
Sebelum penyerangan kota Heels dimulai, tampak 3 orang pria tengah berdiri menghadap ke arah singgasana. Di singgasana tersebut, terlihat sosok besar dengan jubah merah dan mahkota berwarna silver.
Salah satu dari tiga pria tersebut, Night yang berada di tengah terus menutup mulut selama beberapa waktu. Sementara dua orang lainnya juga demikian. Hal ini membuat ruangan semakin sunyi serta meningkatkan tekanan di dalamnya.
"Jadi ... kalian kabur setelah melihat Pelahap Energi tingkat 1 itu?" tanya sosok besar di atas singgasana.
"Maafkan kami, Tuan. Kami tahu kalau kekuatannya berbeda begitu jauh dari kami...." Dengan gemetaran, Night mencoba untuk menjelaskan situasi.
Sosok besar di atas singgasana pun perlahan turun ke bawah. Ketika dia berjalan, tekanan yang dirasakan oleh Night dan dua orang di sebelahnya meningkat pesat.
"Sejak kapan aku mengajari kalian menjadi pengecut?" Sosok besar tadi lantas menjadi kurus, cakarnya begitu panjang, dan matanya mengeluarkan cahaya berwarna merah.
"Tu ... tuan Dish, mengertilah, jika kami bertarung, kami pasti akan mati!" Kali ini, pemuda di sebelah Night mengambil alih peran Night. Dia adalah Jahad.
"Jahad, ini merupakan kedua kalinya kau dan Prison gagal dalam menjalankan misi. Aku tak tahu, apakah pantas memberikanmu kesempatan terakhir...."
"Meskipun Anda menghabisi kami. Anda tetap takkan mendapatkan apa-apa. Itu hanyalah tindakan percuma." Jahad hendak membantah.
"Baiklah, aku akan memberi kalian kesempatan. Setidaknya buktikan padaku bahwa kalian yang pernah keselamatan, memang pantas untuk melayaniku." Sosok dengan cakar panjang tersebut berbalik, kembali duduk di atas singgasana. "Atau aku akan meledakkan mantra peledak di dalam tubuh kalian."
Night memalingkan pandangan ke arah Jahad dan Prison. Mereka berdua terlihat mengeluarkan keringat dingin dan gemetar. Namun, kondisi Night juga sama.
"Dan Night." Tiba-tiba sosok di atas singgasana tadi mengalihkan perhatian. "Jika kau gagal, maka aku tak punya alasan lagi membiarkannya hidup...."
Seketika Night tersentak mendegar pernyataan sosok itu. Kali ini ia hanya bisa menelan ludah serta berharap tidak akan gagal lagi dalam menjalankan misi.
"Baik, Tuan Dish sang Tan terkuat!" Penuh wibawa, Night memukul dadanya sendiri.
"Bagus...." Dish yang disebut Tan terkuat lantas mengangkat mahkotanya untuk sesaat. "Ingatlah, bahwa kegagalan kalian tidak dapat kuterima. Sekarang, pergi!"
***
Vord mengepal erat kedua tangan, tatapan matanya tajam menatap pria yang ada di atas sana. Giginya gemeretak, begitu ingin menghabisi lawannya sekarang tanpa belas kasihan.
"Night...." Aura berwarna abu-abu menyelimuti sekujur tubuh Vord dan makhluk abu-abu di punggungnya kian membesar. "Kali ini aku takkan pernah membiarkanmu lolos begitu saja!"
__ADS_1
"Hei, hei! Jangan lupakan kami."
Sontak Vord berpaling ke sumber suara. Di sana terlihat Jahad mengeluarkan Pedang Blue Sky miliknya. Bukan hanya itu, di arah berbeda ada Prison telah berubah wujud menjadi seekor sosok hitam dengan cakar panjang.
Angin berembus, menerbangkan debu ke udara. Vord menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan-lahan. Ia kini berhasil memenangkan diri untuk sementara.
"Kalian bertiga ingin melawanku? Bukankah itu curang? Ini sama seperti aku tengah berhadapan dengan maut, kau tahu?" Ingin rasanya Vord tertawa, tetapi ia sadar kalau ini bukanlah waktunya.
"Haha, akhirnya kau paham bahwa dirimu sudah berada di gerbang kematian." Jahad menebaskan pedangnya beberapa kali tanpa mengenai apa pun.
"Yeah, yeah, yeah. Mungkin kau benar. Dan, kau tahu? Aku takkan mau mati sia-sia...."
"Apakah kau ingin melakukan perlawanan? Kuharap kau tidak membuat dirimu sendiri menyesal."
