The Dark Slayer

The Dark Slayer
Side Story : Mimpi atau Kenyataan 1


__ADS_3

[Sebagai catatan, ini bukan lanjutan, melainkan kisah sampingan sebelum novel ini tamat. Atau bisa dikatakan kalau chapter ini berisikan episode ova jika dalam anime. Silakan kalian skip jika gak mau baca, saya tidak memaksa agar membacanya.]


***


Aku melihat ke bawah, air terlihat begitu jernih di sana seolah tak pernah tercemar oleh sesuatu hal. Kembali berdiri tegak, mataku menerawang area sekitar, sangat jelas kalau tempat ini sepi, tidak ada hal apa pun selain pepohonan, danau, dan padang rumput.


Kepalaku tengadah, menatap cerahnya langit biru di atas sana pada siang hari ini. Angin berembus kencang, menghantarkan kesejukan yang membuat tenang. Seolah hendak meraih sesuatu, tangan kananku terulur ke atas selama beberapa saat.


Semuanya berlalu begitu saja, aku menarik kembali tanganku lalu mulai menunduk lagi. "Airnya sangat jernih, tetapi apakah ada sesuatu hal istimewa di sini?"


Sesaat aku terdiam mengamati riak air kecil di danau ini. Ya, itu bukan penomena aneh, sebab bisa saja akan ada ikan yang tinggal di sini.


Namun, entah bagaimana diriku tertarik masuk ke dalam sana. Dan, tarikan tersebut begitu kuat hingga hampir tidak bisa kutolak.


Ini aneh, kenapa dari sini aku dapat merasakan semacam tarikan dari sana? Apakah ada hal istimewa di dasar danau ini?


Tidak ada jaminan kalau dugaanku benar, itu artinya aku memang harus memastikannya sendiri. Akan tetapi, semisal aku sudah di sana, bisakah diriku keluar lagi? Kalau memang harus terjebak lagi, lebih baik menyerah dari sekarang saja.


Sejenak kuhela napas berat kemudian duduk bersila pada padang rumput kering. Meskipun berdekatan dengan danau, area padang rumput ini tidaklah lembab, mungkin disebabkan oleh musim panas.

__ADS_1


Pikiranku kini mulai melayang, mengenang kembali bagaimana aku kehilangan teman-teman berhargaku. Korban pertama adalah Wolf dan Ellise, lalu yang kedua adalah Mischie, Rias, dan Lize. Ternyata takdir sangat kejam padaku.


Mataku tertutup, sejuknya semilir angin masih dapat terasa olehku meski tidak melakukan apa pun. Perlahan aku membuka mata, cahaya terang matahari sejenak membuatku silau, tetapi kemudian tak lagi begitu.


"Betapa kejam kenyataan menyiksaku, sebanyak apa lagi aku harus menderita?" Ingin rasanya aku menangis, meminta pertolongan pada orang kuat untuk bertahan hidup. "Sepertinya, satu-satunya penebusan dosaku adalah memecahkan misteri hutan ini kemudian keluar hidup-hidup demi mencari arti kehadiranku."


Aku berdiri, sekali lagi kutatap riak air danau sambil menikmati semilir angin. Segera kuambil senapan panjang di punggungku lalu kuarahkan ke depan, di mana tidak ada apa pun selain pepohonan dan danau.


Tiba-tiba, riak air tadi semakin banyak, kakiku secara tidak sadar langsung mundur beberapa langkah. Bola mataku terbelalak lebar, menatap mahkluk besar di depan sana.


Tubuhnya tinggi juga lebar, lalu dia mempunyai 9 buah kepala naga. "Gawat, mungkinkah mahkluk ini penjaga danau? Tapi, mana mungkin danau kosong dan tidak berguna ini dijaga olehnya."


Dari langit mendadak muncul sesuatu. Namun, aku tidak tahu apa itu. Ketika mengalihkan pandangan ke arah monster besar tadi, bergegas aku mundur.


"Aduh!" Aku terbentur pada sesuatu, tetapi aku tidak dapat melihatnya. "Sebenarnya apa ini?" Kucoba berkali-kali memukul sesuatu tak terlihat di hadapanku. Tampaknya ini adalah sebuah penghalang, apakah dari sihir? Aku tidak dapat percaya kalau sihir benar-benar ada.


Aku berlari, menyusuri tempat yang kuanggap sebagai sisi lain pelindung tak terlihat. Padahal di depan sana terdapat pepohonan agar aku bisa bersembunyi, tetapi sekarang diriku malah terjebak dalam pelindung tepat di depan monster besar.


"Sial! Apa yang harus kulakukan sekarang?" Situasi semakin menegangkan saat ini. Monster besar tadi sepertinya sudah menyadari kehadiranku dan hendak menyerang.

__ADS_1


Berlari terus sekuat tenaga, kini aku kembali terpelanting ke belakang selepas menabrak dinding tak terlihat. Ini menyebalkan, segera aku bangkit dan berbelok ke arah kiri, menyusuri sisi dinding transparan.


Napasku kian terengah, laju lariku juga melambat seiring berjalannya waktu. Keringat membasuh habis tubuh, dan monster berkepala sembilan tadi mendekatiku perlahan.


Tidak bisa seperti ini terus, aku harus membalas. Senapan kuarahkan kepada monster, tekadku sudah bulat agar bisa terus bertahan hidup di hutan misterius ini.


Beberapa kali suara tembakan menggema, peluru-peluru dari senapanku langsung melesat pada sang monster besar di sana. Aku melompat, membidik dengan hati-hati lalu menembak.


Seberapa kali pun aku mencoba, semuanya terasa sia-sia saja. Tembakanku tidak mempan, dan malah hanya membuat sang monster bertambah kesal.


"Sial!" Mendarat di tanah, kuisi kembali peluru ke dalam senapan kemudian berlari.


Akan tetapi, sesuatu mengerikan terjadi. Salah satu kepala hewan itu terbuka, dari sana muncul sekumpulan cahaya yang membentuk api. Dia mengarahkan mulut berapinya padaku. "Gawat!" Kucoba untuk terus melangkah demi menghindari serangannya.


Terlambat, semburan api langsung melesat ke arahku. Jika api tersebut mengenaiku, sudah pasti aku akan menjadi abu.


Walaupun tak berpengaruh, kusilangkan senapan panjang di tanganku ke samping, tepat di hadapan monster itu. Andai kata ada keberuntungan, mungkin nanti aku dapat selamat. Kalau tidak, cukup hanya sampai di sini perjalananku.


Semuanya mendadak gelap, mataku tertutup, tak kuasa melihat kelanjutan takdir. Jika memang hari ini aku mati, maka sudahlah, aku tidak peduli lagi.

__ADS_1


__ADS_2