The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 28 : Dunia Memang Sudah Kacau


__ADS_3

Jika teman terbaik dan orang jahat sedang dalam keadaan kritis hingga sangat membutuhkan pertolongan, siapa yang akan kalian pilih? Sudah jelas kalau kalian akan lebih memilih menyelamatkan teman, kan? Ya, kalian sama sepertiku.


Tidak peduli jika dia menjanjikan hal mewah, sedangkan teman terbaikku tidak. Aku pasti akan menyelamatkan temanku daripada dia.


“Kenapa kau tidak menyelamatkan keduanya saja, Leon?” Suara orang yang bertanya itu terasa tidak asing, tetapi aku tidak tahu siapa dia.


“Karena aku hanya mampu membatu satu orang.”


“Apa kau marah kepadanya karena menyakiti kau dan temanmu?”


“Ya, aku sangat marah. Sebentar lagi aku akan menghancurkan siapa pun yang menyakiti temanku.”


***


Entah kenapa, di saat sedang dipenuhi kemarahan, Leon teringat pada salah satu ingatan masa lalunya. Akan tetapi, ia masih belum dapat mengingat siapa orang yang berbicara padanya. Wajah orang itu hanya tampak seperti cahaya saja.


Tiba-tiba saja, Leon berada di dalam sebuah ruangan berwarna putih. Ia tidak tahu ini di mana, tetapi tepat di depannya ada sebuah tombol berwarna putih juga.


“Tuanku ....” Walau sangat pelan, Leon dapat mendengar bisikan Wolf di telinganya.


“Wolf, kau masih hidup?”


Leon dapat melihat sosok Wolf yang transparan di depannya.


“Tidak, Tuan. Aku hanyalah salah satu kenangan dalam hatimu.” Wolf lantas menyentuh dada Leon dengan lembut. “Anda dipenuhi kemarahan, itu tidak bagus untuk Anda.”


Amarah yang tadinya memuncak tak tertahan di hati Leon, seketika padam oleh kata-kata Wolf. Wolf tersenyum, kemudian menarik kembali tangannya.


“Mungkin sekarang adalah saatnya Anda menggunakan kekuatan yang terpendam dalam diri Anda, Leonal, Tuanku ....”


Cahaya pun terpancar dari dada Leon.


“Kenapa kau begitu formal padaku?” Leon masih belum mengerti juga pada semua ini.


Wolf tersenyum hangat, sosoknya perlahan memudar dari pandangan. “Karena, satu-satu Tuanku adalah Anda, Tuan Leonal yang baik hati ....”


Tangan Leon terulur, entah kenapa air matanya menetes begitu saja melihat senyuman terakhir dari Wolf.

__ADS_1


“Tetaplah pada prinsip Anda. Lakukan apa yang Anda anggap sebagai tindakan benar.” Kali ini adalah ucapan terakhir sebenarnya dari Wolf.


Tanpa Leon sadari, tangannya sudah menekan tombol putih di hadapannya tadi. Perlahan muncul sosok Sun, Sasa dan Ni yang berdiri tanpa membuka mata. Akan tetapi, dalam sekejap mata, Ni menghilang begitu saja.


Sekarang hanya tersisa Sun dan Sasa saja. Leon tak tahu harus berbuat apa, tetapi kedua tangannya secara tidak sadar telah mengenggam erat tangan mereka. Seolah memindahkan data, bagian kecil dari kekuatan di dalam tubuh Leon masuk ke dalam tubuh dua orang itu.


Dari sosok Sun, Leon dapat melihat Wolf ada di dalam dirinya. Sedangkan dalam diri Sasa ada sosok Andrew. Ini membuat Leon teringat pada masa lalu lagi dan lagi. “Kalian benar-benar memiliki banyak kejutan.”


***


Di luar sana, tubuh Leon dan teman-temannya mengambang. Ketika Jahad hendak menyerang mereka, serangannya secara otomatis terpantul kembali ke padanya.


“Astaga, sebenarnya ada apa ini?” Jahad mulai mengeluh.


Tiba-tiba saja, Jahad merasakan sebuah firasat buruk dalam dirinya. Bukan hanya ia, tetapi juga Prison di sebelahnya.


“Jahad, apakah kau juga merasakan tekanan intimidasi aneh ini?”


“Ternyata kau juga.”


Sekarang, Jahad dan Prison semakin berhati-hati. Mereka berdua bersiap terhadap situasi mengejutkan lainnya.


***


“Sial, Pak Tua itu ....” Vord segera kembali ke tempat Leon dan teman-temannya berada.


