
Aku dan Darwis memasuki sebuah bangunan sederhana dengan waspada, karena takut akan ada bahaya lain seperti sebelumnya. “Tampaknya aman,” kata Darwis setelah memastikan dari pintu masuk.
Perlahan, kami pun masuk ke dalam bangunan tersebut. Di sana kosong, tak ada apa-apa. Lantainya begitu kotor oleh debu. “Ya, masih lebih baik daripada harus berjalan di dalam hutan dengan kondisi basah.” Tak mau mempermasalahkan situasi, aku dengan santai duduk di pojok ruangan. “Tapi, tampaknya di tengah kota cuaca cerah.”
“Jika kau memang ingin pergi ke sana, maka pergilah, aku tidak masalah seorang diri.”
Sepertinya dia kesal karena perkataanku tadi. Ah, sudahlah, sebaiknya aku mempersiapkan diri menghadapi kenyataan nanti.
Sedikit demi sedikit, hujan mulai mereda. Jujur aku kedinginan karena tidak memakai pakaian. Akan tetapi, Darwis tidak seperti itu walau dia juga tak berpakaian. Mungkin karena aku memang lemah jadi seperti ini.
Sejenak, Darwis memandangku. “Kau siap?”
“Apa maksudmu?”
“Lupakan saja!” Dia kembali memandang ke tempat lain.
Dasar aneh, aku bahkan tak tahu apa yang ia maksudkan. Namun, lupakan saja sama seperti yang dikatakannya. Berkali-kali aku menghela napas, dan terkadang menghisap mengumpulkan energi ke dalam kristal yang ada di dadaku. Tidak ada hal lain yang kulakukan, meskipun itu bukan masalah juga sih.
Tak terasa, hujan telah reda, di sisi lain ruangan, Darwis berdiri menatap ke luar di balik jendela yang telah hancur. Matahari mulai menyinari bumi seperti sebelumnya. Akan tetapi, tubuhku masih belum mau beranjak pergi dari tempat ini. Aku telah lelah menghadapi semua hal menyebalkan ini seorang diri, ingin rasanya mengeluh, tetapi percuma dan hanya membuang tenaga.
Darwis tiba-tiba duduk di lantai, ia menutup mata dan mengatur pernapasan. Nampaknya ia ingin mengumpulkan energi, tetapi kenapa tidak dari tadi saja. Menyebalkan! Ternyata dia adalah orang bodoh yang tak dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Walaupun kesal, aku tetap menghargainya dengan menunggu. Lagipula, ini adalah waktu yang cukup bagus untuk beristhirahat. Aku tahu dia akan segera mengajakku ke tengah kota setelah mengumpulkan banyak energi. Tidak perlu terburu-buru, lebih baik nikmati waktu selagi bisa.
Entah kenapa, aku menjadi ingat seseorang. Mungkin karena mereka mirip ataupun hal lain. Kuharap ingatan masa laluku cepat terungkap, supaya aku bisa lebih tenang dan menghadapi setiap masalah tanpa ada yang menggaggu pikiran.
Hei! Tiba-tiba telingaku mendengar suara orang yang kukenal. Ketika melirik ke sekitar, tak ada tanda-tanda kehadiran orang tersebut.
“Si-siapa itu?” Sontak aku berdiri, mencari keberadaan orang tersebut.
__ADS_1
Aku di sini. Ke mana kamu menghadap?
Sekali lagi aku dipusingkan mencari keberadaan orang itu. Namun, tak ada siapa pun di sekitar. Selain itu, Darwis juga masih bertapa tanpa mempedulikan lingkungan, termasuk aku.
Kamu tidak akan bisa melihatku dengan matamu, karena aku ada di dalam pikiranmu.
Pikiranku?
Ya, aku di sini, tak terlihat, tetapi ada.
Ka-kau Ellise, kan?
Ternyata kamu masih mengingatku ....
Tanpa sadar, air mataku telah mengalir membasahi pipi. Sungguh suasana yang aku rindukan, walaupun pertemuan kami singkat, tetapi rasanya telah lama sekali hubungan kami itu tumbuh. Dan sekarang, dia datang padaku, bukan dengan wujud yang biasa, tetapi hanya sebagai jiwa yang ada di dalam pikiranku.
