The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 5 part 2


__ADS_3

“He-Hei! Kenapa kau memandangiku seperti itu?” tanya Lize yang wajahnya sedikit memerah.


Pertanyaannya membuatku tersadar, kalau sebenarnya mata ini tidak berpaling dari dia. Karena hal itu, aku dengan cepat memalingkan wajah ke arah lain, dan berusaha untuk menyembunyikan ekspresiku dari Lize.


“O-Oh iya, kenapa kau membawaku ke sini?” Dengan gugup aku bertanya untuk mengalihkan rasa malu.


“Ah iya, aku lupa memberitahumu.” Dia sedikit tersentak karena mengingat sesuatu. “Sebenarnya kami tidak pernah berniat untuk menyakitimu.”


“Apa maksudmu? Bukankah sudah jelas kalau kalian ingin menghajarku dan menjadikan aku umpan.”


“Hahaha, tidak kusangka kau akan menanggapinya dengan serius.”


Aku memiringkan kepala karena bingung, kenapa dia tertawa mendengar sanggahanku. Dan jujur saja, hati ini terasa sedikit terganggu karena hal itu. Namun, kubiarkan, lalu bertanya lagi.


“Sebenarnya apa maksud dari semua ini?”


Menaggapi pertanyaanku itu, Lize sesegera mungkin menghentikan tawanya, dan mulai menjelaskan.


“Ah, maaf!” Terjadi jeda selama beberapa saat. “Baiklah, dari mana aku memulainya.”


‘Mana kutahu.’ Sesungguhnya aku sangat ingin mengatakan itu, tetapi kata-kata tersebut tidak dapat keluar dari mulut.


“Hm, apa mungkin aku memulainya dengan kejadian 100 tahun lalu,” Sambung gadis itu.


“Hah?” Sontak aku membuka mulut ini dengan lebar, karena tercengang mendengar perkataannya itu.


“Hahaha, aku hanya bercanda. Tidak perlu dianggap serius.”


Untunglah dia hanya bercanda, karena jika memang dia mulai bercerita dari kisah 100 tahun yang lalu, sampai kapan cerita itu akan selesai.


Aku menghela napas karena pasrah akan keadaan. “Ayolah Lize, jangan membuatku semakin penasaran. Cepat ceritakan saja apa yang kau ketahui.”


Sepertinya, aku terlihat sedikit memaksa hingga membuat Lize sedikit terganggu karenanya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, aku sangat penasaran akan semua yang terjadi hingga saat ini.


Setelah beberapa saat suasana hening dan canggung, Lize akhirnya menghela napas, lalu berkata, “Jika aku boleh jujur, aku pun masih belum tahu pasti akan semua yang terjadi di hutan ini. Hanya saja, mungkin aku lebih dulu dikirim ke sini daripada dirimu.”


“Ya, aku juga tahu ten—”


Tidak, tunggu dulu! Apa maksudnya ini? Mungkinkah semua orang yang dikirim ke sini adalah mereka yang ingatannya sudah dihapus?

__ADS_1


Ah ... itu tidak mungkin, karena Wolf masih memiliki ingatannya pada waktu itu. Jadi, sudah jelas kalau ini salah. Selain itu, kenapa Lize dan teman-temannya dapat melihat di dalam kegelapan, tanpa membawa penerangan.


Dalam sesaat, kepala ini menjadi pusing, pandangan mata berputar-putar, dan sedikit berkabut. Tak lama kemudian, sebuah foto yang tidak tampak dengan jelas, muncul di dalam memori ingatan. Setelahnya, telinga ini mendengar suara jeritan yang entah dari mana.


“Hei!”


Satu pukulan yang tidak begitu kencang, menghantam pundakku hingga membuat aku terkejut setengah mati.


“Haah, haah, haah ....” Napasku entah bagaimana, menjadi terengah-engah dan keringat yang begitu deras, bercucuran di sekujur tubuhku.


Perlahan-lahan, aku memalingkan pandangan ke arah belakang, dari sini aku dapat melihat seorang gadis bermata biru, sedang menatapku dengan heran.


“Ah, maafkan aku, Lize.” Aku berkata padanya, dengan penuh penyesalan.


Sebuah senyum yang tampak dipaksakan, muncul di wajah Lize. Namun, bibirnya yang pucat dapat memberitahu diri ini, kalau sebenarnya dia mungkin sedang ketakutan saat melihat raut wajahku sebelumnya.


“Itu, kenapa kau memasang wajah yang menyeramkan seperti tadi?”


Sebuah pertanyaan dari mulut Lize itu, membuat aku tidak perlu lagi mengkonfirmasi kebenaran dari tebakanku, beberapa waktu yang lalu.


