The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 9 part 1


__ADS_3

Kututup hidung dengan pakaian, karena angin yang sangat kencang membawa abu hasil dari ledakan gunung tadi. Jarak gunung dengan tempat kami berada saat ini memanglah jauh, tetapi tetap saja, abu dapat terbawa sampai jauh. Sebenarnya aku masih sangat heran, dan entah kenapa, aku tidak percaya kalau ledakan tadi murni bencana alam. Aku menduga, ada yang membuat hal itu terjadi.


Menghela napas sembari tetap berjalan dalam diam, aku menghapus kemungkinan tidak pasti tersebut. Sebab, mana mungkin ada orang yang mampu melakukannya.


Melangkahkan kaki lebih jauh, kami akhirnya sampai di depan sebuah gua. Tempat ini sunyi dan sepi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia maupun hewan. Meskipun begitu, aku tetap yakin ada hewan pengerat seperti tikus di dalam gua itu.


Mischie menghentikan langkah lalu merentangkan tangan kanannya sejajar dengan bahu. Serentak, kami pun berhenti di belakangnya. Aku masih bingung kenapa dia menghentikan kami di kondisi ini. Kupikir, dia akan segera membawa kami masuk ke dalam gua tanpa ragu-ragu.


“Ada apa, Mischie?” tanyaku sambil berdiri sejajar dengan Mischie.


Mischie menyipitkan mata dan mengarahkannya ke dalam gua. Melihat itu, aku dapat mengerti kalau sebenarnya dia sedang mengamati apa yang ada di sana.


Sekilas aku mengikuti arah pandangan Mischie, tapi apa yang kulihat hanyalah warna hitam pekat di dalam gua. Tidak ada apa pun selain itu. Akan tetapi, kenapa Mischie mau repot-repot mengamati sesuatu tak berarti seperti itu.


Kuputar bola mata kemudian berjalan santai ke arah gua tersebut. Tiba-tiba tangan kananku ditarik hingga membuatku berhenti. Memalingkan wajah ke belakang, aku berkata dengan bosan, “Kenapa sih?”


“Tunggu!” Mata Mischie menatap tajam ke arahku seolah hendak menghajar wajahku.


Melepaskan genggaman tangan Mischie dengan kasar, aku balas menatap dia menggunakan tatapan kosong. “Memangnya apa yang bisa kau lihat dari sini? Bukankah lebih bagus jika kita langsung masuk saja?”


“Kau bodoh, ya?”


“Apa maksudmu mengatakan itu?” Aku menaikan nada suara, hendak membentak Mischie.

__ADS_1


Mischie menghela napas sambil menggelengkan kepala berulang kali. “Haah ... jika kita langsung masuk begitu saja ke sana, apakah kau mau menjamin keselamatan kita?”


Aku menaikan sebelah alis karena heran. Bagaimana mungkin tidak, sebab di sini kami memiliki Lize yang dapat melihat dalam gelap dan dapat menuntun kami ke jalan yang tepat. Atau mungkin Mischie melupakan hal itu begitu saja? Ah, terserah dia sajalah.


Mengabaikan semua yang kupikirkan, aku lantas menyerah untuk menasihati Mischie. “Baiklah, baiklah, aku salah. Mulai sekarang kau pemimpin kami.” Seusai berkata demikian, kulangkahkan kaki kembali ke belakang Mischie.


Detik berganti detik, tetapi Mischie masih belum memberi aba-aba untuk berjalan. Jujur saja situasi ini membuatku sedikit jengkel, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak ingin repot-repot menegurnya.


Aku menguap, dilanda bosan saat sedang menunggu. Dan beruntung, Mischie akhirnya mulai melangkahkan kaki lalu kami yang ada di belakangnya pun ikut berjalan.


Kukira tadinya Mischie akan membawa kami menjauh dari gua di depan kami. Namun, ternyata aku salah menduga, sebab dia jelas menuntun kami masuk ke dalam gua tersebut.


Apa yang dipikirkan olehnya?


