The Dark Slayer

The Dark Slayer
S3 Chapter 20 : Tak Terduga


__ADS_3

Dalam gumpalan debu yang tersebar di sekitar, terlihat Jahad tengah mengusap pakaian. Ia tidak mau memakai pakaian kotor, tetapi keadaan memaksa dirinya untuk menggunakannya. Sesekali ia terbatuk, dari raut wajah sudah tampak jelas kalau emosinya sedang meluap.


Kakinya perlahan melangkah, begitu tenang dan memancarkan aura yang sangat kuat. Pertama-tama ia bergerak menuju arah seorang pemuda yang sekarang terbaring di tanah. Tangan kanannya mengepal, cahaya berwarna biru pun muncul di sekujur tangannya itu.


“Sepertinya kau memang sudah bosan untuk hidup ....” Tanpa menunggu lama, satu pukulan ia lancarkan pada si pemuda.


Tanah bergetar, gelombang angin membuat debu kembali mengaburkan penglihatan. Jahad menegakkan kepala, menatap ke depan sambil menghela napas.


Asap keluar dari dalam mulutnya ketika ia mengembuskan napas. Matanya memancarkan cahaya biru, lalu langkahnya lebih berat dari sebelumnya. Kini, bukan hanya tangan kanan yang mengepal erat, tetapi juga tangan kiri. Cahaya berwarna biru di sekujur tubuhnya seketika berubah menjadi api yang menjilat-jilat.


“Berani menghalangi jalanku. Apakah kau sudah bosan untuk hidup?” Suara Jahad terdengar lebih berat. Tatapan matanya begitu tajam menatap mata seseorang yang juga memancarkan cahaya di depan sana.


“Apakah aku memang harus takut padamu?”


Setelah kabut menghilang tertiup angin, barulah terlihat dengan jelas sosok seorang pemuda berjubah hitam. Di tangan kanannya terdapat Sun yang sudah tidak sadarkan diri.


Aura dari pemuda itu tak kalah kuat dari Jahad, pantas saja kalau dia bisa berdiri dengan tenang menatap Jahad. Mata pemuda itu bersinar terang layaknya bulan, aura hitam membentuk wujud mahkluk kurus berwajah seram di belakangnya.


“Aku adalah Vord. Jangan salahkan aku jika menyakiti orang sepertimu. Sebab kau yang memulainya.” Pemuda berjubah perlahan memperpendek jarak dari Jahad.


“Vord? Apakah salah satu dari pelahap energi tingkat 1?” Seringai kesenangan terlihat di wajah Jahad. “Haha, kalau kau mati di sini karenaku, maka reputasi kalian akan segera hancur. Itu benar, kan?”


“Tentu. Tapi itu kalau kau memang bisa melakukannya?”

__ADS_1


Dengan gerakan secepat suara, Jahad melesat ke depan sambil melancarkan serangan sekuat tenaga memakai tangan kanan. Namun, untuk menghadapi ini, Vord hanya menoleh dan tiba-tiba Jahad terpental ke belakang.


Jahad mencoba menyeimbangkan tubuh. Tarikan napasnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Ia sungguh tidak menyangka kalau Vord memiliki kekuatan sebesar ini. Akan tetapi, sekarang dia sedang membawa seseorang, jadi ada kemungkinan kekuatannya untuk menyerang terbatas.


“Heh?” Jahad tersenyum lebar. “Ternyata ada kekuatan sebesar itu dalam tubuhmu. Tapi, sangat beresiko jika kau meremehkan diriku ini. Buang saja orang itu dan bertarunglah seserius mungkin.”


“Kekuatanmu jauh di bawah orang itu. Lebih baik kau menyerah saja sekarang. Tak ada gunanya bertarung sia-sia.” Kalimat provokasi dari Jahad berlalu begitu saja bagai angin dari Vord. Jelas Vord mengabaikan bukan tanpa alasan. Ada seseorang yang jauh lebih kuat di luar sana, tetapi sekarang itu hanyalah monster kecil.


“Cih!” Merasa terabaikan, Jahad mengeluarkan seluruh kekuatannya. “Setelah ini, kau akan menjadi kenangan saja.”


Vord mulai merasakan adanya kekuatan besar yang keluar dari Jahad. “Sial, akan berbahaya kalau harus bertarung sambil melindungi Sun.”


Tiba-tiba, pakaian Vord ditarik oleh seseorang. Vord menoleh dan melihat Sun sudah sadar lagi. “Kau datang ..., Tuan?” Suara dari mulut Sun terdengar lemas. Wajahnya juga pucat, tetapi ada sedikit senyum di bibir.


