The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 14 : Akhir Hari Bahagia


__ADS_3

Seminggu telah berlalu semenjak kejadian Leon menghabisi Tan. Sun beserta kelompoknya jelas merahasiakan ini dari publik atas permintaan dari Leon. Akan tetapi, ada satu orang yang tidak bisa dibodohi, yakni si pendiri kota, Vord.


Sesunggunya ia bisa saja membeberkan berita mengejutkan tersebut ke penjuru kota, tetapi ternyata tidak demikian. Prestasi ini ia anggap masih kurang, karena bagaimanapun Leon langsung kehabisan tenaga kala pertarungan berakhir. Di atas singgasana, Vord membolak-balikan halaman buku, mengabaikan sekitar.


Walau tampak tidak terlalu peduli pada isi buku, pria itu masih tetap membolak-balikan halamannya. Situasi jauh lebih aman sekarang, energi dari Tan membuat pelindung kota jauh lebih kuat dari sebelumnya. Selain itu, selama Vord ada di sini, musibah serius mungkin jauh lebih sedikit dari yang dibayangkan.


Vord menghela napas usai membalik habis halaman buku. Sangat jelas sedari tadi pikirannya melayang entah ke mana, bukan fokus ke isi buku. Sejenak dia memandang sekitar, ruangan luas ini tampak kosong, tidak ada seorang pun selain dirinya.


Perlahan Vord berjalan ke depan kemudian berbelok menuju jendela. Ia mengamati lingkungan di luar yang cukup gaduh karena aktivitas warga. Ya, itu disebabkan bangunan ini memang tidak memiliki halaman luas, bahkan menyatu dengan pemukiman warga itu sendiri.


Sejak awal Vord memang bukan dari keluarga terpandang. Hidupnya susah, hingga suatu hari insiden kedatangan mahkluk luar angkasa mengejutkan dunia. Dari sana jalan hidup pria ini berubah drastis, tiba-tiba saja ia memiliki kekuatan hebat setelah dijadikan kelinci percobaan.


Bohong kalau Vord mengatakan dirinya tidak kesakitan saat eksperimen tersebut. Waktu itu ia bahkan sampai muntah darah karena kesakitan akibat suntikan Vaksin Biru. Vaksin tersebut memerlukan waktu untuk diserap tubuh sampai akhirnya menyebabkan perubahan genetik.


Tidak cukup sampai di sana, sebuah batu kristal yang ditemukan serta dipercaya memiliki kekuatan di luar nalar manusia lantas ditanam dalam tubuhnya menggunakan suatu alat. Jika orang yang menjadi kelinci percobaan tidak sanggup menahan rasa sakit atau memiliki fisik tidak sesuai, sudah jelas maut adalah akhirnya.


Beruntung, sebelum dilakukan uji coba, orang-orang yang menjadi kelinci percobaan harus melewati banyak latihan keras serta pola hidup sehat. Meski demikian, tetap saja ada korban sebab eksperimen manusia super itu.


Membayangkan hari-hari di mana dirinya tersiksa baik secara fisik maupun mental membuat Vord ketakutan. Namun, sekarang ia telah memiliki kemampuan hebat sehingga tak perlu khawatir lagi. Kini, ia bertekad untuk menyelamatkan orang-orang dari mahkluk luar angkasa walau hanya sedikit.


Vord berjalan kembali menuju singgasana sembari menghela napas berat. “Mengalahkan Tan saja belum cukup ...,” Vord bergumam pelan sembari duduk di atas singasana.

__ADS_1


Buku yang ditaruhnya di atas singgasana ia ambil kembali. Berulang kali ia memerhatikan sampul buku berwarna coklat tersebut sebelum akhirnya mengembuskan napas.


“Ti adalah makluk paling merepotkan, melawannya saja sudah membuatku kewalahan. Kuharap mahkluk itu tidak ke sini.” Wajar kalau Vord ingin menghindari konfrotasi langsung dengan Ti, terlebih kekuatan mahkluk tersebut jauh lebih kuat dibanding yang lainnya. “Awalnya kupikir kekuatan Leon sebanding dengan beberapa Tan, tetapi sungguh mengecewakan kalau dia hanya bisa mengalahkan satu Tan. Itupun harus mengorbankan semua kekuatannya.”


Tiba-tiba suara ketukan pintu menggema di dalam ruangan. Vord sedikit tersentak, lalu mempersilakan orang yang mengetuk pintu untuk masuk.


