
Bebatuan kecil dan debu berjatuhan di atas tubuhku. Aku lantas menggeser badan ke samping, berusaha keras untuk kembali berdiri. Setelah akhirnya diriku dapat berdiri tegak, tanah lagi-lagi bergetar, membuatku hampir kehilangan keseimbangan.
Di dalam terowongan gelap ini, kepalaku begitu pusing hingga membuatku menyangganya menggunakan kedua tangan. Dengan napas terengah, kulangkahkan kaki perlahan menuju ke depan. Namun, beberapa langkah setelahnya, aku tiba-tiba menabrak dinding sampai jatuh terbaring ke tanah.
Sekujur tubuhku terasa sakit serta lelah. Pikiranku sangat kacau, detak jantung meningkat drastis, ketakutan kini mengisi lubuk hati. Walau tidak ada harapan bagiku untuk selamat, tetap saja aku berdiri, berjalan tanpa tahu arah.
“Ellise! Wolf! Di mana kalian?” Tanpa sadar aku menyebutkan dua nama orang yang pernah kukenal itu.
Pandanganku berkabut dan berputar-putar. Kaki pun sudah tak dapat kukendalikan dengan baik sebab kepala sangat pusing. Dalam keadaan tak berdaya itu, sekujur tubuhku melemas lalu akhirnya jatuh tersungkur ke tanah.
***
Sementara itu, di tempat lain, beberapa saat sebelum Leon terjebak dalam terowongan, Mischievous Neophyte atau sering disebut Mischie tengah duduk seorang diri di bawah sebuah pohon besar karena tidak mendapat kelompok. Bisa dikatakan kalau dia adalah orang yang terlupakan sejak berada di gua beberapa waktu lalu. Dia hanya duduk diam, memandangi langit cerah tanpa ada niat untuk beranjak dari sana.
“Sudah kuduga, menyendiri itu sangat menenangkan,” gumam Mischie sembari merilekskan sekujur tubuh. “Hm, apakah aku tinggalkan saja semua ini dan mulai hidup seorang diri di sini?” Mischie berpikir sejenak, mencari jawaban atas pertanyaannya. “Ah tidak, bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka begitu saja hanya untuk kepentingan pribadiku.”
Membulatkan tekad dan menetapkan pilihan, Mischie bangkit berdiri lalu mulai berkeliling mencari buah-buahan segar. Saat itu terdapat sebatang pohon apel yang tidak terlalu tinggi dan berbuah sangat lebat. Melihat itu, Mischie langsung menjulurkan tangannya pada salah satu dahan pohon tersebut, mengambil buah apel berwarna merah di sana.
Tanpa menyia-nyiakan waktu, Mischie langsung megunyah apel yang diambilnya. Seketika, kesegaran buah apel tersebut menyebar di dalam mulutnya. Sudah kuduga, buah segar memang yang terbaik, pikir Mischie sembari terus mengunyah.
__ADS_1
Tak puas hanya dengan sebuah apel, Mischie kini mengambil lagi buah di depannya lalu kembali mengunyah.
Setelah makan begitu banyak apel, Mischie akhirnya kekenyangan, membuat perutnya kembung akibat kandungan air di dalam buah apel tersebut. Sambil menepuk-nepuk perut yang sudah terisi penuh, Mischie melanjutkan perjalanannya berkeliling tanpa arah.
Kini ia berada tepat di depan sebuah batu besar yang menjulang bagaikan sebuah bukit kecil dengan ketinggian sekitar 6 meter. Ia menatap diam ke arah batu tersebut selama beberapa detik, lalu mulai naik ke atasnya.
Bersusah payah mendaki, Mischie hingga saat ini belum juga dapat mencapai ke puncak. “Sial, padahal ini musim gugur, tetapi kenapa sangat susah untuk dapat mencapai puncak batu besar ini?” Mischie menjadi sedikit kesal.
