
Putus asa, itulah keadaanku. Tak ingin lagi aku memaksakan diri. Perjalanan sudah berakhir cukup sampai di sini. Jangan pernah untuk mengungkitku agar dapat kembali ke masa itu.
Walaupun demikian, suara orang yang memanggil namaku masih belum juga reda. Ingin rasanya aku segera menutup telinga ini rapat-rapat agar suara itu tidak terdengar. Namun, hal tersebut tak dapat kulakukan.
"Sebenarnya, kenapa kami harus menderita seperti ini? Bukankah akan lebih mudah jika kami tidak menghadapi masalah?" Bosan akan suara yang memanggil namaku, segera diri ini bangun lalu melirik sekeliling.
Jika memang aku diharuskan untuk merubah nasib, maka akan kuhancurkan semuanya. Tidak akan ada yang bisa menghentikan langkah ini. Mereka yang menghalangi harus musnah.
Berdiri, sudah cukup bagiku untuk pasrah. Diri ini telah teringat pada sebuah janji yang tak ingin diingkari.
"Aku akan membalaskan dendam Ellise." Menguatkan tekad, kepala ini kutengadahkan menatap dalam kegelapan. "Dengan segala cara, aku harus keluar dari hutan ini. Janji itu juga harus aku tepati. Semua halangan, harus dibasmi."
***
Di tempat lain, Mischie tengah berada dalam bahaya. Tubuhnya tak dapat berdiri untuk menghindari bahaya yang akan segera datang itu. Hampir pasrah dengan keadaan, ia hanya berbaring menunggu monster besar yang dilawannya, datang menghampiri.
Mungkin aku akan mati hari ini, pikir Mischie. Tapi ... takdir itu akan kuubah, karena diri ini pasti akan keluar dengan selamat dari hutan mengerikan ini. Dia pun menggenggam erat pistol di tangan kanannya.
"Masih tersisa satu peluru," gumam Mischie. Tekad pemuda itu sangat kuat, bermodalkan hal itu, ia mengabaikan rasa sakit yang dideritanya lalu mulai berlari. "Aku akan selamat."
Sembari terus berlari menjauh dari sang monster, Mischie menembakkan peluru terakhirnya. Serangan itu tidak berefek apa pun pada monster yang ia lawan. Namun, ia masih belum menyerah untuk bertahan.
"Sampai aku benar-benar kalah, aku tidak akan menye—" Mendadak, Mischie jatuh terjerembab di tanah. "Aduh."
Sementara itu, monster berbulu abu-abu mempercepat langkahnya lalu melompat.
***
Leon PoV
Aku menatap kosong hamparan lapangan luas yang ada di depan mata ini. Tampak dua orang gadis tengah lari sekuat tenaga ke arahku. Ketika melirik sekujur tubuh, lagi-lagi aku melihat sosok yang berbeda.
"Inikah aku?" Aku bergumam pelan.
Rasa sakit yang kuderita, kini mulai mereda bersamaan dengan perubahan total yang terjadi pada diriku. Luka-luka yang ada juga pulih. Dari sini, aku merasa kalau wujud ini tidak terlalu buruk.
__ADS_1
Ternyata suara-suara tadi hanya sebuah halusinasi.
Mengabaikan apa yang terjadi, bergegas diri ini berlari ke depan. Mempercepat langkah kaki, aku akhirnya berpapasan dengan kedua gadis yang tengah berlari tadi. Mereka menatapku dengan heran, aku sangat sadar kalau mereka takut dengan wujud ini.
Tak mengacuhkan mereka berdua, aku masih terus berlari sekuat tenaga. Tidak lama kemudian, mata ini dapat melihat sosok seekor monster tengah melompat ke arah seorang pemuda.
Granat telah habis kugunakan, jadi apa yang harus kulakukan untuk mengalahkannya?
Menambah kecepatan, akhirnya aku dapat menarik pemuda yang sedang dalam masalah, keluar dari marabahaya. Pemuda—yang tidak lain adalah Mischie—menatapku dengan heran. Dia tak mampu berkata apa-apa dan hanya mematung kaku.
Segera aku menurunkan Mischie lalu menatap ke arah monster besar berbulu abu-abu. "Kau ... kau Leon, kan?" tanya Mischie yang masih bergeming.
Dengan taring yang ada di dalam mulut ini, mana mungkin aku dapat menjawab pertanyaannya. Selain itu, tidak penting bagiku untuk menjawabnya. Karena hal pertama yang harus aku lakukan adalah menguji kekuatanku sendiri dengan mengalahkan monster besar di hadapan kami.
Sesaat sebelum aku melangkah pergi, Mischie tiba-tiba memanggil. "Tunggu!" katanya. Aku pun berbalik mendengar perkataannya. "Semoga ini berguna." Mischie melemparkan sebuah granat kepadaku.
Kutangkap granat tersebut, lalu beranjak pergi. Kemudian terdengar suara aneh dari mulutku. Monster besar itu berlari dengan cepat ke arahku, menanggapi serangannya itu, aku langsung berlari dengan cepat ke arah mahluk besar itu.
