
Malam hari, aku dan Darwis masih berjalan di antara bangunan sunyi sambil memperhatikan sekitar. Mataku yang sudah berevolusi jelas dapat dengan mudah melihat dalam kegelapan ini. “Sebenarnya, sudah berapa lama kita berjalan?”
“Aku tidak tahu, tetapi karena harus terus waspada dan berjalan dengan lambat, mungkin itulah kenapa waktu kita sedikit lebih lama.”
Setelahnya, kami berdua masuk ke dalam sebuah rumah tua. Tak jauh dari sini, tugu yang kami tuju telah terlihat dengan jelas. Meskipun begitu, langsung menerobos ke sana adalah tindakan orang bodoh, karena bisa saja ada musuh yang sedang mengintai. Ya, hanya sebagai tindakan pencegahan kenapa kami tak langsung menerobos masuk.
“Sepertinya, ada sesuatu yang dapat menghalangi manusia memasuki area tugu itu,” kata Andrew sembari duduk bersandar di dinding. Energinya berangsur pulih karena ia tidak menggunakannya sedari tadi.
“Aku tahu, itulah sebabnya kita di sini, menunggu pertarungan usai dan mencari kesempatan dalam kesempitan.”
“Jika saja semudah itu ....”
“Apa yang kaumaksud?”
“Duduk dan rasakanlah apa yang tengah terjadi.”
“Baiklah.” Aku pun duduk di sebelah Darwis. Kupejamkan mata, kesunyian langsung menghampiri, tetapi, beberapa saat setelahnya, sebuah suara yang terdengar seperti benturan dan ledakan, menggema di telingaku. Sontak aku membuka mata. “Suara apa itu tadi?”
“Manusia yang telah berevolusi memiliki indra yang lebih tajam dibandingkan manusia normal. Apa yang kau dengar adalah suara dari proses penghancuran hutan.”
“Itu artinya ....”
__ADS_1
“Ya, begitulah. Hutan ini semakin hancur hari demi hari hingga akhirnya tak ada yang tersisa lagi.”
Ternyata, dugaanku sebelumnya benar. Ah, sebaiknya pikirkan masalah itu nanti saja. Sekarang kami perlu waspada agar tidak diserang secara mendadak oleh musuh. Selain itu, siapa saja yang harus kami lawan sekarang, aku berharap mereka bukanlah lawan yang merepotkan.
Tiba-tiba, aku mendengar sebuah suara dari luar rumah tempat kami berada. Darwis juga menyadarinya, sehingga dia menjadi lebih waspada sambil menyiapkan pedang di tangan kanannya.
“Hati-hati,” bisiknya kepadaku.
Aku mengangguk. Cakar di tangan kiriku telah siap dengan dilapisi oleh bayangan yang aku ciptakan. Mata tak pernah berkedip memandangi sekitar. Kemudian, suara ledakan berdengung di telinga. Kami berdua langsung berdiri, lalu keluar dari rumah tua melalui jendela yang telah hancur.
Dari arah timur, terlihat asap membumbung tinggi. Jangan-jangan, apa yang kami dengar tadi adalah suara berisik yang berasal dari sana. Namun, sesuatu langsung menabrak tubuhku dari belakang. Beruntung, aku dengan refleks mengaktifkan Teknik Manipulasi Bayangan milikku sebagai tameng.
Belum sempat aku menghela napas, sebuah bola cahaya berwarna biru langsung meluncur dengan cepat ke arahku. “Hua!” Bayangan langsung menutup aku seperti telur.
Orang yang menyerangku tadi tampaknya mengenakan topeng berwarna putih. Namun, apa-apaan serangannya itu? Bukankah seharusnya energi yang diserap kristal hanya dapat dimanipulasi menjadi sesuatu yang dapat dipelajari atau setidaknya masuk akal bagi manusia, seperti api dan bayangan yang kugunakan. Ataukah, pemikiranku ini salah?
Beberapa serangan dilancarkan pada pelindungku. Aku hanya bergeming sambil memastikan pelindung yang kugunakan cukup kuat menahan serangan tersebut. Sekali lagi hantaman hampir membuatku kalah, tetapi sebisa mungkin aku menahan serangan yang diarahkan.