“Mana mungkin aku mati di tempat ini.” Walaupun Sun berusaha sebisa mungkin agar suaranya tak gemetar, tetapi saja terdengar jelas kalau dia memaksakan diri untuk berbicara. “Teknik mempertahankan kesadaran yang kau ajarkan padaku dengan terus menghisap kekuatan dari luar tubuh. Aku berhasil menguasainya.”


Vord tersenyum dan kagum pada perjuangan Sun agar dapat menggapai puncak. “Kau sudah berjuang. Serahkan sisanya padaku.”


“Ya, aku akan berusaha bersembunyi supaya tidak mengganggu pertarungan.” Akhirnya Sun berbalik dan menjauh dengan perlahan dari area pertarungan.


Sekarang, Vord tidak lagi memiliki pembatas untuk mengeluarkan seluruh kekuatannya. “Hm ... mungkin dua puluh persen saja?” Sejenak Vord berpikir ulang lalu menggelengkan kepala. “Lima belas persen saja sudah cukup.”


Kekuatan dari batu kristal abu-abu di dada Vord mengalir dengan merata ke sekujur tubuh. Perlahan ia menarik napas dan mengembuskannya. Pikirannya semakin tenang, cahaya yang terpancar di matanya meredup, membuat suasana kian mencekam.

__ADS_1


Jahad juga mungkin merasakannya, tubuhnya sedikit bergetar tetapi masih mempertahankan kuda-kuda. Secepat kilat Jahad berpindah ke belakang Vord lalu melancarkan serangan. Akan tetapi, Vord berbalik lebih cepat dan menahan serangan tersebut dengan telapak tangan kiri.


Menyadari perbedaan kekuatan, Jahad lantas mundur mengambil jarak lebih jauh. Sekarang mungkin jantungnya berdebar-debar merasakan langsung kekuatan seorang pelahap energi tingkat 1. Namun, bukannya takut, dia malah tersenyum.


“Haha, sudah aku duga. Kekuatan kalian tidak berbeda jauh dengan seekor mahkluk besar yang sering kutemui.” Jahad mulai meracau, mengucapkan sesuatu yang tak dimengerti oleh Vord.


“Apa sekarang kau mau menyerah? Aku mungkin akan membiarkanmu tetap hidup selagi kau mengabdikan kekuatanmu untuk orang-orang lemah di luar sana.” Tentu saja Vord tidak ingin mengambil keputusan secara gegabah.


“Maksudmu menjadi pahlawan yang nantinya akan dikenang?” Bukannya menerima tawaran dengan baik, Jahad malah tertawa lepas seolah itu lucu. “Jangan bercanda! Aku tak mau menjadi alat seperti itu! Memang apa untungnya bagiku jika dikenang? Mau dunia hancur atau tidak, itu bukanlah urusanku!”


Mendengar jawaban Jahad, Vord tampak acuh tak acuh saja. Ia tak mau peduli pada pertakaan tersebut.


“Baiklah, itu artinya kau adalah orang yang mementingkan diri sendiri.” Vord memasukkan kedua tangan dalam saku celana. “Lalu apa untungnya menyerang Sun dan kelompoknya?”


“Hanya urusan pribadi. Dan, mereka sebenarnya bukan incaran, tetapi terseret dengan sendirinya karena seseorang.”


“Baiklah, cukup sampai di sini saja negosiasi kita.” Akhirnya kesimpulan didapatkan. Vord mengembuskan napas berat sambil menatap lurus ke depan.


“Aku setuju.” Tiba-tiba Jahad mengeluarkan sebuah wadah kecil berisikan pil obat berwarna biru. Dia menelan salah satu dari pil tersebut, lalu dia terbatuk beberapa kali hingga memuntahkan darah. “Kesempatan bertarung dengan pelahap energi tingkat 1 sepertimu adalah hal langka. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.”


“Apa? Kekuatannya jauh berbeda dari sebelumnya?” Vord sadar jikalau saat ini ia harus serius. “Kukira lima belas persen akan cukup. Tapi nampaknya tidak ....” Sekarang Vord mulai serius dengan menambahkan kekuatan.


Vord mendadak merasakan suatu aura. Secepat mungkian ia berbalik. Tangan kanannya berbenturan langsung dengan pedang biru yang tiba-tiba menjadi senjata Jahad.

__ADS_1


Jahad lagi-lagi terdorong ke belakang. Akan tetapi, tanpa jeda sedetik pun dia sudah berada di atas Vord dan mengayunkan pedang secara vertikal.


__ADS_2