Sepertinya, kamu tidak membutuhkanku lagi ... kalau begitu, selamat tinggal, Leon.
Semuanya berakhir dengan kalimat tersebut. Aku tak tahu apakah itu adalah mimpi atau kenyataan. Namun, aku sudah terlalu muak dengan apa yang terjadi. Makanya, kusudahi saja ....
Menyesal? Tidak ada perasaan itu dalam diriku. Sudah sedari lama aku ingin membuang apa yang namanya perasaan, tetapi tak pernah sekalipun tersampaikan. Apakah takdirku seburuk ini?
“Kau tak apa?” Tiba-tiba Darwis berada di depanku. “Air matamu menetes.”
“Eh?” Segera aku mengusap air mataku dengan kedua tangan. “Ti-tidak ada apa-apa.”
“Kalau begitu, ayo pergi! Berlama-lama di sini tak ada artinya.”
“Ah, ya.” Aku pun bangkit berdiri, mengikuti Darwis berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
Di luar, semua tempat telah basah oleh hujan beberapa waktu lalu. Selain itu, tidak terlihat adanya tanda-tanda kehadiran seseorang. Ini bukanlah hal yang aneh, terlebih ada kemungkinan kalau kekacauan yang terjadi bukan hanya di sini, tetapi di tempat lain juga.
Kuhirup udara yang begitu segar, lalu mengembuskannya perlahan. Lumayan, kesegaran langsung merasuk ke sekujur tubuh. Meskipun begitu, aku juga harus tetap waspada, semisal ada musuh di sekitar.
“Apa yang akan kita lakukan berikutnya? Makanan telah habis, jarak antara tempat ini dengan tengah kota pun cukup jauh. Perlu berjalan selama kurang lebih beberapa jam untuk mencapainya, itu yang kuperkirakan setelah melihat tugu tinggi ketika sedang melayang di udara.”
Masih terus berjalan sambil mengendap-endap di antara bangunan tua yang sudah tak terpakai, Darwis menjawab perkataanku, “Kita tidak perlu lagi mencari makanan. Cukup gunakan energi yang tersimpan dalam kristalmu saja untuk bertahan.”
“Apakah bisa begitu?”
“Tentu, aku sudah mempraktekkannya sendiri.”
Ternyata itu penyebab tubuhnya kurus kering dan kurang gizi. Sekali lagi aku menghela napas. Sebenarnya, aku sedikit terganggu dengan cakar panjang yang ada di tangan kiriku ini, tetapi tak ada yang dapat kuperbuat selain pasrah menerima kenyataan.
“Mulai dari sini, kita tidak boleh lengah walau hanya sedetik. Jarak kita dengan tengah kota sudah dekat.”
Aku mengangguk, menyetujui perintah Darwis. Suasana semakin tegang, seiring kian dekatnya hari akhir. “Tapi, sebisa mungkin kita harus beristhirahat malam ini.”
Mendadak, Darwis memalingkan pandangannya kepadaku, sorot matanya tajam dan sangat mengintimidasi. “Pertarungan ini akan dimulai malam nanti. Kau seharusnya tahu, kalau hutan ini akan hancur ketika saatnya tiba. Itulah mengapa, semua Klan bertempur habis-habisan untuk dapat keluar dari sini sebelum hari kehancuran itu tiba.”
“Sudah berapa lama hutan ini ada?”
“Sekitar satu tahun lebih.”
“Dari mana kau tahu akan hal itu.”
Darwis memalingkan pandangannya ke depan. “Selama ini aku telah mencari tahu dengan berkeliling di setiap sudut hutan. Bukan angka pasti, tetapi firasatku mengatakan itu. Dan juga, tentang hari kehancuran, sudah tampak ketika kejadian beruntun selama ini. Jika kau pikirkan, apakah semua itu tak dapat menghancurkan hutan?”
Aku ingat, jadi itu adalah waktunya. Hampir saja aku melupakan hal penting, pertama kali aku berniat pergi ke wilayah utara adalah untuk menghindari serangan yang berasal dari selatan.
__ADS_1