"Menyesal? Kau salah besar. Kalianlah yang akan menyesal berurusan denganku!" Walaupun sekejap, dapat terlihat bola mata Vord memancarkan kilatan berwarna merah.
"Dia tidak sendiri!" Dari arah belakang, muncul begitu banyak Pelahap Energi. Di antara mereka, Starla langsung berdiri di sebelah kanan Vord.
"Kenapa kalian kembali? Mengungsilah di Shelter bawah tanah!" Sepertinya Vord menolak untuk menerima tekad mereka semua.
"Baiklah! Jika ini pilihan kalian, maka bersiaplah untuk menyerahkan nyawa! Lindungi semua penduduk, jangan biarkan mereka mati!"
Mendadak tanah bergetar hebat, kawanan Tan tersebut lantas berhenti mendekat.
Vord dan kelompoknya berusaha menyeimbangkan diri, lalu tak lama getaran tersebut berhenti. Pijakan Vord sudah terlihat retak, dan retakan tersebut kian meluas saat aura abu-abunya meningkat.
"Starla, bisakah kau berhadapan dengan sosok hitam di sebelah sana?" Vord berbisik pada Starla.
Starla menoleh, mengamati sesaat makhluk yang dimaksud oleh Vord. Tak lama dia menganggukkan kepala. "Serahkan saja padaku. Dia tidak akan lolos dari petir hitam-ku."
"Baiklah, tolong. Dan, jangan memaksakan diri. Ketika sudah mencapai batas, pergilah sejauh mungkin dari sini...."
Mendengar kalimat tersebut, Starla menggelengkan kepala. "Aku akan tetap bersamamu. Sampai akhir, Tuan Hasle."
"Rasanya selama ini aku memperkenalkan diriku Vord saja. Selain Pelahap Energi tingkat 1, hanya satu orang yang kuberitahu nama itu."
__ADS_1
"Aku senang kau mengingatku."
"Tidak kusangka gadis lemah yang kuselamatkan dari para Chimera waktu itu menjadi sangat kuat."
"Hehe, ini demi melampauimu."
"Kalau begitu, tunjukan padaku!"
Dalam sekejap, Vord melesat ke atas, hendak menyerang Night. Akan tetapi, para Tan kembali bergerak, dan Jahad juga sudah melesat mengejar dirinya.
"Hia!" Sosok besar berwarna abu-abu di punggung Vord memisahkan diri. Sosok tersebut segera berhadapan dengan Jahad yang hendak menyerang Vord dari belakang.
Vord masih dilingkupi aura abu-abu. Menggunakan satu pukulan keras ia menyerang Night dari depan. Namun, Night melancarkan serangan bola api hitam berturut-turut. Membuat Vord harus menahan serangan tersebut.
"Bodoh! Kau akan melihat kotamu hancur tepat di atas sini!" Night membuat sebuah kurugan api hitam yang melayang, mengurung Vord layaknya seekor burung.
"Kaupikir aku hanya akan diam, hah?" Vord mengeluarkan Pedang Zero-nya, memotong kurungan api Night begitu mudah. "Aku pasti membuatmu menyesal hari ini!"
"Heeh?" Sebuah senyum licik mengambang di wajah Night. "Peringkatku bahkan satu tingkat di atasmu, tetapi kau berani menantangku? Kali ini, tidak ada lagi keraguan dalam diriku untuk menghabisimu."
"Harusnya kau sudah menghabisiku dari lama kalau kau memang kuat. Tapi, kau bahkan memiliki kemampuan yang bisa dikatakan setara atau bahkan lebih buruk dariku...."
***
Di bawah sana, para Pelahap Energi berkumpul di batas pelindung kota. Mereka hanya menyerang Chimera, sebab tahu kalau takkan mungkin untuk mengalahkan Tan. Namun, mereka juga menyerang para Tan menggunakan serangan jarak jauh.
Sementara di sisi lain, Starla bertarung dengan kecepatan kilat dengan Prison. Kekuatan fisik keduanya hampir sama, dan untung saja Starla memakai Pedang Sisik Hitam sehingga mampu mengimbangi Prison.
Starla dan Prison mundur sangat jauh. Petir berwarna hitam tampak menyelimuti tubuh Starla beserta pedangnya.
Orang ini kuat, pikir Starla. Dia bahkan mampu menandingiku yang merupakan Pelahap Energi tingkat 2 terkuat, atau seorang calon Pelahap Energi tingkat 1 peringkat 21.
***
__ADS_1