The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 36 : Air Mata


__ADS_3

Angin berdesir, debu melayang di udara hingga membuat napas sedikit sesak. Terik matahari begitu menyengat, tetapi pertarungan masih begitu sengit di atas padang pasir ini.


Mendengar berbagai macam ledakan, Starla terus berlari sambil menggenggam erat batu pemberian Vord. Tarikan napasnya semakin cepat, ia begitu khawatir pada keadaan Vord sekarang ini.


"Vord...." Suaranya begitu pelan. "Jangan mati...." Tapi, seketika langkah kakinya terhenti. Sekujur tubuhnya kaku, seperti ada sesuatu yang menghalanginya untuk bergerak.


Jauh di depan sana, Vord tampak berlumuran darah. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh cairan kental berwarna merah tersebut. Namun, kedua tangan dan kakinya masih terus bertarung melawan begitu banyak Tan.


"Vord!" Starla langsung saja berlari setelah memasukkan batu pemberian Vord dalam saku celana. Kilat berwarna hitam lantas keluar dari sekujur tubuhnya. Kemudian, dari kilat tersebut terbentuk sebilah pedang hitam di tangan kanannya.


Starla melompat, lalu menebas beberapa Tan yang menjadi penghalang. Dua ekor Tan langsung tumbang, sementara yang lainnya segera bergerak mundur.


Sesaat setelah para Tan mundur, tubuh Vord berhenti bergerak. Pemuda tersebut bahkan tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya lagi. Dan, asap pun muncul dari dalam tubuhnya tersebut.


"Vord!" Tanpa ragu sedikit pun, Starla berhenti di depan pemuda itu, mengabaikan begitu banyak mayat Tan yang terbaring di sekitar.


"Star ... la ...." Walaupun sangat pelan, Starla masih dapat mendengar Vord memanggilnya. "Per ... gi."


"Tidak! Aku akan tetap di sini bersamamu!" Meski tak tahu harus bagaimana menyelamatkan Vord. Starla tetap bersikukuh untuk tetap di sini.


Sesungguhnya Starla begitu kebingungan sekarang. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Jika sembarangan menyentuh Vord, mungkin bisa menambah luka pemuda tersebut. Oleh karena itulah, Starla hanya bisa berdiam. Seandainya saja ada seorang penyembuh di sini.


"Vord, bertahanlah. Aku akan menghabisi para Tan ini dan membawamu pergi." Kilat keluar dari tangan kanan Starla, lalu muncullah sebilah pedang berwarna hitam. Ia kemudian berbalik, bersiap untuk bertarung.


"Kau harus per—"


Seketika Starla terdorong hingga jatuh tersungkur sebelum mendengar Vord menyelesaikan kalimatnya. Starla lantas berbalik, matanya terbelalak begitu lebar melihat Vord sudah terbaring dengan kayu besar menancap menembus tubuhnya.


"Tidak!" Pedang di tangan kanan Starla menghilang. Gadis tersebut langsung berusaha mencabut kayu besar yang menancap di tubuh Vord. Akan tetapi, mendadak seekor makhluk besar berwarna abu-abu muncul dari punggung Vord dan segera membawa Starla berlari menjauh. "Tidak! Vord!" Air mata sudah tak dapat ditahan oleh Starla melihat kejadian ini.


Dengan penglihatan yang sedikit kabur karena air mata, Starla dapat melihat Vord tersenyum padanya. Mulut pemuda tersebut seolah mengatakan, "Jangan menangis, dan tetaplah hidup, Starla ...."


Tak lama, beberapa Tan menghadang jalan makhluk abu-abu yang menggendong Starla. Akan tetapi, mereka semua langsung tak berdaya menghadapi makhluk abu-abu ini.


***


Jarak Starla dengan tempat ini sudah begitu jauh. Vord tersenyum bahagia mengetahui hal tersebut, dan tak peduli lagi pada apa yang akan terjadi setelah ini. Mungkin, semuanya akan segera berakhir, hingga membuat perjuangan berat ini tak lagi berarti. Namun, Vord tetap puas karena mencurahkan seluruh kekuatan demi melindungi.


Tiba-tiba, angin berembus begitu kencang. Debu berterbangan di sekitar, dan kawanan Tan berhenti bergerak. Vord merasakan sakit yang luar biasa dari lukanya sekarang. Di saat seperti itu, sosok bertubuh besar dengan mahkota silver muncul di hadapannya.

__ADS_1


"Ternyata kau cukup tangguh. Bukan hanya mampu menghabisi tiga anak buahku, tetapi juga masih dapat bertahan dari serangan para Tan itu."


"Pfft!" Vord tertawa mendengar ucapan makhluk di depannya, meski hal tersebut membuat rasa sakitnya bertambah hingga mulutnya memuntahkan darah. "Ternyata kau yang menjadi bos mereka?"


"Apa yang kau tertawakan, hah?"


"Tidak. Aku hanya tak pernah menyangka kalau bos mereka itu adalah makhluk tanpa bibir sepertimu!"


"Kau berani menghina penampilanku!" Seekor Tan kemudian mencabut kayu di tubuh Vord.


