
Sun mematung kaku, tidak mampu menggerakkan tubuh karena serangan mendadak yang terarah padanya. Dia hanya bisa menunggu, seolah memang itulah takdirnya. Namun, kenyataan berkata lain, tepat sebelum tinjuan Jahad menghantam wajah Sun, Ni sudah berdiri di depan Sun menahan pukulan tersebut.
Gelombang angin menerbangkan debu, Sun melompat ke belakang bersama Ni. Napas pemuda itu begitu terengah, sangat berbeda dari Ni.
Sasa langsung mendekati Sun karena khawatir. “Sun, kau tak apa?”
“Ya, aku baik-baik saja ....” Sun masih terkejut melihat semua ini. Jika saja Ni tidak menghadang serangan Jahad, mungkin sekarang dirinya telah tiada.
“Orang ini bukanlah tandingan kalian, biar aku bereskan dia.” Dengan penuh percaya diri, Ni melangkahkah kakinya ke depan.
“Oh, seorang anak kecil ingin melawanku?” Jahad tetap bersikap tenang sembari mendorong kacamatanya. “Aku tak suka jika harus melawan anak kecil, tapi sepertinya hanya kau yang bisa menghiburku.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Jahad pun membuat kuda-kuda untuk menyerang.
Ni masih tak gentar. Cahaya di sekujur tubuhnya kian terang dan muncul kekuatan di tubuhnya yang menjilat-jilat bagai api. “Sasa, bawa Sun pergi dari sini. Aku harus melawannya seorang diri.”
Sebenarnya Sasa hendak menolak, tetapi melihat keadaan membuatnya sadar kalau dia dan Sun hanya akan menjadi beban. Walau enggan, Sasa mengangguk lalu menarik Sun pergi menjauh. “Ayo ....”
“Tapi ....” Sun ingin tetap tinggal membantu Ni. Akan tetapi, Ni menoleh tanpa ekspresi kepadanya hingga membuat pemuda itu tak kuasa membantah.
Jahad dan Ni bergeming, saling tatap satu sama lain untuk mencari celah. Detik demi detik berlalu, angin malam berembus menerpa tubuh mereka, menghantarkan suhu dingin. Sorot mata keduanya begitu tajam, meskipun sedang tidak bergerak, mereka memancarkan aura pertarungan yang sengit.
“Kuharap kau tidak menangis karena ketakutan, bocah ...,” ucap Jahad.
Dalam sekejap mata, Jahad menghilang dari pandangan. Ni bersiap sedia, tanpa suara sedikit pun, tiba-tiba muncul bayangan monster besar di hadapannya.
Ni melompat ke belakang sejauh mungkin kemudian melancarkan pukulan dengan tangan kanan. Dentuman besar terjadi, debu berterbangan menutup penglihatan.
Mendadak, gumpalan debu terbelah menjadi dua, sinar berwarna kuning melesat cepat ke arah Jahad. Pria itu lantas menyilangkan kedua tangan ke depan. Cahaya kuning yang menyerangnya seketika terbelah.
Bagai sebuah kilatan cahaya, Ni muncul di belakang Jahad lalu melancarkan pukulan lainnya. Kali ini Jahad tidak dapat berbuat apa-apa. Serangan kuat menghantam punggungnya tanpa perlindungan.
__ADS_1
Ni melesat mundur, tetapi hal mengejutkan terjadi. Jahad melesat dengan cepat dan menghantam perut Ni menggunakan tangan kanan. Darah tersembur dari mulut Ni, dan dia pun melayang ke udara setelah menerima serangan musuh.
Masih belum menunjukkan tanda menyerah. Ni mendarat di tanah sambil menyilangkan kedua tangan ke depan membentuk perisai. Tiba-tiba bayangan monster besar muncul lagi di hadapannya, tetapi kali ini gadis itu menerima pukulan dengan kedua lengannya.
Ni terpelanting berkali-kali di tanah, cahaya kuning di sekujur tubuhnya pun mulai meredup. Kondisinya saat ini begitu rapuh. Setelah menerima serangan, dia tak mampu lagi berdiri dengan benar.
Tarikan napasnya begitu berat. Dadanya sesak dan sekujur tubuh gemetar, tak kuasa menahan rasa sakit. Keningnya terluka, mulutnya berdarah, tetapi dia masih tetap gigih untuk berdiri.
Dengan aura yang lebih mengerikan, Jahad berjalan perlahan mendekati Ni. Pria itu tampak lebih tenang serta menakutkan dibanding sebelumnya.
