novel saya yang lain. Di antaranya ada The Red Game sama Black Rover.


Disclaimer : Novel ini adalah karya orisinal saya, jangan diplagiat, Oke....


-------------


Selain itu, saya juga memiliki beberapa rekomendasi novel bagus menurut saya.


Kita mulai dari romance dulu :


Between Love & Loss 👉 karya Auran Deea


Antara cinta dan kehilangan. Ada hati yang terluka serta pengorbanan. Ada kebimbangan yang membelenggu pikiran. Antara cinta dan kehilangan, sanggupkah ia melepaskan?


Semua Untuk Cinta 👉 karya Fielsya


Alfin dan Cinta memulai hubungan mereka setelah merasakan pengkhianatan yang sangat menyakitkan dari kedua orang tua mereka.


Itu untuk rekomendasi novel romance. Sekarang beralih ke novel aksi dan fantasi.


Lost Princess 👉 karya jayanti


Menceritakan tentang seorang gadis bernama Samantha yang memiliki darah mutan serta keistimewaan tersendiri yaitu kekuatan penyembuhan. Namun, sayangnya perselisihan antara manusia dengan mutan membuat dia harus meninggalkan keluarganya.


Rea's X-ray 👉 karya Rahma_adn


Menceritakan saat di mana listrik menghilang, dan datangnya mahkluk bernama Shardak. (Lebih jelasnya cek novelnya aja.) 😜


-----------


Terima Kasih atas dukungan kalian selama ini. 😁


Kalo ada yang mau tanya-tanya ke saya, silakan masuk grup ya.


Btw, ada yang mau seasons 3? Tapi dengan pembawaan dan world building yang berbeda. (Inspirasi dari The Maze Runner)

__ADS_1


__ADS_2