"Argh!"


"Tenang saja! Aku takkan membunuhmu jika kau bersujud sambil meminta maaf dan berjanji setia mengabdi padaku! Bagaimana?"


"Pfft! Hahahaha! Jangan membuatku tertawa jelek!"


"Kau begitu keras kepala! Aku, Raja Tan, sudah berbaik hati padamu, tapi kau malah menyia-nyiakannya!" Perlahan Raja Tan di hadapan Vord menyentuh rambut Vord, lalu mencekik lehernya dan menggantung pemuda itu dengan satu tangan. "Akan kubuat kau menjadi budakku selamanya!"


"Argh!" Jeritan Vord terdengar begitu lantang kala tubuhnya serasa dimasukkan ke dalam api yang begitu panas.


"Jangan pikir aku akan membunuhmu begitu saja!"


"Argh!"


"Argh!!!!" Jeritan Vord semakin keras saat rasa sakit menjalar ke dalam tubuhnya.


"Hei! Sebenarnya aku tak peduli padamu atau apa pun. Asalkan kau menberikan benda yang kumau, kau akan segera kubunuh tanpa rasa sakit!"


Napas Vord bergitu terengah, pandangan matanya kabur. Tapi ia beruntung tidak lagi merasa dibakar.


"Cepat, berikan batu kehidupanmu dengan bentuk seperti ini!" Raja Tan mengeluarkan sebuah batu berwarna merah dari sakunya.


Kepala Vord begitu pusing. Kendati begitu, ia bisa melihat batu di tangan Raja Tan. Ternyata Night sampai menyerahkan batu kehidupan miliknya pada makhluk jelek ini, pikir Vord. Tapi aku beruntung sekarang, karena batu kehidupanku tidak di tanganku.


"Cepat berikan!"


"Argh!" Lagi, Vord merasa tubuhnya dibakar. Namun, tak lama kemudian siksaan itu berakhir. "Jangan kira kau bisa mendapatkannya dariku!" Dengan keras kepala, Vord menjawab.


"Ternyata, siksaan ini masih belum seberapa ...."

__ADS_1


Seekor Tan lainnya pun datang, menebas kedua tangan dan kaki Vord.


"Argh!!!!"


Tidak cukup sampai di sana. Raja Tan melubangi perut Vord—yang tadi ia sembuhkan—dengan satu pukulan.


"Arghh!"


"Sekarang, memohon ampunlah dan berikan apa yang kumau!"


Vord tersenyum tipis. "Prajurit sejati takkan pernah kalah oleh rasa sakit, karena rasa sakit itulah yang membentuk hidupnya!"


"Berisik!" Raja Tan yang begitu kesal pun memutuskan leher Vord hanya dengan satu tangan. "Tampaknya batu itu tidak ada padamu, tapi pada gadis yang melarikan diri bersama dengan makhluk abu-abu tadi."


***


Di dalam Menara Harapan, seorang prajurit dengan seragam biru tua berlari di lorong. Napasnya begitu terengah ketika tiba di sebuah ruangan yang berisikan beberapa orang.


Leon memalingkan pandangan pada prajurit tersebut, tapi kemudian kembali melirik pria dengan topeng emas. Untuk saat ini, ia hanya ingin segera ke kota Heels agar bisa membantu Vord. Akan tetapi ... keinginan itu seketika kandas.


"Lapor, Tuan! Beberapa Ti muncul di utara! Mereka sebentar lagi akan menerobos pertahanan kita jika seperti ini!"


"Apa kau bilang?" Yang pertama kali bereaksi akan hal ini ialah Pelahap Energi tingkat 1 peringkat 2 di sebelah pria bertopeng, namanya Nozel Klaurius.


Klaurius, awalnya nama ini membuat Leon berpikir kalau tempat dulu ia bereksperimen adalah di sini, di Menara Harapan. Namun, pria bertopeng emas berkata padanya bahwa Keluarga Klaurius terpecah, tidak hanya ada di sini. Dan, alasan mereka mengenal Leon hanyalah karena tindakannya telah menyebar. Setidaknya, itulah yang Leon yakini. Untuk sekarang, bukan saatnya lagi memikirkan hal tersebut.


"Nozel! Bawa semua Pelahap Energi tingkat 1 yang ada di Menara ini untuk menghadang mereka!" kata pria bertopeng emas.


"Baik!" Segera Nozel pergi keluar.


"Tapi! Bagaimana dengan kota Heels?"


Pria bertopeng emas langsung berbalik. "Itu hanyalah kota kecil yang didirikan oleh Vord. Dan, masalah di sini jauh lebih penting di selesaikan!"


"Tapi Vord itu—!"


"Aku tak peduli. Jika kau peduli, pergilah bersama teman-temanmu!"


Leon mengepalkan kedua tangan dengan erat. Gigi-giginya gemeretak, tetapi ia sudah tak mempunyai harapan untuk bernegosiasi. "Baik ... aku akan menyelamatkannya sendiri! Tanpa bantuan kalian!" Leon pun segera berbalik dan berjalan menyusuri lorong.

__ADS_1


××××


Hero's is coming!


__ADS_2