Aku memalingkan wajah ke arah lain, lalu menjawab, “Ma-Maaf, aku tidak bermaksud begitu.”


Sebelum Lize dapat melanjutkan perkataannya, sebuah teriakan yang berasal dari dalam gua, membuat ia berhenti berbicara.


“Hei!” Seru suara itu, dengan lantang.


Menanggapi hal tersebut, aku dan Lize langsung memalingkan pandangan ke arah gua, dan menatap dengan terheran-heran.


“Hm, siapa itu?” gumamku sembari terus melihat ke arah gua.


Tak memerlukan waktu yang lama, seorang pemuda tinggi, berambut hitam yang dipotong pendek serta ditata dengan rapi, menggunakan kaos berwarna merah dan celana panjang hitam, sama seperti yang dipakai oleh Lize.


Dengan jarak beberapa langkah di depan kami, pemuda itu menghentikan langkahnya, lalu berbicara dengan nada tegas. “Lize, kenapa kau malah membawa bocah ingusan ini ke sini?”


“Ya, itu karena ....”


Lize terdiam beberapa selama beberapa saat. Dia tampaknya sedang memutar otak, agar dapat menyampaikan alasan yang dapat diterima oleh si pemuda.


Melihat itu, hati kecilku merasa tidak tega, kalau Lize harus menanggung beban ini seorang diri. Lagipula, dia melakukan ini untuk membuat pikiranku tenang, dengan melihat pemandangan taman bunga, meskipun hanya sekedar ilusi.

__ADS_1


Aku melangkahkan kaki ini, lalu berhenti tepat di sebelah kiri Lize. Dia terlihat bertanya-tanya, kenapa aku mau membantunya menyelesaikan masalah. Namun, aku mengacuhkan hal itu, dan memulai negosiasi dengan si pemuda.


“Hei, Bung! Tenanglah sedikit! Kita bisa menyelesaikan ini dengan cara damai.” Kucoba untuk membujuk pemuda yang ada di hadapanku.


Pemuda itu menaikan salah satu alisnya, lalu menjawab dengan sebuah pertanyaan. “Apa hubungan masalah ini denganmu?”


Aku tahu dia akan menanyakan hal tersebut, makanya aku sejak awal sudah memikirkan suatu alasan, yang mungkin dapat membuatku terlibat dalam masalah ini.


“Ya, itu karena, dia membawaku ke sini ketika aku merengek padanya.”


“Pfft ... hahahaha, kau sedang melawak, ya.”


Pemuda itu malah tertawa setelah mendengar jawabanku. Akan tetapi, aku masih saja tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Karena kupikir, aku tidak mengatakan kalimat yang aneh.


Plak.


Aku dengan sigap memalingkan pandangan ke arah suara itu, dan melihat Lize yang memukul wajah si pemuda, dengan tangan kanan.


Jujur, aku benar-benar tidak mengerti kenapa mereka bertingkah seperti ini. Karena aku sungguh tidak tahu apa yang salah dari ucapanku barusan.


“Ada apa sih?” tanyaku dengan penasaran.


“Kau belum mengenal sifat Lize yang sebenarnya, jadi pantas saja kau tidak tahu. Haha,” jawab si pemuda setelah puas tertawa.


“Lah? Memangnya bagaimana sifat aslinya?”


Sebelum si pemuda sempat menjawab, aku mendengar suara jari yang dibunyikan, dari arah samping.


Ya, itu benar, orang yang membunyikan jari itu, adalah Lize. Sorotan matanya terlihat sangat tajam dan diarahkan pada si pemuda. Menanggapi tatapan tersebut, si pemuda langsung menciut dan menundukkan kepala. “Iya, iya, aku tidak akan mengatakannya.”


Heh? Bukankah sekarang sudah telat untuk mengatakan itu, karena walaupun aku tidak diberitahu, diri ini sudah dapat menebak bagaimana sifat sebenarnya Lize hanya dengan beberapa pentunjuk beberapa waktu lalu.


Hush!


Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang dari depan, hingga membuatku memejamkan mata. Bersamaan dengan itu, aku dapat mendengar sorakan burung gagak yang sepertinya sedang dilanda kepanikan.


“Groarr!”


Sebuah raungan yang begitu keras, langsung membuat diri ini kembali teringat dengan kejadian itu, yang tidak lain adalah kejadian saat kami sedang dipermainkan oleh seekor monster besar.

__ADS_1


“Ah! Apakah lagi-lagi aku bernasib sial,” ucapku karena sudah pasrah akan keadaan.


__ADS_2