Masih belum mau menyerah, Mischie menempelkan kaki kanannya ke atas batu, lalu menempelkan kedua tangannya sedikit di atas kakinya. Bergerak secepat kilat, Mishie langsung berlari mendaki batu itu. Namun, lagi-lagi kakinya tergelincir hingga membuat ia kembali jatuh ke tanah.
“Sial, kenapa susah sekali mencapai puncak batu ini.” Mischie melampiaskan seluruh kekesalannya dengan terus memaki batu besar di depannya. Meskipun demikian, ia masih terus mencoba berulang kali untuk mencapai puncak dari batu itu.
“Brengsek!” Sembari bangkit berdiri, Mischie berteriak sekencang mungkin.
Frustasi dengan apa yang baru saja dilaminya, Mischie berjalan pergi dengan keadaan kesal sampai membuatnya tidak berhenti komat-kamit sepanjang perjalanan. Sialan, apa-apaan sih hutan ini? Kenapa aku selalu saja mendapatkan musibah di sini? pikir Mischie, membuang rasa kesalnya.
Hujatan demi hujatan terlontar dari mulutnya, sebab tidak puas hanya berucap dalam hati. Namun, semua itu sia-sia, karena tidak ada seorang pun yang mau menggubris ucapannya.
“Ah, sudahlah.” Ia akhirnya mulai mau menerima kenyataan pahit. “Tenggorokanku kering. Sebaiknya aku mencari minum.”
__ADS_1
Seusai berkata demikian, Mischie berjalan ke sana kemari sambil melihat sisi kiri dan kanan untuk mencari sungai. Di tengah terik matahari menyengat ini, Mischie yang sedari tadi mencari sungai, tak kunjung juga menemukan apa yang dicarinya. Dengan air mata bercucuran membasahi pipi, Mischie kembali berucap, “Hu ... hu ... tega sekali dewa melihatku seperti ini.”
Begitu frustasi akan keadaan, Mischie kini hanya berjalan lurus ke depan tanpa memperhatikan sekitar. Lalu, tiba-tiba saja kakinya terpeleset dan jatuh ke sungai yang di ujungnya terdapat sebuah air terjun. Tubuhnya sekarang sudah basah kuyup setelah keluar dari dalam sungai dengan wajah jengkel.
“Dewa sialan! Berani sekali kau mempermainkanku!” seru Mischie dengan lantang. Dia sangat tidak bersyukur ketika diberikan air yang banyak untuk membasahi tenggorokan keringnya.
Ketika Mischie memalingkan pandangan ke seberang sungai, matanya langsung terbelalak dengan lebar. Bagaimana mungkin tidak, karena saat ini ia sedang melihat seekor singa besar di seberang sana. Walaupun kaku, Mischie mengangkat tangan kanannya, melambai ke arah singa itu. “Halo!”
“Groar!”
“Tidak!” Hanya dengan sebuah raungan pelang dari sang singa, Mischie langsung berlari tunggang langgang menerobos segala medan hingga akhirnya tersandung sebuah batu dan berguling hingga sampai ke depan sebuah terowongan. “Aa ....” Dalam sekejap, burung-burung kecil langsung berputar mengitari kepalanya.
Mischie menggeleng-gelengkan kepalanya yang pusing sambil berdiri. Tanah rata dirasa bergoyang dan bergelombang olehnya. “Si ... al ....” Mischie berusaha menahan rasa pusingnya.
Sebelum Mischie sempat menghilangkan sakit kepalanya, tanah tiba-tiba bergetar hebat dan sebuah teriakan terdengar oleh telinganya. “Lize?” ucap Mischie sambil melirik ke sekitar untuk mencari pemilik suara tersebut.
“Lize! Leon!” Mischie berseru sembari terus berlarian masuk ke dalam terowongan yang amat gelap. Kepalanya kembali pusing karena matanya tidak dapat melihat apa-apa selain warna hitam pekat.
“Brengsek!” Sebuah teriakan yang sangat keras menggema di dalam terowongan hingga sampai di telinga Mischie.
__ADS_1
“Leon?” kata Mischie yang lantas berjalan mencari sumber suara tersebut.