
Tidak! Aku tidak boleh mati!
Kembali aku mengisi ulang senapan dan mengarahkannya ke kepala sang monster. Dengan gerakan cepat, aku menarik pelatuk dan peluru dari senapan pun melesat kencang dibarengi suara yang menggema.
"Aku harus hidup!" Menggunakan segala tekad dan sisa tenaga, kudirikan tubuh ini dan menopangnya dengan senapan.
Berbalik, kulangkahkan kaki ini berlari secepat mungkin agar dapat segera menjauh. Napasku mulai tersengal, tenaga yang telah terkumpul juga semakin berkurang. Sungguh, diriku sudah hampir menyerah karenanya.
Tanah kembali berguncang, membuatku lagi-lagi sempoyongan. Berbagai hujatan yang tidak enak, menggema di dalam kepala ini karena apa yang sedang kualami.
Dalam satu dentuman besar, tanah berguncang dahsyat membuat tubuhku terangkat ke atas kemudian jatuh. Sekujur raga ini merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan, rasa sakit itu sampai menjadikan aku tidak sanggup berdiri lagi.
"Argh ... tulangku terasa remuk," rintihku sambil berusaha berdiri.
Tubuh ini kian lemas dan tak bertenaga. Kedua lenganku juga tak sanggup untuk menopang badan. Walau ingin rasanya segera pergi, kondisiku sekarang sangat tidak memungkinkan untuk melakukannya.
Pengelihatanku mulai bergoyang, hembusan napas ini juga tak karuan. "Mana mungkin aku mati di sini."
Dug-dug!
Roh yang ada di dalam tubuhku terasa seperti akan terlepas dari wadahnya. Sebuah suara yang mengernyit membuat pendengarku terganggu dan tak dapat berfungsi lagi. Mataku mulai menggelap hingga akhirnya tidak bisa melihat lagi.
Apa yang terja—
***
Di atas tebing tinggi dengan lapangan luas, tampak Zanik bersama dengan Andrew tengah menyaksikan pertarungan Leon dan teman-temannya, menggunakan teropong jarak jauh.
"Hahaha, nampaknya satu orang sudah tumbang," ucap Zanik sambil menurunkan teropongnya. "Apakah kita perlu turun tangan sekarang?"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu," jawab Andrew yang juga menurunkan teropongnya.
__ADS_1
Bukan seperti Zanik yang senang melihat keadaan ini, Andrew hanya memasang wajah datar tanpa ada emosi yang terlihat.
"Oh, ayolah," goda Zanik. "Kau juga ingin membunuh monster besar itu, kan?"
"Konyol." Andrew membuang teropong di tangannya lalu mulai berjalan menjauh dari tebing. "Jika aku ingin membunuh mahluk lemah itu. Cukup aku seorang saja monster jelek itu pasti mati."
"Benarkah?" Zanik mengambil pistol dari balik bajunya lalu mengarahkan benda tersebut pada Andrew. "Seberapa yakin kau mengenai hal itu?"
"Seyakin ini."
Suara tembakan menggema, peluru yang keluar dari pistol Andrew, melesat kencang melewati sebelah kanan kepala Zanik. Tubuh Zanik menjadi kaku, ia sungguh tak dapat bergerak karena terkejut. Salah sedikit saja, aku pasti tamat tadi, pikir Zanik.
"Apa kau sudah paham?" tanya Andrew sembari memasukkan pistolnya kembali di balik pakaian. "Ayo kembali, aku sudah tidak sabar menanti saat di mana pertarungan besar antar sembilan klan nanti dimulai."
Orang ini sungguh mengerikan. Zanik menenangkan dirinya dan mulai berjalan di belakang Andrew. Dia sebenarnya tidak peduli pada pertarungan sembilan klan yang dikatakan oleh Andrew, atau pun pertarungan melawan monster. Apa yang diinginkan oleh Zanik hanyalah cara keluar hidup-hidup dari hutan misterius ini.