Sial, jika terus begini, aku akan terpojok. Ayo berpikir, bagaimana cara keluar dari masalah ini! Andaikan aku punya suatu celah saja. Kemudian, sebuah ide terbersit di kepalaku.
Segera aku memanipulasi bayangan di tanganku, lalu secara perlahan membentuk jirah pelindung dengan kemampuan tersebut. Pedang bayangan kupegang dengan tangan kiri, dan sayap langsung terbentuk di punggungku. Mendadak bayangan yang tadinya menutup aku seperti telur, mekar layaknya bunga.
__ADS_1
Aku pun keluar dari dalam bayangan dengan wujud baru. Tampak dengan jelas seseorang yang mengenakan jubah dan topeng putih, berada di hadapanku. Dia begitu tenang, seolah ini bukanlah hal yang rumit untuk ditangani. Benar, sepertinya dia sedang meremehkan aku.
“Haha, akhirnya kau keluar juga, Kecoa.”
Provokasi yang tidak berguna, mana mungkin aku mau terpancing hanya dengan kata-kata tersebut. Mungkin lebih baik kubereskan dia secepatnya, lalu mencari Darwis yang tampaknya tidak di sini, sebab sedari tadi aku tidak melihat adanya tanda-tanda kehadiran seseorang selain orang berjubah itu.
“Kenapa kamu bisa menggunakan energi seperti itu?” Pertama-tama, aku harus mengkonfirmasi kekuatannya, lalu membuat strategi berdasarkan informasi itu. Namun, mana mungkin seorang musuh mau menunjukkan kelemahannya.
“Ini hanya energi murni, bukan manipulasi.” Dengan mengayunkan satu tangannya, orang itu membentuk beberapa bola cahaya berwarna biru, kemudian menyerangku menggunakan bola tersebut.
Tak mau hanya bertahan, aku langsung menebaskan pedangku ke depan. Tampak sebuah garis hitam setengah melingkar meluncur menabrak serangan orang berjubah. Tidak cukup sampai di situ saja, serangan lain mulai bermunculan dari segala arah. Jadi, dia ingin mengepung dan mendesakku. Sayangnya itu tak akan cukup.
Beberapa bayangan muncul dari dalam tanah, menusuk bola-bola berwarna biru itu layaknya sebuah tombak. Aku sendiri tidak menyangka dapat mengendalikan kekuatanku sebaik ini dalam waktu singkat. Namun, saat ‘kuncinya’ kudapatkan, semuanya terasa lebih mudah.
Orang berjubah langsung maju ke hadapanku dengan pedang bercahaya biru. Satu serangan ia lancarkan menggunakan senjata tersebut, tetapi dapat kutahan dengan pedang bayangku. Dia melompat mundur, lalu kembali menyerang lebih cepat dari sebelumnya. Aku pun melesat ke depan, adu pedang di antara kami tak terelakkan.
Dia mundur, aku langsung memanfaatkan waktu dengan menebaskan pedangku dari kanan ke kiri secara horizontal. Namun, orang berjubah langsung melompat menghindari seranganku. Dia lantas mengangkat pedangkan ke atas, kemudian menebaskannya secara vertikal.
Aku pun membentuk kuda-kuda, menahan serangan pedangnya menggunakan pedang bayangku. Tanpa menununggu lagi, aku langsung menebaskan cakar panjang di tangan kiriku kepadanya. Akan tetapi, dia tiba-tiba didorong oleh sesuatu hingga berhasil menghindari serangan tadi.
Jarak kami sekitar sepuluh meter, sejauh ini aku masih memimpin jalannya pertarungan. Mungkin sebentar lagi dia dapat kukalahkan jika saja kemampuannya tidak aneh. Waktu bernapas lega kugunakan untuk menyerap energi supaya diri ini dapat bertahan lebih lama lagi. Setidaknya harus bisa mengalahkan orang berjubah yang ada di hadapanku sekarang.
__ADS_1
“Tidak kusangka kau akan sekuat ini, Leon ....”
A-apa? Dari mana dia tahu namaku? Apakah aku begitu terkenal di hutan ini?