Ketika aku sudah masuk ke dalam gua, kegelapan terasa menyelimuti. Memang saat ini mataku masih dapat melihat dengan jelas sebab belum masuk terlalu dalam. Walau demikian, rasa trauma yang pernah kualami di dalam gua kala itu, masih terngiang di kepala ini. Benar-benar mengganggu.


Suara langkah kaki terus menggema di dalam sini, tetapi tidak ada yang mau berbincang untuk meredakan suasana canggung ini. Mendadak, aku menabrak Lize yang kebetulan berada di depanku. “Aduh! Maaf!” ucapku sembari menghentikan langkah.


Saat melirik Lize, sejenak aku merasa kalau dia sebenarnya tengah memikirkan sesuatu. “Apa yang mengganggu pikiranmu?” Aku bertanya keheranan.


Sambil terus menatap lurus ke depan, Lize pun menjawab, “Tidak ... ayo pergi!”


Aku terdiam memandangi Lize yang sedang berjalan tanpa mau melirik ke arahku. Seolah tertarik kembali ke kenyataan, langsung saja aku mengikuti Lize di depanku.

__ADS_1


Setelah sekian lama berjalan, mata ini sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi. Suara langkah kaki yang kudengar tadi kini berganti dengan bunyi dentingan besi. Lalu perlahan, tanah yang kupijak bergeser ke samping hingga membuatku hampir jatuh kehilangan keseimbangan.


Kepala ini menjadi pusing, kondisi tubuhku berusaha keras agar tidak jatuh. Kututup mata agar rasa pusing yang melanda kepala segara mereda. Setelah tanah yang tadinya bergeser telah berhenti bergerak, perlahan kubuka mata ini.


Buram dan sedikit bergelombang, mataku tak kuasa menatap terangnya pencahayaan di dalam sini. Menyadari hal itu, tanpa sadar kakiku melangkah ke belakang dan mata ini terbelalak lebar melihat situasi yang kuhadapi sekarang.


Menerawang ke sekitar dengan heran, pikiranku semakin tak karuan oleh pemandangan ini. “Di ... di mana ini? Apakah aku sedang bermimpi?” Aku yang tak percaya dengan semua ini lantas mencubit pipiku sendiri. “Argh!” Ternyata sakit.


Sambil berjalan lurus ke depan, mulutku kembali berteriak, “Hei! Siapa saja! Jawab aku!”


Sungguh sial, telingaku tidak dapat mendengar jawaban apa pun atas perkataan barusan. Melirik ke samping kiri dan kanan, di sana terdapat begitu banyak obor yang telah dinyalakan, berbaris rapi di sepanjang dinding.


Berjalan lebih jauh, aku menemukan sebuah percabangan yang mengarah ke kiri dan jalan lurus. Tak peduli dengan jalan di sebelah kiri itu, tetap kulangkahkan kaki berjalan ke depan. Sungguh naas, ternyata setelah berjalan begitu jauh menyusuri lorong lurus, aku hanya menemukan jalan buntu.


“Sial!” teriakku dengan keras sampai menggema di sepanjang lorong.


Pasrah menerima kenyataan yang ada, aku pun berbalik untuk menuju ke persimpangan yang kutemukan beberapa saat lalu. Terus berjalan dengan mulut yang tak kunjung berhenti berujar, akhirnya aku menemukan persimpangan tadi, dan dengan kesal aku lantas berbelok ke sana.


“Mischie! Lize! Rias! Kalian di mana?” Dengan putus asa kuteriakkan tiga nama tersebut. Namun, sama seperti sebelumnya, tidak ada yang menjawab pertanyaan itu.


Sekali lagi aku menemui percabangan, tetapi kali ini bukan hanya dua cabang melainkan empat cabang. Tidak ingin kejadian yang sama berulang, aku lantas berbelok ke kiri lalu setelah beberapa saat, berbelok ke kanan dan ke kanan lagi. Kukerutkan kulit kening ketika sekali lagi menemukan sebuah belokan ke kanan dan ternyata aku kembali di titik yang sama yaitu perempatan yang pernah kulewati.


“Sialan!” Frustasi, aku lantas meneriakkan kata itu dengan sangat kesal.

__ADS_1


__ADS_2