Sementara itu, di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Tampak Mischie yang tengah menggiring—monster besar dengan kepala banteng—dari lapangan luas menuju ke sebuah tebing. Mischie sudah sangat hapal dengan tempat di mana ia berada sekarang. Sebab, di sini adalah tempat di mana ia pernah berhadapan dengan monster saat pertama kali bertemu Leon.
Sungguh, Mischie sangat tidak mengerti kenapa dirinya bisa ada di sini. Namun, ada satu hal yang pasti dan menjelaskan semuanya. Selama ini mereka hanya berputar-putar saja.
Granat itu meledak tepat di perut monster itu. Dan membuat sang monster menjadi murka lalu berlari ke arah Mischie.
"Groar!"
Mischie dengan cepat berlari menuju tebing. Tanah yang saat ini ia pijak sedikit berguncang karena murka sang monster.
Dari arah belakang monster berbulu abu-abu itu, dua granat dari Rias dan Lize melesat kencang dan menabrak punggung monster tersebut. Serangan dari dua granat itu lebih kuat daripada granat yang dilemparkan oleh Mischie. Faktanya, granat tersebut mampu membuat sang monster sedikit terdorong ke depan.
"Groar!"
Monster itu semakin murka dan mempercepat langkahnya menuju ke arah Mischie. Tak terganggu atas perilaku monster tersebut, Mischie kembali mengaktifkan salah satu granatnya dan melemparkan benda itu pada sang monster.
__ADS_1
Mendadak, Mischie menghentikan langkah kakinya ketika di depannya terdapat sebuah jurang. "Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Di kantong Mischie hanya tersisa satu buah granat dan sebuah pistol lengkap dengan pelurunya. Serangan dari pistol pasti tidak akan bisa melukai monster sialan itu, pikir Mischie. Lalu, bagaimana caraku untuk dapat memancingnya agar jatuh ke jurang?
Kembali, dua buah granat meledak di waktu yang sama pada punggung monster berbulu abu-abu. Sekali lagi, monster itu terdorong dan hampir jatuh.
"Gawat! Monster sialan itu akan jatuh ke arah Mischie!" seru Rias dengan panik.
"Mischie!" Lize juga ikut berteriak.
***
"Di mana aku?" gumamku ketika melihat ke sekitar.
Tempat ini seperti sebuah ruangan luas, yang disampingnya terdapat beberapa penerangan dari obor. Lantai ruangan ini juga tergenang air hingga membasahi sebagian kakiku.
Penerangan tiba-tiba meredup, obor-obor yang menyala kini mulai padam satu per satu. Sontak aku menghadap ke kanan ketika telinga ini mendengar sebuah suara.
"Siapa di sana?"
Terdengar sebuah suara percikan air. Namun, mata ini tidak dapat menangkap adanya kehadiran dari sesuatu atau pun seseorang.
"Keluarlah!" Aku kian takut akan keadaan ini.
Beberapa saat kemudian, suara seseorang menggema. "Tetaplah hidup, Leon!" Perlahan dan penuh dengan emosi. Aku menjadi semakin penasaran siapa sosok yang mengatakan kalimat dengan nada lembut itu.
"Tunjukkan jati dirimu, Leon." Suara itu kembali menggema dan seketika itu pula, aku kembali ke kenyataan.
***
Sel-sel dari tubuh Leon kini berubah. Hal itu membuatnya menjadi sosok manusia setengah monster. Tidak ada yang tahu darimana hal ini berasal, tapi yang jelas, perubahan besar akan terjadi.
__ADS_1
Akibat perubahan tersebut, kulit Leon menghitam dan bintik-bintik kecil muncul di sana. Ia masih belum sadar, tetapi tubuhnya berdiri dengan sendirinya. Pakaian yang dikenakan oleh Leon, hancur berkeping-keping. Sekarang, tampak sesosok mahluk dengan kulit hitam dan bertubuh kekar.
Taring-taring keluar dari mulut mahluk tersebut. Sekarang ini, kesadaran Leon masih belum bangun, sehingga tubuhnya dikendalikan oleh sesuatu yang benar-benar berbeda.