Sungguh tamu yang tidak disangka-sangka, ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Leon. Tampak senyum sinis terbentuk di bibir Vord, sepertinya ia ingin segera mengejek Leon atas kegagalan seminggu lalu.


“Wah, wah, wah. Coba lihat siapa di sini,” ucap Vord untuk mengejek Leon. “Apa gerangan si sombong Leon datang kemari?”


Tidak seperti harapan Vord, Leon terlihat memasang ekspresi datar tanpa menunjukkan keinginan untuk membalas. Tanpa menunggu lama, Leon segera membuka mulut mengalihkan topik pembicaraan langsung ke bagian inti.


Segera setelah pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Leon, Vord langsung tersentak. Ia tidak menyangka kalau Leon benar-benar akan tetap bersikap tenang kepadanya.


“Tanyakan saja, aku akan menjawab jika memang perlu.”


“Katakan padaku, apa tujuanmu selanjutnya?” Sungguh tanpa berbasa-basi, Leon segera menyentuh inti pembicaraan maksud kedatangannya kemari.


“Apa untungnya aku memberitahumu. Lagipula, seperti yang kau lihat sekarang, aku akan melindungi kota ini dengan kekuatanku bahkan meski mengorbankan nyawa.”


“Hari bahagia di sini, sudah berakhir, Vord. Sekarang saatnya kau menunjukkan wajah aslimu pada dunia. Kau terlahir untuk mengubah sejarah, melindungi semua orang. Kekuatanmu bisa melakukan hal yang lebih dari orang lain.”

__ADS_1


“Hahaha, tahu apa kau tentang aku?” Vord lantas beranjak dari singgasannya dan menatap Leon dari jarak dekat. “Kau bahkan tidak mengerti apa-apa, hanya orang yang menjunjung tinggi dirinya sendiri sampai menutup mata untuk melihat dunia.”


“Kau yang menutup mata, Vord. Bersembunyi di sini seolah menjadi seorang pahlawan, tetapi faktanya hanya menumpulkan senjata tajam karena tak pernah digunakan.”


“Jangan menghinaku, brengsek!” Satu pukulan keras dilancarkan Vord ke wajah Leon.


Sigap Leon menangkap pukulan tersebut menggunakan tangan kanannya. Ia hanya bergeming, angin akibat benturan kekuatan pun tercipta. Rambut Leon terurai ke belakang karena embusan angin tersebut, tetapi ekspresi wajahnya tetap sama seperti sebelumnya. Datar, tanpa ada ekspresi apa pun.


Leon, selama seminggu ini telah mengumpulkan begitu banyak informasi tentang Vord serta kota ini. Sedikit banyak ia telah mengerti berbagai hal termasuk masa lalu Vord. Ia sendiri pun tidak menyangka kalau ada orang di luar sana yang tahu tentang Vord, bahkan sampai tahu masa lalunya.


Leon dan Vord hanya bergeming, keheningan menimpa keduanya di dalam ruangan ini. Orang-orang di luar tampaknya mendengar suara gaduh lalu segera menuju ruangan Vord. Begitu banyak prajurit memasuki ruangan dengan panik kemudian melihat secara langsung saat ini serangan Vord telah diblokir oleh Leon.


Tentu mereka sulit mempercayai dan sebagian menganggap kalau Vord tak bersungguh-sungguh. Segera setelah itu Vord menarik kembali tangannya lalu melihat gerombolan prajurit tadi.


“Apa yang kalian lihat?” Tatapan tajam diarahkan Vord pada para prajurit. “Keluar ....”


Hanya dengan beberapa patah kata, para prajurit lantas bergegas pergi, kecuali satu orang, yakni Sun. Vord tidak peduli pada kehadiran orang itu dan segera mengalihkan pandangan ke arah Leon. Tampaknya dia tidak menyangkan pukulannya dapat ditahan oleh Leon terlepas dari serius atau tidak dirinya.


“Vord ... kau harus menyerah melarikan diri.” Kalimat itu memang terlihat seperti Leon tengah memperingatkan Vord, tetapi ini juga berarti Leon memperingatkan diri sendiri. Ia sangat paham kalau saat kesombongan tumbuh dalam dirinya, rasa terlalu percaya diri pada akhirnya hanya membuatnya kehilangan kemampuan.


Semuanya menjadai hening, ruangan seperti memiliki atmosfer tinggi sampai-sampai Sun berkeringat. Leon dan Vord saling menatap tajam dari mata ke mata, keduanya hanya bergeming tanpa terlihat hendak melakukan pergerakan.

__ADS_1


__ADS_2