
Dalam keremangan hutan, mereka berempat mulai menyusun rencana. Beruntung, para penjaga yang melindungi rumah tua tempat Klan Kelinci bernaung, tak menyadari kehadiran mereka. Namun, beberapa saat kemudian, salah satu dari para penjaga tersebut, menyadari kehadiran Andrew dan kelompoknya.
“Hei! Sepertinya ada yang tidak beres dengan semak-semak itu.” Salah seorang penjaga berseragam hitam seperti yang lainnya, menunjuk ke arah semak-semak tempat Andrew dan kelompknya berada.
Perlahan, lima orang penjaga berjalan mendekat. Akan tetapi, walaupun Andrew mengetahui hal itu, dia masih dengan santai melirik ke arah para penjaga tersebut. “Mungkin sekarang saatnya kita menjalankan rencana kita.”
Kaiser, Zanik, dan Scof langsung berpencar menjauh dari Andrew. Sementara Andrew sekali lagi mengeluarkan mutiara energi yang ada di saku celananya. Meskipun terlihat sangat keras, tetapi pemuda itu yakin kalau dia pasti dapat memecahkan mutiara tersebut.
Andrew tersenyum, jari-jari tangannya menghitam karena pergantian kulit. Ia meletakkan mutiara energi di telapak tangan kanannya, lalu menyatukan kedua telapak tangan untuk meremukkan mutiara tersebut. Kini, mutiara energi telah hancur. Andrew mengumpulkan pecahan mutiara tersebut di telapak tangan kirinya, lalu menggores luka di lengan kiri menggunakan kuku tajamnya. Kemudian ia meneteskan darah itu ke pecahan mutiara.
Bau darah yang sangat menyengat, mengisi lubang hidungnya. Namun, tak sedikit pun ia terganggu karenanya. Lalu, ia melemparkan pecahan mutiara yang berbau tajam tersebut ke arah para penjaga.
“Siapa di sana?” Sontak para penjaga tadi berlarian ke arah Andrew.
Andrew langsung mundur, ia kembali dalam mode normal, tidak lagi menggunakan perubahan wujud. Tak lama, begitu banyak tembakan dilancarkan oleh para penjaga kepadanya, tetapi dia dapat menghindar dengan mudah, dan pergi dengan cepat.
Kemampuan fisik Andrew tidak dapat diremehkan. Meskipun ia tidak menggunakan perubahan wujud, dia dapat dengan mudah melawan beberapa musuhnya hanya dengan bersenjatan dua buah pistol. Tentu, kemampuan ini didapat dari latihan keras selama setahun penuh dari awal dia terbangun di hutan misterius ini. Awalnya ia takut, tetapi lama-lama jadi terbiasa dan akhirnya menjadi brutal karena hukum rimba yang berlaku.
__ADS_1
“Haha, orang-orang bodoh itu pasti akan kelelahan dengan sendirinya menghadapiku.” Andrew masih tetap berlari dengan kecepatan penuh, walaupun di belakang banyak sekali orang yang mengejarnya sambil menembak. “Selain itu ... aku tidak yakin mereka dapat mengalahkan pasukan dadakan yang aku buat.”
Sambil menyeringai senang, Andrew berbelok ke samping kanan, lalu semakin mempercepat langkah.
“Itu dia!” Para penjaga langsung melancarkan serangan kepada Andrew. Bunyi tembakan terus terngiang di telinga, tetapi Andrew memanfaatkan gerak refleksnya untuk terus menghindar dari serangan para penjaga itu.
Tak lama, para penjaga tadi dikejutkan oleh suara ledakan yang ada di belakang mereka. Dengan cepat mereka menghentikan serangan dan berbalik arah. Terlihat asap yang membumbung tinggi dari rumah tua yang menjadi markas mereka.
“Sialan. Pertempuran ini telah dimulai.” Salah seorang penjaga langsung bergegas kembali, diikuti oleh para penjaga yang lain. Namun, dua orang penjaga diperintahkan untuk menangkap Andrew.
“Ya Tuhan. Apa ini?” Kedua penjaga tadi dengan sembarangan menembaki para zombie yang semakin mendekat. Namun, bukannya menjauh, para zombie itu malah semakin mendekat.
