
Singa yang berwujud seperti manusia, atau bisa dikatakan manusia singa tadi, meraung ke arah Darwis. Darwis hanya bergeming, sesekali mengayunkan pedang dan cambuk yang ia pegang. Pertarungan antara keduanya mungkin akan segera dimulai. Sementara itu, aku hanya diam dengan waspada, memperhatikan mereka dari belakang Darwis.
Darwis mulai bergerak ke samping kiri, sedangkan manusia setengah singa tadi, juga bergerak perlahan ke samping kiri. Mereka bergerak dengan arah putaran yang sama, sehingga jika dipertemukan mungkin akan membentuk sebuah lingkaran penuh. Ketika Darwis sudah tidak lagi membelakangiku, manusia singa itu dapat terlihat dengan jelas, dan dengan repleks aku langsung menembakkan dua pistolku ke arahnya.
Manusia sentengah singa itu sadar, lalu segera menunduk dan berguling ke samping kanan. Seranganku meleset, tetapi Darwis dengan segera maju ke arah manusia singa tadi, kemudian mulai menebaskan cambuk beserta pedangnya.
Tak lama, beberapa singa datang hendak menerjang Darwis, aku pun dengan sigap langsung menembakkan pistolku ke arah singa-singa tersebut. Dua ekor singa terkena serangan dan langsung terkapar di tanah. Tinggal tersisa lima ekor singa yang perlahan menjauh, bersamaan dengan mundurnya Darwis.
“Pasti dia telah mengendalikan para singa itu.” Darwis begitu kesal karena tak berhasil menghabisi lawannya.
“Sepertinya memang begitu.” Aku menyetujui.
Manusia setengah singa tadi, kembali berdiri dengan dikelilingi oleh lima ekor singa yang bersiaga. Pertarungan kali ini pasti akan sedikit merepotkan, mengingat singa-singa tersebut tampaknya dikendalikan. Pantas saja beberapa waktu lalu, gerombolan singa itu bertingkah aneh. Ternyata kenyataannya ada yang mengendalikan mereka.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku dengan pelan.
Darwis tidak menjawab selama beberapa saat. Suasana menjadi hening, tatapan mata kami terfokus pada manusia singa berserta para singa yang mengelilinginya. Kemudian, Darwis menghela napas. “Sepertinya kita harus berpencar dan mencari celah untuk pergi....”
“Jangan bilang kau takut menghadapi mereka.”
Aku memasukkan kembali kedua pistolku ke balik pakaian, lalu mengambil senapan panjang yang terselempang di tubuh, lalu mulai membidik. Namun, yang menjadi masalah sekarang adalah, keberadaan Flicker yang sedari tadi hanya dapat bergeming sambil memperhatikan sekitar. Seandainya dia bisa berubah wujud, mungkin ceritanya akan berbeda.
__ADS_1
Sebelum itu, aku harus mencari tahu apa yang menjadi pemicu perubahan wujudnya, sangat merepotkan. Aku menurunkan kembali senapanku, lalu melirik Flicker. Menurut perkiraanku, saat ini dia sedang ketakutan melihat semua ini. Jadi, ketakutan bukanlah pemicunya, kalau begitu apa?
Tiba-tiba, seekor singa langsung menerjang dari depan. Tanpa ampun, Darwis langsung menyerang singa tersebut dengan cambuknya, sehingga membuat sang singa mati dengan kapala yang hancur. Manusia singa itu sungguh meremehkan kemampuan kami, apakah dia pikir kami tidak akan berkutik di hadapannya?
Darwis menyarungkan kembali pedangnya, dan hanya menggunakan cambuk untuk melawan. Entah apa yang sebenarnya ia pikirkan, atau mungkin dia sangat serius sehingga hanya memakai cambuk untuk menyerang. Jika benar, ini pasti akan sangat mengerikan.
Darwis mencambukkan cambuknya ke tanah beberapa kali dengan tangan kanannya. Manusia singa telah bersiap dengan kuda-kuda dan cakar panjangnya. Tak lama, dua ekor singa langsung menerjang ke arah Dawis. Namun, Darwis memutar-mutarkan cambuknya ke atas, kemudian menyerang ke dua singa tersebut.
Di saat yang bersamaan, ketika kedua singa telah terkapar, manusia singa langsung menerjang ke depan Darwis. Tapi naas, Darwis menyadarinya, dan dengan cepat menebaskan cambuknya secara vertikal, dari atas ke bawah.