Di atas dinding ciptaannya, Vord memerhatikan dengan cepat kondisi Leon. Ini sangat mengejutkan serta aneh. Entah karena apa, firasatnya mengatakan sesuatu hendak terjadi sebentar lagi.


***


“Ada apa dengan mereka?” tanya Night ketika berdiri di sebelah Jahad.


“Aku tidak tahu, tiba-tiba saja mereka mengambang setelah terkena serangan.”


Situasi membingungkan membuat mereka bertanya-tanya. Ini semacam sebuah proses dibangkitkanya seorang pahlawan dari masa lalu. Bukan hanya itu, mereka bahkan merasa perubahan berada tepat di genggaman Leon, Sun, Sasa, dan Ni.


Secara mendadak, Ni terjatuh dari atas sana. Dengan sigap Vord menangkap gadis itu kemudian menggendongnya. Mereka semua bergeming, menanti dalam diam apa yang akan segera terjadi selanjutnya.

__ADS_1


Di atas sana, tangan Sun dan Sasa bergerak sesaat. Perlahan mereka berdua melayang dengan stabil di udara. Mata mereka terbuka, tetapi cahaya di tubuh kedua orang tersebut masih tetap bercahaya.


Sebuah jubah api lantas terpasang pada tubuh Sun. Pedang juga muncul di tangan kanannya.


Hanya dalam sekejap mata, Sun telah berada di depan Jahad dan kelompoknya sambil menebaskan pedang api. Namun, Prison sanggup menahan serangan tersebut menggunakan bayangan di belakangnya.


Sun menatap tajam pemuda itu, lalu Prison mundur sejauh mungkin karena merasakan bahaya. Sekarang, Sun telah menebaskan pedang secara vertikal pada Jahad. Tentu saja, Jahad dengan segera menahan serangan itu.


“Apa-apaan ini!” Jahad dibuat begitu kesal pada oleh situasi.


“Hia!” Langsung saja Prison melakukan serangan menggunakan kekuatan penuh pada Sun. Akan tetapi, Sun sudah menghilang lagi dari pandangan.


“Lagi-lagi kita mendapatkan kejutan.” Sesungguhnya Jahad begitu muak menerima kejutan dari kelompok ini.


“Kau pikir aku tidak ada, huh?” Dari atas, suara teriakan lantang dari Vord lantas menggema.


Pukulan Night dan Vord beradu, menciptakan efek gelombang angin yang sangat kuat. Di belakang Vord sekarang terdapat Leon dan Sasa yang masih melayang tanpa terlihat tanda-tanda akan bergerak.


Jahad kembali mengarahkan pandangan ke sekitar. Ia tidak terlalu yakin, tetapi tampaknya Sun tengah menunggu kesempatan menyerang.


“Sampai kapan kita akan bertahan? Aku sudah tak sangguh lagi!” Kekuatan Prison meluap, memperbesar sosok hitam di belakangnya. “Akan kuselesaikan dengan segera!” Mulutnya mengeluarkan asap.


“Hei, tenanglah.”


Belum sempat Jahad menengkan Prison, Prison telah menghilang dari pandangannya. Ledakan besar terjadi di belakangnya, debu berterbangan menutup indra penglihatan.


Bukan hanya di daratan yang terjadi pertarungan sengit, tetapi di udara juga demikian. Jahad hanya bisa memerhatikan tanpa bisa berbuat apa-apa.


“Hei, hei, ini sudah gila!” Frustasi terhadap keadaan, satu-satunya yang bisa dilakukan Jahad hanya berteriak. “Sialan, kalian membuatku ingin gila dengan semua ledakan ini.”


Ledakan terus menggema, kecepatan gerakan mereka yang bertarung tidak dapat terlihat oleh mata Jahad. Semuanya tampak seperti kilatan cahaya yang saling beradu kemudian berpisah lagi.


Tak lama berselang, Prison kembali berdiri di sebelah kanan Jahad. Wajah pemuda itu terlihat gembira, dan tersenyum, menikmati pertarungan walau darah menetes dari mulutnya.


“Prison ...?”


Tidak menjawab sapaan Jahad, Prison menghilang begitu saja, meninggalkan gumpalan debu. Sekali lagi ledakan menggema, sementara Jahad masih bergeming begitu saja.

__ADS_1


“Kalian semua menyebalkan!” Saking frustasinya, Jahad berseru dengan lantang.


Semua pertarungan di sekitar berhenti, di atas sana, seseorang muncul dari sebuah lingkaran berwarna hitam. “Siapa yang mengizinkan kalian membuat keributan di sini?” ucap orang itu, datar.


__ADS_2