Asal kalian tahu saja, indra pendengaran dan penciuman para zombie itu masih aktif. Namun, karena mereka tidak memiliki akal, maka secara tidak langsung mereka hanya mengandalkan insting. Andrew menghela napas, wajahnya kini datar kembali karena merasa bosan. “Menggunakan dua buah mutiara energi untuk membimbing mereka ke sini ternyata cukup efektif. Walaupun sangat menguras tenaga.”
Para zombie tadi masih terus berjalan lurus ke arah markas Klan Kelinci. Mereka tidak mau tahu apa yang ada di depan mereka. Karena mahkluk itu bergerak menuju sumber kegaduhan yang dibuat oleh tiga orang rekan Andrew.
Markas Klan Kelinci rata dengan tanah akibat granat yang dilemparkan oleh tiga orang yang berasal dari Klan Naga. Murka sebab tempat bernaungnya dihancurkan, ketua Klan Kelinci berubah wujud menjadi seekor mahkluk yang berbeda dari manusia. Tubuhnya kekar tertutup oleh bulu tebal berwarna jingga. Sembilan ekor panjang juga muncul, membuatnya tampak seperti seekor siluman rubah.
__ADS_1
“Sepertinya, Klan Kelinci hanya sebuah nama yang diberikan secara acak.” Zanik bergegas pergi sejauh mungkin menuju ke dalam hutan setelah melemparkan beberapa granat. “Tidak ada ciri khas tersendiri dari sebuah Klan yang dibentuk di hutan ini. Menyebalkan!”
Tiba-tiba, ketua Klan Kelinci yang telah berubah menjadi siluman rubah, langsung berlari ke arah Zanik. Dia berlari dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya mampu mencapai pemuda tersebut.
“Sialan!” Dengan penuh amarah, Zanik menembakkan pistolnya kepada siluman rubah itu.
Para penjaga sedang disibukkan oleh kawanan zombie yang berdatangan, membuat Kaiser dan Scof berhasil menghindar dengan berlari ke dalam hutan. Sedangkan, nasib sial kini menimpa Zanik seorang, ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi mahkluk yang ada di hadapannya sekarang.
Suara tembakan terus menggema di dalam hutan, para zombie semakin berkurang karena serangan beruntun yang dilancarkan oleh Klan Kelinci. Selain itu, banyak anggota Klan Kelinci yang juga berubah wujud menjadi sosok hitam, yang merupakan perubahan wujud paling lemah di antara yang lainnya.
Meskipun demikian, permasalahan yang dihadapi oleh Zanik belum juga terselesaikan. Pemuda itu terus memutar otak untuk mencari cara mengalahkan siluman rubah, tetapi dengan tetap merahasiakan kemampuan aslinya. Sial, seandainya aku mempunyai sebuah cara, ini pasti akan mudah untuk dilalui. Tapi, bagaimana?
Sementara Zanik terjebak dalam kebingungan, siluman rubah tadi mengembangkan sembilan ekornya. Di antara celah antar dua ekornya, terbentuk sebuah bulatan hitam kecil.
“Gawat! Itu adalah kumpulan energi.” Zanik menjadi semakin panik. Ia langsung berbalik dan berlari, tetapi sebuah bulatan kecil dari siluman rubah, meluncur dan meledak di sebelah pemuda tersebut.
Dia terpelanting ke samping kanan, tangannya ia silangkan di depan wajah agar mukanya tidak terluka. Tak lama berselang, satu bulatan lain meluncur lagi. Zanik pun berguling tanpa sempat menghela napas, agar dapat selamat.
__ADS_1
“Mahkluk sialan.” Amarah memenuhi hati Zanik, ia sudah tidak tahan akan semua ini. “Akan kutunjukkan padamu, kalau kau hanyalah mahkluk hina yang tidak pantas menjadi lawanku.” Pandangan Zanik terarah pada siluman rubah. Pemuda itu berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya.
Dari atas pohon, tampak Andrew yang tertarik dengan apa yang hendak dilakukan Zanik. “Ini menarik,” gumamnya, “Sudah kuduga kalau dia pasti menyimpan sebuah rahasia. Dan rencanaku untuk mengungkap rahasia itu, berjalan dengan mulus.”