Manusia singa melompat ke samping kanan untuk menghindar. Aku pun segera membidik kepala mahkluk tersebut, lalu menembak. Sial, dia berhasil mengelak lagi dengan berguling di tanah. Darwis langsung menebaskan cambuknya ke tanah dengan sembarangan. Manusia singa hanya dapat berguling-guling untuk dapat menghindari serangan.
Tak lama berselang, dua singa yang tersisa langsung menyerang dari dua arah. Akan tetapi, aku dengan segera menembak mati salah satu dari mereka. Darwis juga menyerang satu singa lainnya dengan cambuk.
Sementara itu, Flicker telah pergi entah ke mana. Apakah dia sangat takut hingga tidak mau membantu sedikit pun? “Sial!” Aku mengupat kesal.
Darwis mencoba bangkit kembali, tetapi manusia singa langsung menendangnya sampai terungkur. Dan aku, terus meronta dari cengkraman singa. Namun, cakarnya yang sangat tajam langsung menusuk sekujur punggungku. Sadar kalau singa itu mau melahap kepalaku, aku langsung menyilangkan tangan di atas kepala.
Aku terus memberontak dengan menggerakan seluruh tubuh, tetapi tenaga singa itu terlalu kuat. Tangan sengaja aku ayunkan ke sembarang arah, dan singa itu mulai mau merugis salah satu lengahku. Sebelum itu terjadi, singa tersebut langsung terlempar ke samping kiri.
Sontak aku membelalakkan mata, sosok mahkluk manusia setengah singa yang lain, muncul dari arah belakangku. Aku menyeret tubuhku untuk menjauh, tetapi tunggu .... Ini aneh. Manusia setengah singa itu mengaum dan memamerkan taring panjangnya.
__ADS_1
Apa mungkin dia adalah Flicker?
Manusia singa itu langsung bergegas menuju manusia singa lainnya. Sedangkan aku masih bergeming, tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Sebuah kekacauan yang tidak pernah terpikir sebelumnya, saat diri ini mengira Flicker tengah kabur, ternyata yang terjadi adalah hal lain yang tak terpikirkan.
Aku berdiri, mengambil senapan panjang yang kujatuhkan, manusia singa yang kukira Flicker tadi, menyerang manusia singa lainnya. Dia melancarkan beberapa cakaran, tetapi berhasil ditahan dan dihindari oleh manusia singa yang menjadi lawannya.
Darwis bangkit, mengambil pedang yang ia sarungkan, lalu segera membantu Flicker. Aku mengisi ulang peluru dan mulai membidik, pertarungan tiga lawan satu akhirnya dimulai.
“Cih, sepertinya ini tidak akan berhasil.” Aku menyelempangkan kembali senapan panjangku, kemudian mengambil dua buah pistol yang ada di balik pakaian.
Kaki kulangkahkan ke depan, menuju tempat di mana pertarungan terjadi. Manusia singa hanya dapat terus bertahan dari desakan Flicker dan Darwis. Tangan mahkluk tersebut dipernuhi oleh luka, sekujur tubuhnya juga tak luput dari serangan Darwis dan Flicker.
Darwis menendang manusia singa itu hingga mundur beberapa langkah, aku pun langsung menembakkan satu pistolku tepat pada kening mahkluk tersebut. Dia terbaring, darah mulai mengalir dari luka tembak yang ada di keningnya.
Aku menghela napas, Darwis dan Flicker juga lega karena berhasil mengalahkan manusia singa tadi. Tiba-tiba, Flicker kehilangan keseimbangan dan jatuh. Beruntung Darwis berhasil menyangga tubuhnya supaya tidak benar-benar jatuh ke tanah.
Perubahan wujud Flicker mulai memudar, kulitnya berganti, sebagian bulu menjadi kulit, dan yang lainnya jatuh berguguran di tanah. Ketika aku memalingkan pandangan ke arah manusia singa yang kami lawan, tampak wajah seseorang yang aku kenali.
“Di-dia adalah Eric.”
Jujur, aku sangat terkejut melihat semua ini. Tidak pernah kusangka sebelumnya kalau dia adalah salah satu orang yang aku kenali.
__ADS_1
“Sepertinya dia frustasi karena berevolusi secara permanen.” Darwis membaringkan Flicker dengan perlahan.
Sekarang aku mengerti sesuatu, Evolusi Permanen akan pudar jika orang itu mati. Namun, hanya bagian wajah saja yang berubah, sedangkan bagian lainnya tetap sama seperti sebelumnya.