The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 3 part 1


__ADS_3

“Aku setuju untuk menjadi rekanmu.”


Satu rangkaian kata, yang menentukan jalanku di masa depan, telah terlontar. Baik atau buruknya hari esok, kini ditentukan oleh kalimat tersebut. Memang, aku bisa saja berhianat demi keselamatan diri sendiri, tetapi kecil kemungkinan itu akan terjadi.


“Aku sudah menduga kau akan menjawab seperti itu, karena cambuk di tanganku sangat mengancam nyawamu.” Mahkluk tersebut berjalan selangkah ke depan. “Kenapa kau mau bersekutu denganku?”


Rasa curiga pasti akan terbersit di benaknya, akan buruk bagi dirinya jika aku menjadi sekutunya hanya karena tak mau mati sekarang. Namun, aku mempunyai alasan kenapa mau bersekutu dengannya.


“Itu sangat mudah. Aku mau bersekutu denganmu karena sudah tak mempunyai rekan lagi. Semua temanku mati akibat serangan monster waktu itu.”


“Sepertinya kita sama-sama memiliki nasib yang malang.”


“Sepertinya begitu.”


Tak lama kemudian, aku teringat pada sesuatu. “Ngomong-ngomong, siapa namamu?”


“Astaga, aku lupa kalau aku belum memperkenalkan diri. Namaku Darwis. Senang bertemu denganmu, Leon.”


“Senang bertemu dengamu juga, Darwis.”

__ADS_1


Kami saling bersalaman selama beberapa saat, lalu segera melepasnya dan duduk di bawah sebatang pohon. Sungguh malam yang damai dan tanpa ketegangan, aku berharap semua ini dapat berlangsung lama.


Jika diingat lagi, ini sudah ke sekian kali aku mengharapkannya, dan selalu saja berakhir buruk. Apakah malam ini akan sama? Atau mungkin ada sebuah keajaiban? Kita tunggu saja semuanya berlalu.


“Semuanya tidak selalu berakhir baik, bukan?”


“Bahkan, semuanya berakhir buruk.” Aku menyetujui.


Tiba-tiba, suara gemerisik semak-semak yang bergoyang, terdengar oleh telinga. Dengan sigap, pistol kuambil dari balik pakaian, lalu berdiri sambil menerawang ke sekitar. Tidak ada yang dapat dilihat oleh mata, kecuali begitu banyak tumbuhan hijau yang membentang.


Darwis yang ada di sebelah kananku, juga mulai bersiap dengan cambuk di tangannya. Kami menjadi waspada, tatkala ada bahaya yang mengintai. Ujung pistol kutodongkan ke depan, tidak ada siapa pun di sana. Namun, firasat mengatakan kalau akan segera terjadi sesuatu.


Bukan sebuah firasat buruk atau baik, ini semacam intuisi yang mengatakan ada hal yang segera menghampiri. Tidak ada salahnya untuk waspada karena ini, bukan?


Aku masih menerawang sekitar, bukan berharap akan ada yang terjadi, tetapi hanya untuk memastikan. Detik terus berganti, tidak ada yang sungguh terjadi. Hanya sebuah deruan angin dingin yang berhembus, menambah kesejukan di malam hari.


“Sudahlah.” Darwis kembali duduk di bawah pohon. “Tidak akan ada yang terjadi.”


Meskipun dia telah menyuruhku untuk bersikap santai, aku masih saja waspada sambil mengamati daerah sekitar. Tiba-tiba, mata melihat bayangan yang melintas dalam gelapnya malam di antara pepohonan. Kaki langsung melangkah, menerjang semak-semak yang ada di depan.

__ADS_1


“Di mana dia?”


Kaki masih terus melangkah dan terus menambah kecepatan. Bayangan itu semakin jauh ke depan. Namun, aku masih tak menyerah untuk mengejarnya. Sementara terus berlari, tangan kiri mengambil pistol lain yang ada di balik pakaian. Senapan panjang masih terselepang di tubuh, belum digunakan.


Suara langkah kaki yang menginjak ranting dan dedaunan kering, menggema di telinga. Mata menatap lurus ke depan searah dengan ujung pistol. Jari telunjuk sudah sangat siap untuk menarik pelatuk, tetapi diri ini masih belum mau menariknya.


Kian lama mengejar, sosok seseorang yang mengenakan jubah hitam, tampak jelas di mata. Sebelum aku sempat menarik pelatuk untuk menembak, orang berjubah itu tiba-tiba melemparkan sesuatu dari tangannya. Seketika, cahaya berwarna putih, terpancar dari benda tersebut hingga membutakan mata. Beruntung, aku menghalangi cahaya itu masuk ke indra penglihatan menggunakan kedua tangan.


“Sial, dia berhasil lolos,” keluhku, ketika kilatan itu menghilang dan kaki ini berhenti.


Lalu, Darwis pun datang dari arah belakang, dan langsung menepuk pundakku. “Siapa yang kau kejar itu?”


Dia sedang meledekku, ya? Mana mungkin aku tahu siapa itu.


“Hanya, seseorang dengan jubah.”


Tanpa mau berlama-lama lagi, pistol kumasukkan kembali di balik pakaian, kemudian berbalik. “Sepertinya kita harus saling bergantian tidur malam ini.”


“Kau yakin?”

__ADS_1


Walu dia tidak menjelaskan secara rinci, pertanyaannya itu pasti bersangkutan dengan kepercayaan. Siapa yang tahu jika salah satu dari kami berhianat. Namun, aku cukup yakin itu tidak akan terjadi. Alasannya sederhana, jika memang ia berniat untuk berhianat, mana mungkin dia mau repot-repot membawaku kemari.


Mendadak, langkah ini terhenti. Aku langsung terpikir pada sesuatu, mengapa dia tampak sangat tidak waspada? Bukankah seharusnya ia melepas semua senjata yang menempel di tubuhku, sebelum akhirnya memutuskan untuk bernegosiasi. Ini membuatku semakin takut dengan cambuk baja yang ada di tangannya.


__ADS_2