Ni terbatuk hingga memuntahkan darah. Kekuatan yang dia gunakan sudah melebihi batas kemampuan tubuhnya, sehingga berakibat seperti ini.
“Bocah, kuakui kau memang menakjubkan. Tapi, hari ini adalah hari kematianmu.” Jahad mengepalkan tangan, bayangan monster kembali tampak di mata Ni.
“Kau ....” Ni begitu gigih untuk bertarung. Namun, saat mengeluarkan sedikit saja kekuatan, rasa sakit pada tubuhnya kian menyebar.
Tiba-tiba, dari arah belakang, api menjalar seperti jalan hendak membakar Jahad. Namun, hanya dengan satu tendangan, api tersebut berhasil dipadamkan oleh Jahad.
“Ternyata ada yang ingin mati sebelum gadis kecil ini ya?” Kali ini Jahad memancarkan aura intimidasi yang begitu kuat.
“Ugh!” Sun berusaha menahan tekanan itu, tetapi tubuhnya tidak dapat bergerak sedikit pun. “Si ... al ... an.” Dengan bermodalkan tekad, Sun perlahan melangkahkan kaki.
Di sisi lain, Jahad menatap tajam mata Sun untuk memperkuat intimidasinya. “Kau hanya akan menghancukan dirimu. Level kita tidak sebanding, lebih baik kau menyerah saja sekarang, maka aku akan membereskanmu tanpa rasa sakit.”
“Persetan dengan ucapanmu!” Api di dalam tubuh Sun semakin membara. Matanya menyala, dan dari punggungnya muncul burung phoenix yang memerikan perlindungan lebih untuknya.
Darah menetes dari mulut Sun, matanya bahkan hampir tercongkel keluar akibat kekuatan besar ini. Langkah kakinya kian berat, semakin dekat dengan Jahad membuat Sun begitu kesusahan bergerak.
Jahad mengulurkan tangan kanan ke depan. “Selamat tidur panjang.”
__ADS_1
Belum sempat Jahad melancarkan serangan, cahaya berwarna kuning seketika menghantam pria itu dari dua arah. Tekanan aura intimidasi dari Jahad langsung lenyap, di saat itu pula Sun kehabisan kekuatan dan terbaring di tanah.
Debu kembali berterbangan untuk kesekian kalinya, dalam kupalan debu tersebut Sasa dan Ni bergerak menjauh. Akan tetapi, Sun masih terkapar tak sadarkan diri karena kehabisan energi.
***
Beberapa saat sebelumnya, ketika Sasa dan Sun menjauh dari pertempuran. Sun berhenti sambil menatap pertempuran dari jarak jauh, dia sadar kalau kekuatan Ni masih belum cukup untuk mengalahkan Jahad.
“Sun?” Sasa pun berhenti berjalan dan menoleh pada Sun.
“Kita harus membantunya. Kalau tidak, maka Ni akan mati.”
“Tapi ....” Jelas sekali kalau Sasa akan menjadi bimbang.
“Jika keadaannya tidak menguntungkan bagi Ni, maka kita harus menolongnya.”
“Kau gila? Pertempuran ini kita percayakan pada Ni saja.”
“Aku pikir tidak demikian. Ni pasti akan kalah kalau dibiarkan. Saat menahan serangan Jahad yang hampir mengenaiku tadi, tangannya gemetar.”
Akhirnya Sasa menghela napas pasrah. “Baiklah.”
Lalu, ketika pertarungan dimulai, mereka berdua menyiapkan rencana. Jikalau Ni sudah tidak berdaya, Sun akan mengalihkan perhatian Jahad. Sementara Sasa segera menyelamatkan Ni lalu pergi sejauh mungkin.
Dan, sekarang, walaupun berat, Sasa meninggalkan Sun untuk menyelamatkan Ni. Akan tetapi, di lain tempat, Sun langsung merasa lega saat melihat serangan cahaya dari Ni lalu pingsan sambil senyum.
Inilah sifat asli seorang Sun. Pemuda keras kepala yang tak ingin berutang budi pada seseorang. Kalau seseorang telah menyelamatkan nyawanya sekali, maka dia akan membalasnya. Jika orang membahayakan nyawa untuk menyelamatkan dirinya, dengan senang hati Sun pasti melakukan hal serupa pada orang tersebut.
Prinsip kuat yang tertanam dalam lubuk hati terdalam Sun itu membuatnya istimewa. Meskipun kekuatannya hanya rata-rata, hanya karena sifatnya banyak orang percaya kepada Sun.
__ADS_1