The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 1 : Diriku Yang Baru


__ADS_3

Sebuah lapangan luas yang berantakan akibat pertempuran beberapa waktu lalu, masih dapat terlihat. Aku menarik diri mendekati tubuh monster besar berbulu hitam, dengan dua buah cakar yang cukup panjang, di kedua tangan. Sesaat, mataku mengamati tubuh sang monster.


"Sepertinya, kulit mahluk ini sangat tebal." Berpikir sejenak, aku pun melompat ke atas perut monster tersebut. "Hm ... andaikan aku masih mempunyai granat."


Kuinjak-injak perut monster itu, sembari menerka-nerka seberapa tebal kulitnya. Tak mau menunggu lebih lama, langsung kutancapkan salah satu cakar yang aku bawa.


Kutumbuk perut monster tersebut menggunakan cakar, tetapi dia tidak tergores sedikit pun. "Haih, menyebalkan. Aku sudah telanjang bulat tanpa ada pakaian, dan berharap dapat menemukan sesuatu untuk kukenakan dari dalam perutmu, monster sialan." Mendengus karena kesal, mulutku tak berhenti mengupat. "Kenapa kulitnya begitu keras sih?"


Percuma, tidak ada benda yang dapat melukai tubuh monster ini. Apa yang harus kulakukan sekarang?


Sejenak, aku teringat pada sesuatu. "Bukankah masih ada sebuah granat cadangan di dalam tas Lize?"


Aku menyeringai dan langsung berlari ke tempat di mana potongan mayat para temanku berada. Mencari selama beberapa saat, akhirnya aku menemukan sebuah tas besar yang sudah tak layak pakai.


"Sudah kuduga, masih tersisa sebuah granat dengan daya ledak lebih besar dari sebelumnya," gumamku sembari mengambil sebuah granat di dalam tas berwarna hitam. "Ini sudah cukup untuk membuat luka besar di perut si monster."


Segera aku bergegas menuju ke arah monster tadi. Ketika kembali berdiri di atas perutnya, sesaat aku terdiam, lalu berpikir.

__ADS_1


Hm ... bagaimana caranya agar aku dapat melukai monster ini? Meledakkan granat di atas perutnya mungkin tidak akan berfungsi. Satu-satunya cara untuk melukainya adalah dengan meledakkan granat ini di dalam luka yang ada pada tubuhnya.


Tidak ada cara lain, aku akan mencoba rencana ini saja. Kulemaskan badan, lalu mulai memutar otak untuk berubah menjadi sosok gelap.


Suasana menjadi hening, mataku tertutup, dan badan dapat merasakan embusan angin tengah menerpa. Ketika aku kembali membuka mata, tidak ada yang berubah dari diriku. "Ini aneh." Aku memeriksa sekujur tubuh. "Kenapa tidak ada perubahan?"


Apa yang dapat kulihat hanyalah kulit berwarna putih kemerahan, dada bidang, serta otot perut dengan enam lipatan. Ada apa? Bukankah seharusnya aku bisa berubah?


Aku pun duduk bersila di atas perut monster berbulu kasar. Sekali lagi aku memutar otak agar dapat menemukan jawaban atas semua ini.


Baiklah, mari kita pikirkan rangkaian kejadian beberapa waktu lalu. Hal pertama adalah ketika diriku berubah wujud tanpa sadar. Mungkin saat itu ada kesalahan, tetapi apa?


Perlahan tapi pasti, aku akhirnya menemukan sebuah jawaban. Aku berdiri, mulai memutar-mutarkan cakar panjang di tangan kiri. "Ada satu hal yang pasti!" Aku bergumam pelan.


Dengan cepat, aku menusukkan cakar panjang di tangan ke perut sang monster. Tangan kiriku terluka akibat cakar tajam itu. Namun, pengorbananku setara, sebab perut sang monster, terluka juga, walau tidak parah.


Mungkin ini memang sedikit merugikan, tetapi tidak perlu khawatir. Aku semakin memperlebar luka di perut monster itu, lalu memasukkan granat yang telah aktif ke dalamnya.

__ADS_1


Aku langsung melompat sedetik setelah memasukkan granat ke dalam perut si monster. Tanpa perlu waktu lama, granat yang kuaktifkan pun meledak.


Darah mencurat keluar bersama beberapa daging. Asap hasil ledakan juga membumbung tinggi. Menyeringai dengan senyum lebar, aku langsung melompat ke atas perut monster itu.


"Meskipun tidak dapat berubah, aku akan tetap hidup asalkan mempunyai senjata."


Luka di tangan kiriku terasa perih ketika mengangkat beberapa organ dalam, si monster besar. Darah berwarna merah membasahi kedua tangan hingga badan. Sedangkan bau amisnya memenuhi indra penciuman.


Selang beberapa saat, aku pun turun ke tanah sambil membawa sebuah kantong berwarna hitam yang bagian mulutnya terikat rapi. "Hutan aneh. Di dalam perut hewan aku dapat menemukan sesuatu yang berharga."


Kubongkar kantong hitam besar itu, lalu menemukan sepasang pakaian, serta satu jaket berwarna hitam. "Hm, lumayan." Aku pun mengenakan itu semua.


Selain pakaian, aku juga menemukan sebuah pistol serta beberapa kotak peluru yang berbeda jenis. Setelah mengenakan celana panjang berwarna hitam, dengan pakaian putih polos dilapisi jaket hitam bertudung, aku langsung bergegas menuju tempat di mana mayat teman-temanku berada.


Tanpa mempedulikan hamparan mayat yang hanya tersisa beberapa potongan itu, aku lantas mengambil sebuah sebuah pistol dari sana. Masih berjalan di lapangan luas, akhirnya aku menemukan senapan panjang yang kugunakan sebelumnya.


Kutambahkan tali pada senapan tersebut, lalu menyelempangkannya ke tubuh sembari berjalan menuju hutan. "Semuanya baru akan dimulai. Akan kubuktikan kalau aku dapat bertahan dan keluar dari hutan mengerikan ini."

__ADS_1


Sebagai permulaan, di mana aku harus memulai? Mungkin ke arah utara saja. Di sana pasti akan ada banyak orang berkumpul. Aku jadi tidak sabar.


__ADS_2