Satu buah granat ini sudah cukup untuk menghabisi nyawa mahluk besar itu. Dengan gesit aku melompat ke dada sang monster lalu melompat lagi ke atasnya. Monster itu mengamuk lalu mulai mengaum dan menebaskan tangan kanannya ke arahku.
Sang monster pun berlari menuju diriku, sigap aku langsung bangkit dan berlari ke arah tebing. Mahluk bodoh itu dengan cepat mengejarku, memanfaatkan kebodohannya, langsung kuhentikan langkah ketika berada di tepi jurang.
Sesuai perkiraan, monster itu melompat ke arahku. Dia sungguh bodoh karena melakukan hal tersebut. Ini adalah salah satu cara untuk melawan mahluk yang tidak dapat berpikir seperti manusia. Mereka hanya perlu ditipu agar kita bisa menang.
Menggunakan kecepatan penuh, aku melangkahkan kaki ini bergerak ke kiri untuk menghindar. Seketika itu pula, monster berbulu abu-abu tadi jatuh menghancurkan tubir dengan tubuhnya.
Masalah akhirnya selesai tanpa harus menggunakan granat yang diberikan oleh Mischie kepadaku.
Tentu saja itu tidak benar, monster besar itu pasti masih hidup, hanya dengan terjatuh ke jurang, ia tak akan langsung mati. Menyadari hal tersebut, aku bergegas melompat ke jurang di mana monster tadi jatuh.
Monster besar itu terbaring, diri ini jatuh dan berdiri tepat di atas perutnya. Sebelum monster itu bangun, langsung kuletakkan granat yang telah aktif, ke dalam mulutnya.
Granat itu meledak, tanpa mau berlama-lama lagi, aku mengerahkan seluruh tenaga untuk melompat ke atas. Tangan kananku dapat mencapai tebing, dengan segenap usaha, diri ini akhirnya berada di atas lapangan luas.
Tiba-tiba, muncul dua sosok berwarna hitam yang mirip denganku. Mereka berdua mengepung Mischie serta Lize dan Rias yang sudah kembali.
__ADS_1
Bergerak dengan kecepatan tinggi, salah satu sosok hitam itu mengejarku. Tentu aku tidak tinggal diam, berlandaskan sebuah tekad, akhirnya aku dan sosok itu bertarung.
Sial! Dia sangat kuat!
Sosok itu menghajar diri ini dengan segenap kekuatan sehingga aku hanya dapat bertahan. Satu persatu tinjuan dilancarkan kepadaku, menggunakan kedua lengan ini, aku akhirnya dapat bertahan.
Perlahan, langkah kaki ini berjalan mundur, hingga akhirnya aku tak tahan dan melancarkan serangan menggunakan kaki kanan. Sosok hitam itu dalam posisi bertahan, sekali lagi aku melancarkan tendangan kepadanya.
"Tidak! Tolong!"
Suara teriakan itu menggema, ketika melirik ke arah sumbernya, hati ini seketika memanas. Di sana, sosok hitam hendak memakan Rias, tetapi dengan bantuan Mischie dan Lize, Rias pun selamat.
Mengabaikan sosok hitam di dekatku, sontak aku berlari ke arah Mischie dan dua gadis itu. Namun naas, aku diterjang dari belakang hingga jatuh terjerembab. Kepala ini diinjak, tubuhku tak dapat bergerak karenanya.
Sakit, tengkorakku serasa ingin pecah. Dalam sekejap, sekujur raga ini melemas. Diri ini tak sanggup lagi untuk bergerak.
Perubahan wujudku mulai memudar, kulit berwarna hitam pun kian mengelupas dan digantikan oleh kulit normalku. "Lize ...." Aku merintih, tetapi sosok yang ada di atasku, kini menundukkan kepala, hendak memakanku.
Nampaknya, langit masih belum menghendaki aku untuk mati. Di saat Lize sedang berlari menghindar dari kejaran sosok hitam. Ia masih menyempatkan diri menembak sosok hitam yang ada di atasku.
Sontak, sosok hitam itu langsung pergi mengejar Lize dan dua temanku yang lain.
"Tidak! Hentikan itu!" Aku berseru dengan suara nyaring.
Sesaat, mata ini dapat melihat senyuman Lize. Namun, dua sosok hitam tadi—mengabaikan begitu banyak peluru yang menyerang mereka—langsung menerjang dan melahap tubuh teman-temanku.
"Tidak! Jangan lakukan itu! Berhenti!"
Diri ini sudah tak dapat bergerak, kakiku serasa lumpuh setelah menggunakan begitu banyak tenaga. Aku menarik diri ini dengan kedua tangan, sejenak terpikir olehku untuk mati.
Tubuh teman-temanku dikoyak habis oleh dua sosok tadi. Mereka dengan rakus melahap bagian-bagian tubuh yang terpotong.
Air mataku menetes membasuh pipi ini. "Tidak! Hentikan itu!"
Jerit kesakitan menggema, pemandangan yang tidak menyenangkan, terlihat langsung oleh kedua mata ini. Tak tahan, aku tidak ingin melihat semua ini. Kututup mataku, sudah muak diri ini melihat hal mengerikan yang tengah terjadi.
__ADS_1
Sudahi penderitaan ini. Aku tidak mau semuanya jadi begini. Tolong, hentikan rasa sakit di hati ini.